The Future Princess

The Future Princess
Episode 17 / Sebuah Titah


__ADS_3

“Tuan Putri??” Panggil Ernest yang berlarian masuk kekamar Cat dan mendekatinya. Garis wajahnya penuh dengan 1000 pertanyaan dan kekhawatiran. Begitu pula Ayah, Ibu dan kedua pelayannya yang juga ikut masuk ke kamarnya.


“Sayang, kau tidak apa-apa?” Tanya sang Ibu sambil memeluk Cat.


“Apa yang terjadi ? Kenapa Yang Mulia keluar dengan wajah seperti itu?” Sambung Ayahnya


Semua pertanyaan langsung datang menyerangnya secara beruntun. Cat masih tak mampu menahan rasa takutnya semenjak kejadian tadi. Wajah emosi Putra Mahkota masih begitu jelas diingatannya, begitu menakutkan


pikirnya. Cat tak menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan untuknya, namun dari obat-obatan yang tergelatak jatuh dilantai sudah menjawab sebagian rasa penasaran mereka yang terjadi tadi.


---


Lewis duduk sambil menopang dahi diatas meja diruang pustakanya, ia menyendiri sambil berpikir keras. Entah siapa yang salah, namun mau tidak mau ia harus ke Istana menemui Putra Mahkota bersama Catrin untuk


meminta maaf. Cat masih dikamar menyendiri dan tak ingin keluar dari kamarnya. Makanan pun tak tersentuh semenjak kejadian tadi pagi.


Dikamar Cat.


“Tuan putri, makanlah” Ujar Bibi Rose yang mulai kebingungan. Cat tak menyentuh makanannya sama sekali hingga malam mini.


“Apa Tuan Putri ingin saya masakan steak sapi kesukaan Tuan Putri, akan saya masakan sekarang” Ujar Alexa, namun Cat tak membalasnya. Ia masih terdiam dalam lamunannya hingga Pangeran Ernest pun datang menghampiri mereka.


“Bibi biar aku yang melakukannya” Ujar Pangeran Ernest sambil meraih piring ditangan Bibi Rose. Bibi Rose pun memberikannya dan beranjak menjauh sedikit bersama Alexa dari Cat dan Pangeran Ernest.


Ernest duduk ditepi ranjang disamping tubuh Cat “Apa yang terjadi denganmu Tuan Putri? Makanlah, apa kau ingin kau sakit?”

__ADS_1


“Katakanlah, apa yang dilakukan Putra Mahkota terhadapmu hingga Tuan Putri seperti ini” Sambung Ernest.


Dalam lamunan Cat, buliran bening telah menganak sungai dikedua maniknya. Tatapan lurusnya kini beralih menatap Pangeran Ernest dihadapannya. Tatapannya begitu sayu sampai-sampai Ernest pun tak kuasa menahan


kesedihannya melihat kondisi Cat.


“Bisakah tinggalkan kami berdua? Mungkin Tuan Putri ingin mengatakan sesuatu denganku. Kalian tidak perlu takut, tidak akan terjadi apa-apa diantara kami” Mendengar penjelasan Pangeran Ernest yang awalnya mereka


enggan untuk keluar, akhirnya mereka pun meninggalkan Cat dan Pangeran Ernest berdua dikamar dan menunggui mereka diluar.


“Nah Tuan Putri ceritalah, apa yang dilakukan Putra Mahkota terhadapmu”


Cat terdiam sesaat “Aku hanya mengatakan kalau aku juga membencinya lalu dia melemparkan obat itu dihadapanku” Ernest terkejut, matanya berubah ukuran dengan sendirinya. Dari mulut Cat, ia mengetahui bahwa


Cat tidak mencintai Putra Mahkota dan malah membencinya. Ya walaupun dulu ia masih ragu.


---


Keesokan harinya Cat dan Pangeran Ernest berjalan-jalan disekitaran kediaman Dominique. Karna kondisi Cat yang masih belum stabil maka Cat pun disarankan untuk tidak latihan dari kegiatannya. “Putri, apa kau baik-baik saja?” Tanya Pangeran Ernest khawatir.


“Pangeran, panggil saja saya dengan sebuatan nama. Saya lebih nyaman dari pada dipanggil Tuan Putri” Ernest tersenyum begitu pula Cat.


“Baiklah Cat, kau juga harus memanggilku dengan Kak Ernest”


“Kak Ernest??” Tanya Cat mengulang

__ADS_1


“Ya, panggil saja aku kakak”


“Baik Kak Ernest” Cat tersenyum, senyuman Cat sudah menghilangkan rasa khawatir Ernest akan kondisi Cat saat ini. Mereka minum teh bersama dibawah pohon rindang yang telah tersedia meja dan kursi disana. biasanya


Cat gunakan untuk bersantai minum teh sendirian atau dengan kedua kakaknya. Kini, kedua kakaknya sedang menempuh pendidikan di kota Serkia dan telah berlangsung selama 2 tahun disana. Dalam waktu dekat mereka akan pulang ke Skanea  setelah menempuh pendidikan 2 tahun disana.


Ernest telah tinggal dan mengajari Cat berbagai ilmu bela diri selama 3 bulan di Skanea. Dan ia pun cukup akrab dimata pelayan dan penjaga dikediaman Cat bahkan para pelajar kesatria disekolah Dominique. Pangeran Ernest memiliki level kekuatan bela diri 19, hampir sama dengan tingkat level kekuatan Putra Mahkota Andrea dan Cleon.


---


Cleon dan Casnav telah tiba dikediamannya setelah menempuh perjalanan selama 4 jam dari kota Serkia menuju Skanea. “Kakak” Cat berlarian menghampiri kedua kakaknya dan disambut lembut dengan pelukan oleh Cleon.


“Tuan Putriku” sambut Cleon dengan pelukan yang kuat lalu disusul Casnav yang berada disamping mereka. “Apa kau merindukan kami?” Tanya Casnav dan mereka pun melepaskan pelukan mereka masing-masing.


Sosok Pangeran Ernest tampak mengalihkan perhatian Casnav dan Cleon saat itu yang berada dihadapan mereka. Cat segera memperkenalkan sosok Ernest dihadapan kedua kakaknya “Kak dia adalah Pangeran Ernest dari Persia” Ernest pun langsung memperkenalkan diri “Selamat datang Tuan Cleon dan Tuan Casnav. Saya Pangeran Ernest dari kerajaan Persia. Saya adalah teman Yang mulia Putri sekaligus yang mengajari Tuan Putri beberapa ilmu bela diri”


“Selamat datang dikediaman kami Pangeran Ernest, Semoga layanan kami tidak mengecewakan Pangeran, saya adalah kakak kedua Tuan Putri. Casnav Maldovan Dominique” Ucap Casnav. “Saya Cleon Maldovan Dominique kakak pertama Tuan Putri. Semoga anda betah dikediaman kami” Keduanya saling menunduk memberikan salam


dan memperkenalkan diri.


Kebahagiaan Cat selama kedatangan kedua kakaknya dari Serkia dan Pangeran Ernest tak berlangsung lama. Surat dari kekaisaran Skanea turun kepada keluarga Dominique. Surat itu ditujukan untuk Putri Catrinel


Maldovan Dominique yang diharuskan tinggal diistana selama sampai hari pernikahan tiba. “Hhuhuuu hugh hugh huuu” Cat menangis dipelukan Ayahnya diruang tengah kediaman. Cat menangis sesegukan ditemani Ibu, kedua kakak, pelayan, Henry dan Pangeran Ernest. Ia mengadu dan tidak ingin tinggal diistana.


 

__ADS_1


Jangan lupa tekan tombol kie dan komennya ya. Terima kasih.


Bersambung.


__ADS_2