
“Ah benarkah??” Balas kesatria Johny sambil menggaruk-garuk ringan kepalanya yang sebenarnya tidak terlalu gatal. “Tentu, mari tuan kesatria kekamar saya” Ajak Ela yang langsung memutar tubuhnya kearah pintu masuk dan itu membuat kesatria Johny ketakutan, kebingungan dan deg-degan.
“Ke kamar??” Gumamnya sendiri dan wajahnya terlihat merah merona seperti kepiting rebus. Saat mereka tiba didalam kamar Ela, kesatria masih terlihat gugup luar biasa. Pikiran mesumnya mulai memenuhi isi kepalanya. Ia bahkan belum memantapkan mentalnya untuk bisa melakukan itu dengan Ela. Apakah kesuciannya akan berakhir ditempat ini dan hari ini pikirnya.
Ela mempersilahkan kesatria Johny untuk masuk. Johny memang masuk kedalam kamarnya tapi ia tetap berdiri dan tidak duduk dimana pun padahal ada dua kursi yang sudah tersedia disana. Ela tampak bingung dengan ekspresi kesatria Johny yang tetap berdiri ditengah-tengah kamarnya.
“Tuan kesatria Johny silahkan duduk” Pinta Ela dan Johny pun duduk diatas ranjangnya, seakan-akan ia sudah bersiap diri untuk dimakan oleh Ela. Ela yang saat itu sedang mencari beberapa tanaman obat yang ia beli didalam lemarinya seketika heran melihat kesatria Johny yang duduk diatas ranjangnya.
“Tuan kesatria Johny, sepertinya agak sulit jika kita melakukannya diatas ranjang” Ujar Ela yang diterima tuan kesatria Johny lebih kikuk lagi.
“Ahh lalu apakah ia ingin melakukannya ditempat yang lain??”Pikirannya semakin tidak terkendali lagi. “Ternyata nona Ela sedikit agresif” kedua pipi Johny benar-benar merona merah “Apakah aku harus mandi terlebih dahulu?. Ah bagaimana ini?.”
“Tuan kesatria Johny kemarilah” Panggil Ela yang sudah duduk diatas kursi. Ia sudah meletakkan beberapa tanaman obat diatas meja diantara dua kursi yang ada dikamarnya. Ela bingung kenapa kesatria Johny sedikit berkeringat dan gemetar seperti orang yang ketakutan. Jarang sekali ia melihat seorang kesatria yang memiliki mental penakut.
Namun disaat berlainan, ketika kesatria Johny melihat beberapa tumpukan tanaman tertata diatas meja, pikirannya mesumnya hilang seketika. Ternyata ia salah paham mengartikan ajakan Ela masuk kedalam kamarnya untuk melakukan hal yang ia pikirkan tadi. Rupanya Ela bermaksud untuk mengajarkannya beberapa contoh model tanaman obat yang akan mereka cari besok dihutan.
“B-baik nona” Kesatria Johny pun datang dan duduk dihadapan Ela yang hanya dibatasi oleh meja diantara mereka. Dan disaat itulah mereka mulai focus. Ela mengenalkan beberapa nama contoh tanaman yang ada dimeja tersebut.
“Nah tanaman yang seperti kerucut ini yang biasa dipakai dokter sebagai pengganti obat penghenti darah dan kebanyakan dipakai saat-saat kritis seperti saat perang. Di Skanea karna tanaman obat ini sangat jarang, jadi Putera Mahkota menyediakan lahan besar untuk tanaman obat ini. Namun belum bisa kami ambil daunnya karna masih kecil”
“Saya sering melihat tanaman ini saat saya berburu dihutan nona Ela. Ternyata tanaman ini rupanya memiliki manfaat yang sangat besar”
__ADS_1
“Pada saat tanaman ini dilekatkan kearea luka yang sulit dihentikan darahnya, tanaman ini akan ditumbuk terlebih dahulu barulah kita oleskan. Hanya saja pasien tersebut harus menahan perih karna disaat tu ekstraknya sedang mulai bekerja” Tutur Ela panjang lebar.
Pelajaran yang lumayan memakan waktu tersebut akhirnya berakhir dan kesatria Johny banyak mendapat ilmu medis dari Ela.
Keesokan harinya mereka pun ke Hutan untuk mencari beberapa tanaman obat. Kali ini Ela jarang mendapat pertanyaan ini itu dari Johny. Walau pun ada sesekali karna ada yang tidak diketahui Johny. Ya maklum karna dihutan ada ribuan bahkan jutaan tumbuhan yang berbeda-beda.
“Nona, jangan lupa nanti malam nona akan bertemu dengan Putera Mahkota. Saya sudah menyampaikannya kepada beliau bahwa nona akan bertemu dengan beliau”
“Baik tuan kesatria Johny” Balas Ela.
Klatak klatak klatakk..
Suara lari kuda cukup terdengar ditelinga mereka berdua. “Apakah ada yang sedang berburu disini??” Tanya Ela bingung.
“Ahh apa??” Ela langsung terhenjak kaget saat Johny belum menuntaskan kalimatnya dan hanya mendengar kalimat terakhirnya saja yang membuat Ela ketakutan.
“Maksud saya ular daun nona. Disini kebanyakan hanya ada ular hijau yang tidak berbisa. Hanya Hutan diwilayah barat yang banyak terdapat hewan buas dan pasti kebanyakan kesatria dan bangsawan berburu kearah sana. Didekat sini hanya ada padang rumput luas. Saya rasa mereka mengarah kesana”
“Maksud tuan kesatria apakah mereka sedang berlatih berkuda dipadang rumput tersebut??” Tanya Ela
“Saya rasa mungkin nona, karna kadang tempat itu juga dipakai untuk pelajar berkuda bagi pemula” Ujar kesatria Johny.
__ADS_1
“Oh begitu”
“Cat jangan terlalu cepat, kau masih belum pandai menungganginya” Ujar seseorang yang samar-samar terdengar ditelinga Ela.
“Deg” Detak Jantung Ela tiba-tiba berdenyut kencang sesaat ia mendengar seseorang memanggil sebuah nama yang tidak asing baginya. Meski pun samar-samar tapi ia yakin seseorang itu menyebut nama Cat.
“Ada apa nona??” Tanya Johny heran melihat Ela yang tiba-tiba terdiam.
“Apa tuan kesatria tidak mendengar sesuatu??” Tanya Ela.
“Sesuatu, maksudnya suara kaki kuda?” Tanya Johny menambahkan.
“Bukan tuan kesatria, tapi suara orang-orang tersebut. Sepertinya mereka mengucapkan sesuatu” Kebetulan Johny tidak dapat mendengar apa-apa selain suara kaki kuda yang ia dengar, jika pun ada suara lain, itu tidak terlalu jelas baginya.
Bersambung
@yulia.fernanda__
Jangan lupa dukung terus dengan cara vote, love, like, sharing plus komen. Dan baca juga
· Love in Seoul City
__ADS_1
· Cerita Julia dan Korea Selatan
· Cerita Julia dan Korea Selatan 2.