The Future Princess

The Future Princess
Episode 6 / Gadis cerdas


__ADS_3

Happy reading, semoga suka.


Mendengar alasan Catrine yang cukup mengherankan baginya belum bisa membuatnya puas akan kekhawatirannya saat ini.


“Nak, ayah tidak mungkin memberikan alasan seperti itu dihadapan Raja.” Lewis mendekati sang anak, bersidekap


sambil memegangi kedua bahu anaknya.


“Jika kau tidak ingin menikah dengan Pangeran, pelan-pelan saja. Kenali lah mereka dulu. Masih banyak waktu ketika kau sampai berumur 18 tahun nanti. Kenalilah Pangeran terlebih dahulu. jika rasanya sudah lama Catrin mengenalinya dan rasanya Catrin tidak bisa? Maka kau harus bisa berbicara baik-baik dengan Pangeran. Mungkin ia bisa membantumu nanti” Cukup panjang nasihat yang diberikan Lewis kepada Catrin hingga ia bisa pelan-pelan menghentikan emosi dan tangisnya.


Sampai akhirnya Catrine mengangguk pelan namun tak rela / ikhlas menjawab nasihat Lewis.


---


Informasi mengenai turunnya titah dari Raja tentang petunangan Raja Andrea bersama Catrin telah tersebar ke seantero kerajaan, bahkan ke negara-negara tetangga. Disamping itu banyak pula berdatangan surat-surat ucapan selamat yang datang ke kastil Dominique. Ucapan selamat yang ditujukan kepada Catrine Maldovan


Dominique. Tumpukan ucapan yang saat ini berada di hadapannya. Catrin frustasi. Ia tidak ingin membukanya. Selain karna terlalu banyak yang harus ia baca satu persatu. Disisi lain ia tak suka dan lebih cenderung membencinya.

__ADS_1


Semenjak Catrin mendapat titah dari kerajaan. Ayahnya pun membawa beberapa guru pribadi untuk Catrin. Memang dikalangan bangsawan wajib memberikan ilmu sejak dini. Diumur Catrin yang berusia 5 tahun, Catrin harus belajar banyak. Untungnya Catrin bereinkarnasi dan masih mengingat semua pelajarannya saat dikehidupannya yang dulu. Tidak sulit baginya untuk mengulang itu kembali. Saat sang Ayah memperkenalkan guru kepada Catrin diruang bacanya.


“Sayang, dia adalah Willson atau biasa dipanggil Will. Dia adalah guru terbaik di Skanea. Dia yang akan menjadi gurumu” Ujarnya yang langsung memberi salam kepada Catrin


“Salam kepada Putri Catrin Maldovan Dominique. Saya Willson yang akan menjadi guru Putri mulai saat ini”


(Putri??? Aku masih belum bertunangan dengan bajingan itu dan nama putri telah terdengar ditelingaku) Catrin kesal bukan main dalam hatinya.


“Aku masih belum bertunangan dengannya, panggil aku Catrin saja” Ucapan dengan aksen kalimat dengannya seperti memberi tanda dan menggaris bawahi bahwa ia tidak suka. Dan itu termasuk dalam tindakan tidak sopan sebenarnya.


“Catrin, jaga bicaramu. Apa kau ingin orang-orang mendengar ucapan tidak sopanmu itu?” Ayahnya mulai kesal. Raut wajahnya menjadi tidak sedap untuk dipandang. Meskipun begitu Catrin terdiam.


Willson adalah guru terbaik di Kerajaan Skanea. Pria berumur kepala tiga ini sangat cerdas. Untuk menjadi anak didiknya, tak sedikit para bangsawan untuk menggontorkan uang sebanyak mungkin. Selain karna didikannya yang keras dan mampu membuat anak bodoh bahkan bisa menjadi pintar. Otak cerdas Willson tidak perlu diragukan lagi. Semua teori pelajaran telah ia kuasai. Namun bagi Catrin yang pernah hidup dua kali tentu tak begitu sulit baginya. Apalagi sejarah Skanea dulu.


---


Catrin pun mulai belajar dengan Will keesokan harinya diruang baca Catrin. Catrin cukup baik menerima pembelajaran dari Will.

__ADS_1


“Baiklah nona, karna ini adalah hari pertama nona belajar. Saya akan mengajari anda untuk mempelajari filsafat. Ini adalah buku pertama untuk pemula yang dibuat oleh Joe Martin. Isinya sangat mudah dipahami bagi pemula seperti nona” Sambil menunjukan buku tebal setebal 7inchi dihadapan Catrin.


(Dikehidupan yang dulu, ini sudah ku baca sebanyak 8x bahkan aku sampai hafal. Aku bahkan sudah menyelesaikan filsafat dari buku yang dibuat Felix Ten yang terkenal dengan tingkat kesulitannya. Apakah aku harus pura-pura tidak pernah mengetahuinya?)


“Ayah memiliki buku ini diperpustakannya, dan aku sudah membacanya sampai habis. Aku ingin kau memberi soal kepadaku dari buku itu untuk menguji kemampuanku” Ujar Catrin yang membuat Will tercengang.


Will pun langsung memberi soal untuk menguji kemampuan Catrin. Setelah selesai memberi soal dan menyerahkan kepada Catrin untuk diisi, Catrin pun langsung mengerjakannya tanpa ragu dan terlihat santai.


Tak sampai lima menit, tugas yang diberikan Will pun telah ia selesaikan dan ia beri kepada Will. Will yang menerima dan mengecek isi tulisan Catrin pun terkejut dengan jawaban yang baru saja ia baca. Matanya membulat sempurna tatkala ia membaca secara keseluruhan yang Catrin buat. Bahkan penulisannya pun rapi dan bagus layaknya seseorang yang telah biasa menulis. Will hanya terpaku dengan kecerdasan Catrin. Ia pun menguji Catrin.


“Nona, cabang apa saja yang nona ketahui tentang filsafat ini?” Ujar Will sambil menopang dagu diantara kepalan jari-jarinya yang bertumpu pada meja diatasnya.


“Epistemologi, Estetika, Etika, Filsafat Politik, Logika dan Metafisika. Itu cabang yang diketahui mengenai filsafat yang dipelajari.” Dengan santai Catrin menjawab pertanyaan Will.


“Apakah nona pernah membaca buku filsuf yang lain, atau yang nona sukai?” Tanya will kembali, berharap mungkin saja anak kecil berumur lima tahun ini pernah membaca buku filsuf yang lain.


“Aku suka filsuf Thomas Hobbes dari malmesburry tahun 1588, filsuf inggris. Pria yang memiliki pandangan konsep sudut pandang empirisme –materialisme lalu pandangan tentang hubungan manusia dengan sistem negara.

__ADS_1


“Luar biasa” Itu yang terbesit dipikiran seorang guru cerdas ketika ia mendengar dari mulut Catrin.


Bersambung.


__ADS_2