
Semua berkumpul secara tidak terduga didalam kamar Cat. Wanita lemah itu terbaring lemas diatas ranjang nya sambil diperiksa oleh dokter yang biasa bekerja untuk istana kekaisaran. Dokter itu sangat telaten ketika ia mencoba mengecek satu persatu kondisi Cat dan menekan sudut-sudut tertentu. Kemudian dirasa cukup selesai, ia pun memberi laporan atas diagnosanya.
“Yang Mulia. Saat ini Nona Catrin masih belum siuman. Saya akan berikan beberapa obat untuk menenangkan syaraf. Jika nona sudah siuman mohon segera hubungi saya” Ungkap dokter tersebut.
“Terima kasih tuan Ragil. Saya akan memanggil anda jika Catrin sudah siuman”
“Baik Yang Mulia. Saya permisi undur diri” Dokter itu pun pergi sambil meninggalkan salam kepada Felix.
Semuanya tampak bingung dan khawatir.
“Hamba minta maaf atas apa yang terjadi Yang Mulia. Hamba juga berterima kasih karena Yang Mulia segera menolong Catrin” Ungkap Liliana.
“Tidak perlu berterima kasih nyonya, itu sudah tanggung jawab saya. Saya juga merasa bersalah kepada Catrin karna meminta ia untuk mengingat jati dirinya. Alhasil ia menjadi seperti ini” Ujarnya merasa bersalah.
Kedua anak laki-laki Marques saling melihat satu sama lain setelah mendengar ucapan Felix.
“Menurutmu apa yang terjadi dengan Catrin??” Ungkap Barlin kepada adiknya Benny. Mereka terlihat berjalan beriringan disebuah lorong setelah menjenguk Catrin barusan.
“Entahlah. Mungkin karna keingintahuan Yang Mulia menanyakan jati diri Catrin berdampak dari hilang ingatannya.” Balas Banny
“Lalu, bagaimana menurutmu jika wanita itu ingat jati dirinya?” Tanya Barlin sekali lagi yang membuat kedua kaki si empunya berhenti serentak. Barlin tanpa sadar juga ikut terhenti karna anak itu.
“Entahlah mungkin aku lega, mungkin juga aku tidak lega” Ucapnya yang membuat sikakak penasaran.
__ADS_1
“Bisa tidak semua jawaban ku tidak ada kata-kata entahlah” Barlin sedikit emosi karna jawaban adiknya membuatnya ia sangat tidak puas.
Dua hari berlalu semenjak insiden pingsannya Catrin saat bersama Felix. Dan selama itu juga Catrin belum terbangun dari siumannya. Tentu saja pencaharian yang dilakukan Andrea dan teamnya masih tetap saja
nihil.
“Kenapa ia belum siuman juga. Cepat panggil lagi tuan ragil lagi??” Liliana cemas. Sudah dua hari Catrin belum menunjukkan ciri-ciri akan segera bangun.
“Nyonya, satu jam lalu kan tuan Ragil baru kembali setelah mengecek nona Catrin. Tidak mungkin beliau kembali lagi karna panggilan kita.” Ujar Jamilah yang juga sudah mulai pusing dengan tingkah majikannya. Padahal ia juga sebenarnya khawatir karna Catrin belum juga bangun-bangun semenjak insiden itu.
“Akh kenapa ini bisa terjadi?” Ditempat yang lain, Putera Mahkota kekaisaran. Lelaki pewaris tahta selanjutnya juga mendengus kesal. Ia masih belum mendapatkan berita baik mengenai kondisi Cat. Ia sangat-sangat takut.
“Ughhh Y,yang Mulia” Lirihnya pelan menahan cengkaraman Andrea.
“Kau begitu membenciku, tapi kau begitu dekat dengan Pangeran Ernest. Apa kau tidak tahu statusmu?” Bisiknya ditelinga Cat.
pelan-pelan harus ia campakkan.
“Aku tak perlu cemburu dengan hal sepele seperti itu, tapi bisa kau bayangkan harga dirimu jatuh ketika orang-orang mulai membicarakanmu dan itu akan terdengar oleh Kaisar nanti. Lalu apa tindakan yang diambil Kaisar nantinya?” Episode 16.
“Akhhh” Dadanya mulai menderu sesak. Kedua bahu dan dadanya memacu secara bersamaan. Keringat diwajahnya semakin banyak dan menyatu sebesar biji jagung dan mulai membasahi bantalnya.
“ughhh” Car mulai membuka kedua kelopak matanya. Langit-langit kamarnya langsung terasa kabur ketika kedua maniknya terbuka. Suasana sepi dan gelap. Tentu saja karna ini sudah tengah malam. Berarti ini adalah hari ketiga dan ia baru saja siuman dari tidurnya yang lumayan lama. Jika dilihat dari suasana ini, bisa dipastikan semuanya sedang tertidur lelap kecuali para penjaga dan yang bertugas shift malam.
__ADS_1
Cat bangun pelan-pelan. Pandangan dan pikirannya masih kosong. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya meski pun agak sedikit kaku. Kedua maniknya nanar tak berkedip sedikit pun. Ia bangun dari ranjangnya dan berjalan kearah pintu kamar tanpa alas kaki yang melindungi telapak kakinya yang dingin. Ia pun meraih gagang pintu dan membukanya secukup ukuran tubuhnya saja.
Cat keluar dari kamar itu dan pergi entah kearah mana kakinya berjalan. Dan sialnya penjaga yang selalu menunggu didepan pintu kamarnya malah tertidur dengan posisi berdiri dan lewatlah sudah mereka tidak menyadari Cat yang sudah keluar kamar. Sementara Cat terus saja berjalan tanpa ada yang melihat dan menyadarinya. Ini tentu saja tanpa hambatan. Hingga kedua kakinya berhasil menyentuh rumput. Itu artinya ia berhasil keluar.
Cat masih berjalan setengah sadar entah menuju kemana. Ia bahkan tidak merasakan dinginnya udara dibalik piyamanya yang tipis. Mungkin ia merasakan, namun hanya saja pikirannya kosong tidak terisi. Dan sampai saat
ini masih belum ada yang menyadari bahwa wanita yang dicintai Putera Mahkota tersebut melenggang entah kemana.
Cat masih berjalan selambat mungkin. Rambut terurai sedikit kusut, berjalan dengan kaki telanjang dan piyama selutut bawah lengan panjang.
“A-aku S-si-apa” gumamnya sambil terus menerus berjalan dengan tatapan kosong dan hampa.
Pikiran Cat benar-benar melayang saat melihat kolam buatan cukup besar dihadapannya.
“S-sungai!!!” Gumamnya lagi. Tatapannya nanar dan intens melihat ke satu arah yakni air kolam yang dianggapnya sebuah sungai. Hingga ia mendekat kearah kolam tersebut dan menyeburkan diri kedalamnya.
Bersambung
@yulia.fernanda__
Jangan lupa dukung dan baca juga
· Love in Seoul City
__ADS_1
· Cerita Julia dan Korea Selatan
· Cerita Julia dan Korea Selatan 2 .