The Future Princess

The Future Princess
Episode 97 / Surat dari kesatria.


__ADS_3

“kau ingin menjadikan Putri yang hilang itu menjadi Selirmu???. Apa akal sehatmu sudah ternodai ha??” Seluruh ruangan mendominasi suara lantang Baginda Raja yang naik 1 oktaf dari biasanya. Ia langsung menemui anaknya sesaat ia mendengar bahwa Felix akan menjadikan Catrin sebagai Selir.


“Mohon ampun Baginda Raja. Saya akan melindunginya dari hal apa pun. Jika wanita itu menjadi Selir, saya berjanji untuk menutup identitasnya dari public. Biarkan sekali ini saja Baginda, saya ingin wanita itu berada disisi saya.” Felix memohon dan menundukkan tubuhnya dihadapan sang Ayah yang masih intens melihatnya seolah-olah ingin menerkan sang anak.


“Apa kau gila??. Apa kau mulai tidak waras??. Menurutmu apa yang akan terjadi kalau kerajaan Skanea mengetahui keberadaan wanita itu?. Apa kau pikir kerajaan kita bakal selamat??.”


“Mereka bisa saja mendeklarasikan perang terhadap kita”


“Kau tahu posisi wanita itu apa??. Dia adalah tunangan Putera Mahkota Andrea. Laki-laki yang kita temui waktu itu. Laki-laki yang mencari keberadaan calon Putri Mahkotanya. Itu berarti posisi wanita itu penting baginya” Kaisar sedikit berteriak disaat akhir kalimat.


Felix hanya terdiam. Tidak dapat membalas perkataan Ayahnya yang memang menurutnya itu masuk akal tapi bagi nalurinya itu diluar nalar dan kehendaknya. Posisi wanita itu juga berbeda baginya. Ia tidak bisa melepaskan wanita itu begitu saja. Wanita itu seperti wine baginya, memabukkan dan membuatnya semakin mencandu.


Kaisar pun berbalik dan pergi meninggalkan ruangan itu penuh dengan kekesalan. Ia telah salah mendidik anaknya.


Suasana latihan berkuda akan berakhir. Awan terlihat mulai menampakkan perubahan.


“Ini sudah sore, kita harus kembali dan besok kita lanjutkan kembali” Ujar Banny yang saat itu Cat juga ikut menengadahkan pandangannya kelangit. Tampak langit biru mulai kekuningan dan akan berganti menjadi gelap. Mereka pun mulai berangsur-angsur meninggalkan Hutan secara bersamaan.


Dan sesampainya di Mansion, mereka turun dari kuda masing-masing dan menyerahkannya kepada kesatria untuk dibawa kedalam kandang. Cat dan Banny pun memasuki kediaman bersama.


“Apa kakak besok bisa meluangkan waktu lagi untukku?. Aku ingin belajar lebih banyak lagi” Ujar Cat yang membuat langkah kaki Banny terhenti.


“Kakak tidak bisa janji sepenuhnya untuk mengajari, tapi kakak akan mencarikan kau guru jika kau ingin berlatih.” Banny berfikir sejenak.

__ADS_1


“Untuk apa kau belajar itu Cat??. Bukankah kau nantinya akan masuk ke istana??” Tanya Banny curiga.


“Aku hanya ingin mengasah kemampuanku kak. Aku tidak ingin bergantung pada kesatria saja. Aku juga ingin bisa melindungi diriku sendiri” Jawabnya tanpa membuat siempunya menjadi curiga.


“Oke baiklah. Tidak buruk juga jika seorang wanita belajar bela diri. Ayo kita masuk.” Ajak Banny dan Cat pun membalas dengan anggukan ringan berjalan beriringan dengan Banny.


Malam hari Skanea begitu dingin dan serasa menusuk, tapi tidak begitu bagi Ela. Ia menyendiri dibalkon kamarnya. Memperhatikan beberapa pepohonan menjulang rendah terbentang dihadapannya. Ia masih tidak percaya bahwa teman/sahabat yang ia rindukan pergi meninggalkannya selamanya.


Tok tok tok… Suara ketukan pintu mengalihkan pikirannya.


“Nona, ini saya pelayan Naen”


“Masuklah” Balas Ela dari Balkon dan pelayan itu pun masuk setelah mendapat izin lalu mendekati Ela yang masih berada dibalkon tanpa menggeser posisinya dan hanya mengalihkan pandangannya kearah pelayan itu.


“Ada apa Naen??” Tanya Ela sambil melirik sepucuk surat dikedua tangan pelayan tersebut.


“Ah terima kasih Naen” Ujar Ela sambil meraih amplop tersebut.


“Kalau begitu saya permisi nona”


“Silahkan” Balas ela tanpa mengalihkan pandangannya dari sepucuk surat tersebut. Ia melirik stempel yang tampak tidak asing baginya.


“Ini stempel kekaisaran Imperial” Gumam Ela dan ia pun mulai membuka isi amplop tersebut.

__ADS_1


Kepada Nona Angela.


Ini saya Johny, pengawal pribadi Putera Mahkota Felix, tuan kesatria yang selalu nona panggil. Bagaimana kabar nona Angela??


Saya turut berduka cita atas meninggalnya tuan Putri Catrin sekaligus sahabat nona yang nona cari sebelumnya dikekaisaran kami.


Belum lama ini, saya dan beberapa kesatria lainnya pergi kehutan untuk ikut mencari beberapa tanaman herbal yang mungkin saja nona butuhkan untuk pengobatan disana. Saya mengirimkan beberapa tanaman tersebut bersama dengan surat ini. Semoga nona Ela menyukainya.


Ela terkejut membaca isi bait kalimat terakhir yang ia baca.


Semoga tanaman yang ini dapat membantu nona nantinya. Walaupun tidak banyak tapi saya janji akan kembali mencari beberapa tanaman obat lainnya untuk nona.


Ela pun langsung terharu dan mengibas-ngibas rendah tangannya sambil bergumam “Ahh jangan lakukan itu. Ahh apa yang harus aku lakukan. Aku harus membalas surat ini dan berterima kasih kepadanya” Raut wajah Ela berubah semu merah. Ia tidak menyangka tuan kesatria tersebut mengiriminya sebuah surat.


Apakah saya boleh menanyakan satu hal nona??. Jika memungkinkan, apakah nona mau menjadi teman berbalas surat saya??. Jika nona tidak ingin, nona tidak perlu membalasnya.


Bersambung


@yulia.fernanda__


Jangan lupa dukung terus dengan cara vote, love, like, sharing plus komen. Dan baca juga


·         Love in Seoul City

__ADS_1


·         Cerita Julia dan Korea Selatan


·         Cerita Julia dan Korea Selatan 2.


__ADS_2