The Future Princess

The Future Princess
Episode 109 / Seonggok kapas putih.


__ADS_3

“Saya akan mendampingi anda tuan Duke. Saya juga tidak akan membiarkan tubuh anda terluka sedikit pun” Ujar kesatria Shane yang mencoba menenangkan Lewis. Ya bisa saja itu hanya sekedar hiburan bagi lewis. Tapi ya sudahlah. Ini adalah perintah Baginda Raja. Ia harus datang dan melihat sendiri kondisi Andrea saat ini yang menurut rumor bahwa beliau sudah menjadi orang gila.


Saat mereka tiba didepan pintu kamar Putera Mahkota Andrea. Shane mulai mengetuk pintu. Terlihat memang semua kesatria dan pelayan yang menunggu didepan kamarnya dipenuhi dengan rasa stress, ketakutan dan


pucat  “Tok tok tok, Yang Mulia. Tuan Duke Lewis datang menemui anda” Ujar Shane pelan dan tidak ada balasan sedikit pun dari si empunya kecuali kebisuan.


Karna tidak adanya balasan dari siempunya, mereka pun masuk dan membuka pintu itu secara pelan dan hati-hati. Kondisi kamar benar-benar memprihatinkan. Meski pun gelap, terlihat beberapa barang rusak dan dihancurkan


oleh Andrea. Bau yang menyengat dan kobaran asap kecil yang mungkin berasal dari rokok “Yang Mulia, tuan Lewis datang menghadap….”


“Tap” Sebuah pisau belati terbang meleset hampir mengenai pelipis Lewis dan berakhir menancap disebuah pahatan pintu kayu tepat dibelakang Lewis saat ini. Sontak Shane tidak bisa melanjutkan kata-katanya karna pisau belati itu berhasil membuatnya terdiam termasuk Lewis sendiri. Untung saja pisau itu tidak mengenai kepalanya, jika tidak, bisa saja ia mati konyol menambah daftar korban dan itu adalah dirinya sendiri, Ayah dari mantan


tunangannya Andrea.


“Siapa yang menyuruhmu masuk ha??” Suara serak bariton yang tampak setengah sadar tersebut akhirnya memecah kebisuan didalam kamar tersebut.


“Yang Mulia, saya Duke Lewis Dovan Dominique menghadap Yang Mulia Putera Mahkota. Saya datang untuk menjenguk Yang Mulia”


“Apa aku seperti orang sakit menurutmu??” Tanya Andrea sinis.


“Yang Mulia, saya juga merasakan hal yang sama seperti yang Mulia rasakan saat ini, tapi itu tidka akan mengubah apa pun”

__ADS_1


“Siapa kau memangnya berani mengajariku??. Apakah kau ingin aku menebas lehermu sama seperti mereka-mereka sebelumnya” Menunjuk kesatria, pelayan dan dokter.


“Hamba tidak berani Yang Mulia” Jawab Lewis. Ternyata lelaki ini sulit ditaklukan pikirnya. Walau pun yang ia dengar hanyalah suaranya saja dan entah dimana sosoknya kini karna ditutupi bayangan gelap. Hanya suara keputusasaan dan serak akibat banyaknya mengkonsumsi alcohol. Lelaki itu terlihat lebih buruk dari biasanya. Kondisinya pun sangat memprihatinkan.


“Jangan terlalu terbuai dengan kesedihan Yang Mulia. Mungkin, saya lebih sengsara dan tersiksa dari pada Yang Mulia. Saya juga tidak berani keluar dan bertemu orang-orang. Kedua anak lelaki saya sakit secara bersamaan. Istri saya hanya bisa termenung setiap hari dikamar Putrinya dan jarang menyentuh makanannya, lalu saya” Lewis mulai tercekat. Ah ini begitu sulit ia jelaskan pikirnya.


“L-lalu saya sebagai kepala keluarga tidak dapat berbuat apa-apa. S-saya lebih…buruk dari yang anda kira. Saya hanya kehilangan satu orang Putri tapi serasa kehilangan satu keluarga.”


Lewis dan Shane masih setia berdiri disisi pintu kamar tanpa memindahkan posisi masing-masing. Shane yang mendengar sedikit sedih. Ia tahu perasaan kehilangan itu seperti apa. Mendengar kondisi keluarganya yang seperti


itu, pasti ia jauh lebih tersiksa ketimbang Putera Mahkota sendiri.


“S-sebagai kepala keluarga ha..” Lewis seperti menceritakan isi hatinya. Menceritakan apa yang terjadi pada keluarganya selepas kepergian Catrin.


“Saya seperti melihat mayat setiap harinya didalam kediaman saya. S-saya yang selalu dihantu rasa rindu kepada anak saya. Namun tidak sekali pun ia hadir dalam mimpi saya. Padahal sa-ya ingin melihatnya walau pun dimimpi saja hiks”


“Jika Yang Mulia juga seperti ini, saya yakin Catrin tidak akan pergi dengan tenang. Dia juga pasti sedih melihat kondisi Yang Mulia seperti ini. Saya tidak bermaksud menggurui Yang Mulia saat ini, tapi saya sebagai orang tuanya berharap Yang Mulia tetap memikirkan rakyat dan hidup bahagia kedepannya. Saya juga akan pelan-pelan bangkit kembali bersama keluarga kecil saya dan menjaga mereka dengan segenap jiwa dan raga saya” Lewis mengungkapkan keprihatinannya sambil menundukkan pandangannya ke lantai.


Andrea berjalan terseok-seok menghampiri Lewis didekat pintu. Lewis dan Shane merasakan gerakan Andrea yang sedikit linglung mendekati mereka. Andrea menghampiri dengan pakaian seadanya. Hampir terlihat jelas celana yang masih sama dengan yang dipakainya saat pemakaman dan baju atasan kemeja putih dengan hanya dikaitkan beberapa pengait sehingga hampir sebagian dada bidangnya terlihat jelas.


Semakin dekat Andrea, bau mirasnya pun semakin tajam. Tapi untung saja bau itu tidak terlalu menyakitkan hidung karna ditutupi dengan bau khas tubuh Andrea.

__ADS_1


Andrea melangkah linglung mencoba mendekati Lewis. Mereka berusaha menuntun Andrea namun segera ditepis oleh Andrea sendiri. Dan saat mereka hampir dekat tiba-tiba Andrea menjatuhkan tubuhnya, melipat kedua lututnya dihadapan Lewis. Lewis yang tidak mungkin membiarkannya segera menuntun Andrea kembali, tapi lagi-lagi Andrea menolaknya.


“A-aku. Selalu dihantui olehnya” Andrea menundukkan pandangan. Tidak ingin terlihat jelas wajah suramnya yang penuh dengan kesedihan dihadapan Duke Lewis. Lewis hanya bisa menyamakan posisinya dengan


Andrea begitu juga Shane.


“Anakmu, anakmu selalu datang dimimpiku. Dia datang dengan senyumnya yang membuatku frustasi. Kau tahu aku juga tersiksa dengan senyumnya itu. Kau fikir aku begini karna siapa??” Tanya Andrea. Kedua matanya


mulai berkaca-kaca. Lewis lah yang berhasil melihat pemandangan mengerikan itu dihadapannya. Wajah dan tubuh itu sangat-sangat kurus seperti tulang yang terbungkus kulit. Pergelangan tangannya yang kecil namun anehnya mampu menebas leher sekali gerakan.


Lewis tidak percaya pria hebat se kekaisaran yang selama ini terkenal kejam ini begitu rapuh seperti seonggok kapas yang putih, lemah dan terkulai. Air matanya bahkan terjun dengan kilat diatas pipinya. Benarkah ini adalah sosok Putera Mahkota Andrea, satu-satunya pewaris kerajaan selanjutnya setelah Baginda Kaisar sekarang??.


Bersambung


@yulia.fernanda__


Jangan lupa dukung terus dengan cara  vote, love, like, sharing plus komen. Dan


baca juga


·         Love in Seoul City

__ADS_1


·         Cerita Julia dan Korea Selatan


·         Cerita Julia dan Korea Selatan 2.


__ADS_2