
“Aku hanya jalan-jalan sebentar, aku akan kembali sebelum saat sore hari. Tidak lama. Percayalah !!” Pinta Cat yang membuat kedua pengawal itu merona merah dan saling memandang satu sama lain. Kedua pengawal itu memandang Cat yang terlihat sangat imut dan cantiknya. “Aku mohon, tidak akan lama. Aku hanya ingin membawa Lippe jalan-jalan dan hanya main didepan saja. Atau kalian ikutlah denganku jika kalian tak percaya.”
“Baiklah Putri, kami akan mengawal anda keluar sebentar. Kami mohon untuk tidak melawan atau pun membuat ulah nanti” Pinta pengawal yang langsung direspon Cat dengan anggukan.
Cat pun berhasil keluar dengan akhirnya membawa kedua pengawal tersebut bersama Henry. Ia menggendong Lippe didadanya yang terlihat anteng. Bulunya yang bersih membuat setiap para pelayan yang melihatnya merasa
geram dengan keimutan Lippe. “Meaww”
Cat duduk ditaman diantara para tukang kebun yang sedang bekerja. Mereka sesekali mencuri pandang kearah Cat. Tak puas hanya sekali. Mereka melakukannya berkali-kali hingga mereka tak puas melihat wajah cantik Cat yang rasanya mengalihkan dunia mereka. Bahkan kedua pengawal ini pun bangga bukan main saat bisa menemani Cat disampingnya.
“Meaww” Lippe menggeliat ingin bebas dari pelukan Cat. Cat pun melepaskannya namun dibawah penglihatannya agar ia tak kabur dan jauh dari sisinya. Sesaat Lippe hanya kebingungan sesaat dan mengendus-endus disetiap tempat yang ia pijaki. Ia berjalan menghilangkan rasa bingungnya hingga berjalan agak menjauh dari Cat berada. Hingga mata Lippe teralihkan saat melihat burung kenari terbang rendah. Lippe spontan berlari dan mengejar burung kenari itu sekuat tenaga. Cat pun respek ikut mengejar Lippe agar tak kabur dari penglihatannya. Kedua pengawal dan Henry pun ikut mengejarnya juga.
“Oh Tidak itu adalah burung milik yang Mulia Andrea” Ujar salah satu pengawal yang sadar dan tahu akan hal itu. Saat mendengarnya Cat ketakutan. Ia segera mengejar Lippe lebih kencang untuk menangkapnya. Namun na’as. Lippe berhasil melompat dan menangkap burung kenari itu dimulutnya dan seketika Lippe menggigit dan merobek tubuh mangsanya itu.
“Tidaaakkkkk” Cat ketakutan, suaranya naik beberapa oktaf. Ia segera menggapai Lippe dan segera melepaskan burung itu dari cengkaraman mulutnya. Cat syok. Burung itu sekarat ketika ia berhasil mengeluarkannya dari mulut Lippe.
“Apa yang binatang itu lakukan??” Teriak Andrea. Suara berat dan suram yang berhasil mengalihkan rasa tegang mereka seketika. (Mati aku) pikir Cat ketakutan. Ia segera merangkul Lippe didadanya. Bibirnya pun diam seribu kata. Dan akhirnya ia harus segera meminta maaf.
__ADS_1
“Maafkan saya Yang Mulia. Saya lalai menjaga Lippe” Cat luar biasa ketakutan, rasanya ia mungkin juga ikut mati sama hal nya dengan burung kesayangan Andrea. Pemandangan saat ia melihat tubuh kenari itu yang telah dicabik-cabik ulah Lippe yang tak ia jaga dengan baik, akhirnya membuatnya dalam posisi tak aman.
Andrea terdiam, memperhatikan burungnya yang telah sekarat menggeliat menghadang maut, ia murka saat selanjutnya matanya teralihkan kearah kucing putih yang berada dipangkuan Cat. Andrea lalu berjalan
menghampiri Cat. Cat yang merasakan suara langkah kaki Andrea yang mendekatinya reflek memeluk Lippe dengan kuat. Ia tahu bahwa Lippe berada dalam bahaya.
Andrea merebut Lippe dari tangan Cat, Cat berusaha merebut kembali Lippe ditangan Andrea namun ia tak berhasil. “Yang Mulia mohon maafkan Lippe, ia hanya hewan kecil. Saya akan mengganti burung kenari itu dengan yang baru. Saya mohon lepaskan Lippe” Cat memohon dan mengemis.
Set…. Andrea meraih pedang yang berada dipinggang kesatrianya dan langsung menebas kepala Lippe dihadapan Cat dan yang lain.
Deg..
“Hiks hiks hiks” Air matanya menganak sungai diatas pipinya. Lippe tak bisa diselamatkan. Urat lehernya telah putus ditebas oleh Andrea. Andrea puas, setidaknya kematian hewan kesayangannya terbalaskan dengan
membunuh sumber kematian peliharaannya. Cat memeluk tubuh terkulai Lippe yang tak bernyawa dipangkuannya. Darah Lippe telah memenuhi telapak tangan dan gaunnya.
“Lippe hhuhuuu hiks” Sambil melihatkan pandangan kebencian kearah Andrea. Cat tersulut Api. Jiwanya terbakar, seolah ia berani. Ayo kita saling membenci satu sama lain. Atau mungkin ayo kita saling membunuh saja kalau begitu, pikirnya.
__ADS_1
“Itu setimpal untuknya yang telah membunuh peliharaanku” Gumam Andrea dengan segala penekanan dan intonasinya. Ia lalu melemparkan pedang ke sembarang arah dan memutar tubuhnya, berjalan menjauh
meninggalkan tempat kejadian dengan wajah dinginnya dan rasa puasnya saat membunuh peliharaan Cat.
“Arrgghhhh” Cat berteriak frustasi menggendong Lippe dalam pelukannya. Air matanya semakin deras menganak sungai. Jika saja ia tak keluar, maka Lippe akan baik-baik saja bersamanya. Ernest yang mendengar teriakan Cat segera berlari menghampiri sumber suara. Saat ia berhasil menemui Cat yang sedang tak berdaya menahan benteng pertahanannya sambil memeluk Lippe yang bersimpah darah, Ernest pun segera menghampiri Cat dan memeluk wanitanya.
“Cat tenanglah” Ernest mengusap punggung Cat dengan lembut. Darah Lippe akhirnya mengenai baju Ernest. “Lippe ku mati…..” Lirih Cat menangis.
“Pangeran mohon jaga sikap anda. Ini istana” Pinta Henry disampingnya. Namun Ernest tak menggubris.
“Ia membunuhnya. Dia membunuh Lippe ku” Sambung Cat kembali yang langsung membuat Ernest terenyuh.
Pandangan itu sekali lagi terlihat dikedua bola mata Andrea saat ia melewati tempat kejadian tadi. Kali ini murkanya melewati batas. “Catrinnn” Teriak Andrea menggema diarea taman. Seluruh yang mendengarkan
langsung melihat kearah sumber teriakan. Sontak Cat dan Ernest terhenjak dan melepaskan pelukannya. Andrea segera berjalan cepat menghampiri Cat. Ia lalu meraih tangan Cat dan menyeretnya menuju dalam istana. Cat berusaha meraih Lippe namun ia tak berdaya dengan kekuatan Andrea. “Pangeran, tolong kuburkan Lippe untukku” Teriaknya lirih kembali kepada Ernest.
Saat didalam istana, Andrea kembali menghempaskan tubuh Cat ke dinding hingga wanita itu meringis kesakitan “Kesekian kalinya aku mengingatkanmu tapi kau kembali melakukannya. Dasar perempuan jalang” kata-kata yang sukses membuat Cat tersadar. Seringai dari mulutnya terangkat dari sudut bibir meskipun gejolak batinnya membara dan menangis. Ia pelan-pelan bangun dan menghadang Andrea “Aku memang jalang, jalang yang akan menjadi istrimu” Satu kalimat yang membuat Cat tertantang berani dan pergi meninggalkan Andrea disana.
__ADS_1
* Tinggalin like dan komennya dong. Kalian suka kan???
Bersambung.