The Future Princess

The Future Princess
Episode 78 / Hampir menemukan.


__ADS_3

Clara dan yang lainnya terperanga lagi karna diberikan dessert menu baru yang belum dipublikasikan ke orang-orang hanya untuk Catrin dan mereka. Madam mery merasa terhormat bisa menjamu seorang Catrin. Belum lama


ini ia mengetahui kalau Catrin adalah Calon tunangan Putera Mahkota Felix. Belum pernah ia melayani para pelanggannya kecuali keluarga kerajaan yang mereservasi tokonya sebelumnya. Khusus untuk Catrin, maka ia harus melayaninya langsung dengan baik.


Para pelanggan yang hadir ditoko tersebut masih intens memandangi Catrin dengan kedua manik-manik mereka. Catrin mulai frustasi dan tidak nyaman. Ia sedang ingin memfokuskan dirinya memakan menu yang baru saja


datang terhidang diatas meja makannya.


“Makanlah dengan nyaman nona. Jangan dipikirkan tatapan-tatapan mereka” Ungkap Jenni yang merasa kalau Catrin mulai tertekan dan tidak nyaman.


“Benar nona. Itu sangat wajar karna nona sangat cantik. Sangat wajar jika mereka memperhatian nona karna kecantikan nona” celoteh Clara.


“Aku akan makan dengan nyaman. Kalian juga makanlah. Jangan pedulikan aku” Ungkapnya yang sedikit demi sedikit menikmati dessert tersebut.


Dessert yang dimakan oleh wanita-wanita tersebut membuat mereka sedikit terbuai. Rumor memanglah tidak seratus persen salah. Ada juga yang benar. Contohnya rasa makanan ini, pikir Cat.


Setelah puas memakan dessert yang lezat, Cat pun pamit. Tentu saja Madam merry ikut mengantar Catrin. Ini adalah service untuk calon tunangan Putera Mahkota yang akan menjadi anggota kerajaan.


“Dia memang wanita yang luar biasa. Tidak heran Putera Mahkota jatuh cinta dengannya” Ungkap Madam Merry setelah melepas kepergian Cat bersama para pelayannya.


Masih dengan menghabiskan waktu diluar. Clara masih bersemangat untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya “Nona. Setelah ini kita mau kemana lagi??”


“Nona, sebaiknya kita kembali ke kekediaman. Nyonya mengingatkan kita agar jangan pulang terlalu lama” Pinta Jenni.

__ADS_1


“Jenni, ayolah. Nona baru sesekali bisa keluar. Setelah nona di Istana ini. Beliau akan sudah keluar” Bujuk Clara.


“Benar. Istana sangat ketat. Lady pasti akan sulit keluar nanti jika sudah masuk kedalam istana” Tambah Jamilah yang juga masih belum puas jalan-jalan. Karna selama ia diistana. Ia juga jarang keluar apalagi menikmati saat-saat bebas seperti ini.


“Baiklah. Ayo kita belanja sekali lagi. Oh ya kita harus pergi ketoko perhiasan. Ayo cepat” Catrin senang dapat menghambiskan waktu seperti ini bersama orang terdekatnya. Meski pun suasana sangat ramai dan padat, tapi tidak membuat Catrin cepat merasa bosan, justru ia bahagia. Diantara kerumunan orang-orang yang mereka lalui, sedikit dari mereka adalah beberapa prajurit Skanea yang sedang menyamar mencari dirinya.


“Kalian berpencarlah. Kita akan bertemu kembali ditempat ini sebelum senja. Patokannya adalah menara kecil buatan ini” Ungkap Andrea memberi perintah kepada pasukan kelompoknya.


“Baik tuan” Agar tidak menjadi perhatian orang. Nama sapaan tidak boleh menggunakan gelar kerajaan. Cukup dengan tuan saja perintah Andrea sebelumnya.


“Shane kau tetaplah disisiku. Satu dari kalian bersama Ela. Yang lain juga berpencar. Kalian tahu wajahnya kan. Jangan sampai lolos sedikit pun.”


Mencari Catrin ditempat seramai ini adalah tantangan tersendiri. Selain banyaknya kerumunan. Fokus pun tidak boleh buyar. Seperti Ela yang focus dalam pencaharian.


“Disini sangat ramai dan padat. Untung saja ciri-ciri berambut emas jarang disini. Jadi jika kita menemukan orang dengan rambut berwarna emas. Kita harus segera menariknya. Bisa saja itu Putri” Ujar Ela bersama satu kesatria yang mengikutinya.


Ela masih terus mengintai satu persatu manusia yang ia lihat. Bagaimana caranya ia bisa menemukan putri pikirnya. Ela terus berjalan tiada henti. Sesekali ia mencari lorong sepi untuk minum sejenak dari rasa hausnya lalu ia kembali mencari lagi.


“Tidak ku sangka kerajaan ini memiliki rakyat yang terbilang makmur. Belum ada aku menemukan pengemis satu pun ditempat ini.” Takjubnya sambil menyapu seluruh penglihatan yang ia jangkau.


Cat dan ketiga pelayannya sibuk ditoko perhiasan. Ia bingung menentukan yang mana cocok untuk kedua kakak laki-lakinya.


“Jenni. Kira-kira yang mana cocok untuk Kak Barlin dan Kak Banny?” Pikir Cat sambil mengetuk-ngetuk ringan kepalanya. Duduk sambil memperhatikan deretan berlian diatas meja untuk pria yang biasa dipakai sebagai pengganti dasi.

__ADS_1


“Pilihkan saja sesuai warna bola matanya tuan nona” Ungkap Jenni cerdas.


“Wahh kau benar Jenni. Lebih baik dipilih berdasarkan warna mata kakak-kakakku.”


Akhirnya Cat telah memilih permata sesuai dengan warna mata dari kedua kakaknya tersebut. Setelah selesai dari toko permata, Cat harus kembali pulang. Kereta kuda telah menantinya didepan toko. Paras Catrin mampu


menyihir semua mata yang memandang kearahnya. Rambut emas yang jarang ditemukan didaerah tersebut. Tapi percayalah, masih ada satu per satu orang yang memiliki warna rambut tersebut.


“Mari nona” Ajak Jamilah senang karna ia sudah dipuaskan berjalan-jalan bersama Cat.


Mereka pun keluar dari toko setelah melakukan pembayaran dan barulah setelah itu Cat bersama yang lain keluar menuju kereta kuda milik keluarga Marquess Franklin. Catrin masih bersenda gurau ketika akan keluar dari toko itu. Rambut panjang terurainya begitu indah dan menjadi bahan tontonan orang-orang karna kagumnya. Cat masuk kedalam kereta kuda ketika pintu itu terbuka oleh seorang kusir kuda yang bekerja bersama Marquess.


Ela yang kebetulan lewat pun hampir menjangkau pandangan warna rambut yang tidak asing lagi baginya yang memasuki sebuah kereta kuda.


“Ah” Degup jantungnya langsung berdetak kencang.


Bersambung


@yulia.fernanda__


Jangan lupa dukung dan baca juga


·         Love in Seoul City

__ADS_1


·         Cerita Julia dan Korea Selatan


·         Cerita Julia dan Korea Selatan 2


__ADS_2