
“Sepertinya tidak Yang Mulia” Ujar Cat terdiam.
“Bagaimana kalau aku mengajakmu berjalan-jalan??” Ujar Felix menawarkan.
“Dengan senang hati Yang Mulia” Cat menampilkan senyuman manis hingga Jantung Felix serasa ingin berteriak.
Deg Deg Deg.
Felix mengajak Cat berjalan-jalan disekitar desa menggunakan kuda.
“Yang Mulia. Apakah aman jika hanya kita berdua yang pergi.?” Cat duduk didepan Felix, menyapu pandangannya keseluruh arah karna tak melihat sesosok prajurit yang menemaninya bersama Putera Mahkota. Ia pun mulai
khawatir. Tubuhnya mulai bergetar ringan. Bau wangi rambut Cat tercium harum diindra penciumannya. Itu penyiksaan kecil bagi Felix yang kini mulai terganggu dengan batinnya. Ia bahkan bisa mencium bau wangi buah dari tubuh Cat.
“Kau tenang saja Cat. Ada aku disini. Kau dan aku akan aman” Tuturnya agar Cat lebih tenang bersamanya.
Kuda berjalan lambat ditepi Hutan sambil berjalan-jalan selagi menunggu para prajurit menyiapkan tenda hingga langkah kuda terhenti disuatu bukit yang terbentang indah menampakan seluruh desa kecil dengan beberapa ladang tanaman yang luas menyejukkan mata.
“Wahhh” Seru Cat saat memandanginya dari atas bukit. Ia merasa terpesona sehingga sesaat ia lupa jika saat ini ia masih dekat dalam dekapan tubuh Felix.
Felix memandangi raut wajah Cat yang terlihat bahagia dan bersinar bagai Matahari saat melihat desa kecil dibawah kuasa kerajaannya. Desa yang cukup terisolasi dengan pekerjaan utama rakyatnya yakni bertani, Desa Igen, itulah nama desa yang Felix berikan saat pertama kali desa itu ditemukan.
Tidak ada yang special dari Desa tersebut. Seluruh rakyatnya aman tenteram. Hasil bumi yang mereka dapatkan tidak bisa mereka jual dan terkadang hanya bisa mereka gunakan untuk kebutuhan pribadi dikarenakan kondisi tanah yang tidak luas dan kecil. Padahal sebenarnya mereka bisa saja mengambil alih Hutan untuk pengganti lading dan memperbesar area lading mereka.
Namun karna kebijakan kerajaan yang melarang untuk mengalih fungsikan Hutan sebagai keperluan pribadi, maka hal itu tidak berani dilakukan oleh penduduk sekitarnya.
“Yang Mulia. Ladang mereka kenapa sempit?? Desa ini juga sangat kecil. Bahkan aku tidak melihat pasar disekitarnya.” Ujar Cat.
__ADS_1
“Karna ini desa kecil, banyak dari mereka harus ke desa tetangga untuk membeli beberapa keperluan. Untungnya kerajaan telah memfasilitasi desa ini beberapa kereta kuda sebagai alat transportasi.”
Cat mencerna jawaban yang ditutur Felix kepadanya.
Saat kuda benar-benar terhenti, Felix pun turun.
“Cat, ayo kita turun” Felix mengangkat kedua tangannya untuk menggendong Cat dari punggung Kuda. Cat yang penurut pun mencondongkan tubuhnya, membiarkan Felix membantunya turun dengan mulus.
Deg deg deg.
Ohh hampir saja Felix ketahuan dengan bunyi detak jantungnya. Tapi ia yakin Cat tak menyadarinya karna ia tampak focus melihat desa indah tersebut.
“Tempat ini dekat dengan perbatasan kerajaan Imperial dan kerajaan Skanea. Pembatasnya adalah itu “ Felix menunjuk sebuah bukit kecil yang terlihat agak jauh dari jarak desa tersebut.
“Dibalik bukit itu, ada sungai kecil yang membatasi kedua kerajaan ini” Tutur Felix.
Cat menela’ah sambil berfikir nama kerajaan yang seperti tidak asing ditelinganya. Angin segar yang menyapu sisa helaian rambutnya seperti tahu apa yang ia lamunkan.
“Deg”
“Aahh” Sesuatu telah menyakiti bagian relung jantungnya. Cat segera memegangi dan merabai bagian tersebut yang membuatnya mendesih kesakitan secara tiba-tiba dan menundukan pandangannya sedikit ke bawah. Untungnya itu hanya sekilas.
“Apa kau baik-baik saja ??” Felix cemas.
Entahlah, nama itu seperti menyimpan sesuatu yang aneh. Atau mungkin hanya perasaannya saja. Cat segera mengalihkan situasi agar Felix tidak merasa khawatir terhadapnya.
“Saya baik-baik saja Yang Mulia” Ujarnya dengan sekilas senyuman
__ADS_1
Cat menutup kepalanya dengan jubah pemberian Felix untuk menutupi seluruh tubuhnya sekaligus sebagai cara penyamaran agar tidak dikenal orang lain.
Kediaman Dominique.
Seorang wanita paruh baya terlihat menyendiri duduk disebuah ruangan tanpa cahaya. Wanita tersebut ingin mengasingkan diri dan seolah-olah mengatakan jangan ganggu dirinya. Tanpa riasan, pucat dan terlihat stress. Hanya sebuah kain yang melilit menutupi kedua bahunya.
“A-anakku” Bisiknya lirih dan bergetar.
Hiks hiks hiks.
Mungkin tangisan itu tak terhitung lagi berapa banyak yang ia keluarkan semenjak Putri kesayangannya hilang. Ia tinggal seorang diri bersama Pelayan yang menemaninya. Sementara Suami dan kedua anak lelakinya masih sibuk dan belum pernah kembali semenjak pencarian besar-besaran itu.
Tak…
“Ibu” Teriak kedua laki-laki tanpa mengetuk pintu dan berlari terbirit-birit kearah sang Ibu. Si Empunya pun langsung menoleh ke arah sumber suara.
“Mana adik kalian???” Kalimat itu yang terlontar saat bertemu kedua anaknya. Anak laki-laki kedua segera duduk bertumpuh kearah Ibunya sementara sang kakak berdiri dibelakang adiknya. Dengan memakai baju prajurit dilengkapi dengan Zirah khusus kepemilikan keluarga Dominique dan 1 pedang yang yang selalu tersimpan dikiri pinggang mereka.
Bersambung
@yulia.fernanda__
Jangan lupa dukung dan baca juga
· Love in Seoul City
· Cerita Julia dan Korea Selatan
__ADS_1
· Cerita Julia dan Korea Selatan 2