
“M-maafkan saya Yang Mulia, saya hanya tidak percaya diri untuk menampakkan wajah saya didepan umum” Pangeran Ren dan Putri Rani melihatnya penuh intens.
“Huuffttt” Kenapa kau harus tidak percaya diri?? Bukalah, apakah kau itu sangat jelek jadi kau tidak percaya diri menampakkan wajahmu?” Tanya Rani kembali.
“Ahh Maafkan saya Yang Mulia Puteri”
Tidak hanya kedua anak kembar tersebut, seluruh kesatria yang melihat pun juga ikut dibuat penasaran. “Pastinya bukan hanya aku dan kakakku yang penasaran dengan wajahmu, tapi para kesatria ini juga. Jadi bukalah. Kalau memang kau merasa wajahmu jelek. Kau harus percaya diri saja. Jangan takut” Cat tersanjung dengan kalimat Puteri Rani yang menurutnya dewasa dan tidak sesuai dengan umurnya yang masih kecil.
“Terima kasih atas kebaikan hati Yang Mulia Puteri. Lain kali saya tidak akan menggunakan penutup wajah ini lagi” Ujar Cat.
“Kalau begitu lepaslah. Kami disini penasaran” Gumam Rani kembali. Seperti seorang perwakilan yang menjadi juru bicara diantara rasa penasaran yang lain.
“Ahh kalau kau tidak bisa membukanya tidak masalah, apakah kau mau ikut bergabung bersama kami??” Pangeran Ren mengalihkan situasi. Ia tampaknya tak terlalu penasaran dengan wajah dibalik renda yang Cat kenakan.
“Apa Yang Mulia kakak mengajaknya latihan bersama kita??” Tanya Rani bingung.
“Dari yang aku dengar, Kakak membawa seorang wanita yang tidak jelas asal-usulnya. Apakah itu kau???” Tanya Pangeran Ren penuh selidik. Jamilah pun dengan sigap menjawab rasa penasaran Pangeran Ren. “I-Itu benar Yang Mulia. Saya lah yang ditunjuk Yang Mulia Felix untuk menjadi pelayannya.” Jawab Jamilah menggebu-gebu tanpa mengatur expresinya terlebih dahulu.
“Wahh jadi benar kau itu orangnya. Hmm. Apakah kau bisa memainkan alat perang yang kau kuasai??” Tanya Ren.
“S-saya tidak yakin Yang Mulia. Sesuatu telah terjadi pada diri saya dan itu membuat saya lupa ingatan. Yang saya ingat hanyalah nama saya sendiri tanpa”
“Kau hanya mengingat nama mu?? Lalu kau berasal dari keluarga mana, kan dengan nama kau bisa tahu kau berasal dari keluarga siapa?” Tanya Rani bingung.
“Saya hanya ingat nama depan saya Yang Mulia Puteri” Jawab Cat dengan mimik sedikit sedih. Rani pun langsung tak enak dengan kalimatnya yang membuat jawaban Cat sedikit mengiba. “Ahh baiklah. Kalau begitu bagaimana kalau kau ikut kami latihan, kau pilih saja latihan apa yang rasanya tak asing denganmu”
Cat pun akhirnya menerima tawaran dari kedua adik kembar Felix tersebut. Diatas meja terdapat beberapa alat perang yang biasa dipakai latihan para kesatria dan anggota kerajaan. Ada pedang, panah, pistol dan tali kuda. Cat berusaha memilih mana yang menurutnya tak asing. “Bolehkah saya memilih panah?” Tanyanya kepada kedua anak kembar tersebut.
“Tentu saja. Kalau kau pilih itu. Kami pun juga akan pilih yang sama” Ungkap Ren.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun latihan memanah bersama. Dua adik kembar dan Cat telah siap dititik yang telah disiapkan. Cat pun mulai mengangkat busurnya dan mulai menari anak panah kebalakang telinganya. Melihat cara Cat menggunakan alat panah, langsung direspon oleh Puteri Rani. “Sepertinya dulu kau pernah belajar panah” Gumam Rani dihadapan Cat.
“Ayo kita lihat, apakah kau bisa menggunakannya atau tidak”
Cat pun mulai focus pada titik sasarannya yang agak jauh dari tempat ia berdiri.
Flashback
“Nah posisi tangamu harus seperti ini Cat dan kedua kakimu harus sejajar dengan bahu”
“Flashback off
Cat pucat dan terlintas dalam pikirannya yang tiba-tiba mengingat kejadian masa lalu. Sayangnya wajah suara lelaki itu tak jelas dalam ingatannya. Cat pun mulai kembali focus dan langsung melepaskan anak panahnya ke titik sasaran.
“Tap” Busur anak panah tepat sasaran dititik utama.
“Tampaknya kau sering menggunakan ini”
“Wahhhhh” Ujar beberapa Prajurit yang melihat termasuk Jamilah sendiri.
Kali ini Pangeran Ren dan Putri Rani yang selanjutnya.
“Tap, tap”
“tepat sasaran”
“Apa?? Hanya tepat sasaran??? Apa tidak kena titik tengah??” Jerit Rani kesal.
Cat kembali mencoba menarik anak panahnya kembali. Anak panah disini terlihat berbeda. Ujung kaitnya memiliki semacam sayap kecil sebagai pegangan.
__ADS_1
“Suuuttt Tap” Kain renda yang terpasang diwajah Cat ikut terbawa oleh sayap panah dan sehingga wajahnya jadi terlihat jelas. Cat terkejut dan nyaris membulatkan kedua matanya heran.
“Sempurna” Semua kesatria dan kedua anak kembar tersebut langsung reflek melihat kearah Cat.
“Wauuuuu” Rani takjub.
“Wahhhh” Para kesatria mulai tak tenang. Mereka akhirnya bisa melihat rupa Cat yang asli yang terlepas dari kain renda itu. Semua kesatria langsung terpesona ketika melihat sosok Cat.
“Can…” Ren langsung membungkam mulutnya yang hampir tak sadar menyebut Cat cantik.
“Kau ternyata cantik. Kenapa kau malah menutupi wajahmu??” Tanya Rani tak habis pikir. Kesatria yang berada didekatnya pun tak memejamkan matanya sekedip pun ketika melihat wajah Cat.
“Saya hanya tidak percaya diri Yang Mulia” Jawab Cat.
“Ahh aku paham kenapa kau begitu” Dengan melihat expresi para kesatria saja dia sudah paham kenapa Cat memakai penutup wajah. Padahal orang yang menyuruhnya menutup wajah tersebut adalah tak lain Jamilah
sendiri, pelayan Cat.
Bersambung
@yulia.fernanda__
Baca juga
· Love in Seoul City
· Cerita Julia dan Korea Selatan
· Cerita Julia dan Korea Selatan 2
__ADS_1