
Langkahnya bergerak sesuai arahan yang entah dari mana datangnya. Yang penting ia ingin sendiri. Dan tibalah ia berhenti dimana sebuah pohon yang tidak terlalu besar, namun sekiranya bisa untuknya duduk bersandar. Menjauh sedikit dari hiruk pikuk istana yang membosankan. Ia memutuskan untuk beristirahat duduk bersandar dibatang pohon tersebut. Gaun yang begitu menyesakkan baginya bisa menjadi selimut baginya agar tidak terkena gangguan hewan-hewan kecil. Angin sepoi-sepoi yang membuat matanya terkantuk-kantuk segera membawanya tak sadarkan diri dan tertidur begitu saja.
“Kenapa dia ada disini?” Ucap pangeran Andrea yang tidak sengaja menemukan Catrin yang telah tertidur di batang pohon. Mata abu-abunya dan wajah dinginnya melekat dan memandangi Catrin secara intens. Ia tak begitu menyukainya. Baginya Catrin sama saja dengan wanita-wanita diluar sana yang tentu saja menginginkan berada disisinya dan bisa menduduki posisi tertinggi kerajaan. Dengan wajah cantik dan kedudukan bangsawan yang dimiliki Catrin tentu saja ia bisa menjadi bagian dari kerajaan. Dan ia membenci hal yang seperti itu.
“Sehebat apa pun kau, kau tidak ada bedanya dengan wanita-wanita bodoh diluar sana yang hanya menginginkan tahta dan nama” Begitulah umpat sang pangeran.
Sebenci itu kah Pangeran Andrea.??
Pangeran Andrea telah memasuki umur 15 tahun. Di umurnya yang sekarang, ia akan bergelar Putra Mahkota sekaligus tunangan dari Catrinel Maldovan Dominique. Pernikahan yang telah direncanakan untuknya sekian lama. Ia tidak bisa memilih gadis dari pilihannya sendiri. Kecuali Raja. Jikalau ingin memilih sendiri pendamping dirinya,
maka ia haruslah layak untuk dijadikan Ratu masa depan Skanea. Dan dimata Raja Julian, Catrin sangat memenuhi syarat.
Gigitan kecil dari serangga berhasil membangunkan Catrin dari tidurnya. Rasa perih didahi yang tak terlalu sakit baginya membuyarkan mimpi indahnya. Hampir setengah jam ia mungkin tertidur. Ia pun ingat bahwa ia sedang berada ditaman kerajaan, menjauh dari Raja Julian dan anak brengseknya. Ia segera bangkit, memperbaiki posisi dan gaunnya yang begitu menyulitkannya. Sambil memegang dahi bekas gigitan serangga, ia berjalan keluar dan mencari Henry si pengawalnya.
__ADS_1
Catrin telah berjalan melewati taman dan tampaklah sesosok orang yang ia cari dari tadi. Perlahan-lahan sosok itu mendekatinya “Apa nona sudah puas tidurnya??” Mendengar ucapan Henry sontak membuatnya kaget. “Kau tahu aku tidur barusan?” Ujarnya spontan yang dibalas dengan anggukan.
“Baiklah ayo kita kembali.” Dalam perjalanannya menuju dalam istana. Melewati lorong istana yang begitu panjang dan lebar. Tak sengaja ia bertemu Pangeran Andrea dengan iring-iringan beberapa pelayan dan pengawal dibelakangnya.
Deg Deg Deg..
Detak jantungnya berirama kuat. Catrin berhasil tertegun ketika iring-iringan Pangeran tak sengaja berjalan ke arahnya dan membuatnya sontak terkaget bukan main. (Terkutuklah detak Jantung ini) Irama jantungnya begitu kuat saatketika melihat sosok Pangeran dihadapannya. Catrin langsung tersadar dan memberi salam hormat saat Pangeran Andrea hampir dekat dengannya “Salam kepada Pangeran Andrea. Semoga diberi keberkahan yang berlipat ganda” Ucapnya yang begitu saja tidak dihiraukan oleh sang Pangeran dan tetap berjalan tanpa memperdulikan kehadiran Catrin.
Catrin kesal. Bisa-bisanya Pangeran itu mengabaikan dirinya disaat ia sudah memberikan salam hormat kepadanya. Bahkan matanya tak teralihkan sedikit pun dan tetap fokus ke depan seakan tidak melihat apapun disampingnya. Sebegitu bencinya kah ia kepada Catrin??
---
Hari perayaan pun telah tiba. Seluruh jalanan dihiasi dengan hiasan-hiasan. Semua rakyat bersuka cita. Segala macam aktifitas dan pertokoan sengaja ditutup demi ikut memeriahkan hari naiknya Putra kerajaan. Begitu pula kerajaan yang tak kalah megah dengan riasannya. Para tamu kerajaan yang tiba dari segala penjuru negri. Menyaksikan sumpah jabatan atau lebih tepatnya tahta sekaligus dengan perayaan pertunangan antara Pangeran Andrea dan Catrin. Bukan hanya sumpah jabatan ataupun pertunangan. Acara tersebut juga sekaligus merayakan ulang tahun Catrin yang ke 10 tahun.
__ADS_1
Catrin tampak begitu luar biasa cantiknya. Semua para tamu yang baru melihat Catrin akan terpesona dengan kecantikannya. Rambut emas ikal bermata sendu bulat Grey, Hidung mancung sempurna dengan bibir yang agak tebal memberikan sensual, dagu runcing dan kulit yang putih dan mulus.
Gaun couple biru yang ia gunakan sama dengan Pangeran saat ini. Setelah sumpah jabatan tibalah dimana acara selanjutnya dilanjutkan. Acara pertunangan. Putra Mahkota andrea menyematkan cincin dijari manis Catrin begitu pula sebaliknya. Jika cincin telah tersematkan keduanya, maka mereka sah menjadi sepasang tunangan hingga menunggu hari baik ketika Catrin berumur 18 tahun nanti untuk menikah dengan Putra Mahkota Andrea.
acara yang berlangsung cukup lama itu membuat Catrin merasa sangat-sangat bosan. Ingin rasanya ia meninggalkan acara tersebut. Untung saja acara terakhir telah selesai. Dan hanya berkisar satu hari. Terlebih lagi, ia risih harus duduk berdampingan dengan Putra Mahkota. Wajah dinginnya sangat mendominasi auranya.
Meskipun acara belum selesai, Catrin lebih memilih mundur dan mencari angin segar.
Ia tak peduli lagi dengan acara itu. Rasanya ia ingin pulang. Raja dan Ratu pun juga telah meninggalkan pesta. Lalu untuk apa ia berlama-lama duduk manis disana dengan wajah dingin Putra Mahkota yang harus ia lihat dan sangat
menyakiti hatinya. Catrin benar-benar beranjak dari singgahsananya, hingga Putra Mahkota yang melihatnya pun memandanginya dengan tatapan aneh. Persetan dengan tatapannya. Ia hanya ingin keluar dari situasi ini.
Catrin pun pergi, tak pedulikan keadaan sekitar. Henry Green segera mengikuti Catrin dari belakang “Putri mau kemana? Apa Putri lelah?” Catrin pun terhenti. (Putri?? hahaha ternyata aku sudah jadi putri. Betapa gelinya ia mendengar sebutan itu)
__ADS_1
Bersambung