
Hidup ini sebenarnya seperti jembatan. Sebagai penghubung antara kehidupanmu saat ini dan kehidupanmu selanjutnya. Ada jembatan yang pendek dan lurus, ada pula jembatan yang panjang namun penuh dengan belokan.
“Cat, apa yang sedang kau lakukan??” Putra Mahkota Felix datang dipagi hari ke kamar Cat. Sebelumnya Cat mengalami panas tinggi dikarenakan adanya peradangan pada lukanya yang membuat kondisi tubuhnya menurun. Cat yang masih duduk diatas ranjang dengan gaun tidur yang masih menempel ditubuhnya pun segera bangun dan beranjak dari ranjangnya seketika saat Felix memasuki kamarnya, namun gerakan Cat langsung direspon Felix
seketika. “Jangan bergerak. Tetap saja diatas ranjangmu, kau masih perlu istirahat” Ujar Felix menghentikan langkah Cat.
“Yang Mulia, kondisi saya sekarang sudah baik-baik saja” Gumam Cat.
“Tidak, tetaplah disana.”
Cat mulai tak enak. Ia merasa kalau dirinya baik-baik saja saat ini. Hingga siang pun ia masih berada didalam kamarnya tanpa melakukan apa pun “Jamilah, bisa kau bawakan aku beberapa buku untuk dibaca??”
“Nona ingin buku apa?? Saya akan mencari dan membawanya kesini” Jawab Jamilah santun dan ramah.
“Apa saja Jamilah. Aku sangat bosan. Mungkin kau bisa carikan aku buku sejarah dan filosofi barangkali”
“Baik Nona, akan saya carikan” Ungkap Jamilah sambil meninggalkan kamar.
Tak lama kemudian Jamilah datang dengan membawa tumpukkan buku sejarah Kerajaan Imperial dan beberapa buku lainnya yang berhasil membuatnya kewalahan hingga memasuki kamar Cat. “Nona, ini buku-bukunya euhh” Cat langsung terkejut melihat Jamilah yang kesusahan membawa beberapa buku ditangannya “Jamilah apa kau baik-baik saja?? Aku akan membantumu” Cat segera bangun dari ranjangnya
“Tidak, jangan nona. Nona tidak boleh beranjak dari tempat tidur Ahh” Akibat susahnya ia membawa tumpukkan buku, semua buku pun terjatuh dan bertebaran ke lantai sebelum sempat Cat membantu.
“Nona, maafkan saya” Ungkap Jamilah sedih sambil merapikan tebaran buku yang berserak diatas lantai. “Tidak apa-apa Jamilah” Cat akhirnya berdiam diri dikamar sambil membaca semua buku yang dibawakan Jamilah dari perpustakaan. Ada beberapa buku rasanya sudah pernah ia baca dan ada juga yang belum.
__ADS_1
“Jamilah, sepertinya aku sudah membaca buku-buku ini. Aku sudah melihat isinya satu persatu dan aku sudah hafal semuanya” Menepuk satu tumpukan buku yang berada disamping kirinya.
“Benarkah Nona??” Tanya Jamilah bingung. Sementara jumlah buku yang ia sebut sudah ia baca lebih banyak ketimbang yang belum ia baca. Itu artinya ia harus kembali ke perpustakaan dan membawa beberapa banyak
buku lagi. “Jamilah, bawalah salah satu pelayan yang lain agar kau tidak kesulitan” Cat merasa kasihan jika Jamilah yang membawa semua tumpukan buku itu sendirian.
“Baik Nona” Jamilah mulai mengumpulkan beberapa buku yang telah diasingkan Cat disebelahnya bersama satu pelayan yang lain. Jamilah pun pergi meninggalkan kamar Cat. Sambil menanti kedatangan Jamilah dengan beberapa buku terbaru, Cat tampak focus dengan bahan bacaannya tanpa ada yang mengusik.
“Cat?!”
“Ya?!”
Cat langsung menoleh kearah sumber suara, namun tak ada seorang pun dikamarnya. Suara laki-laki yang begitu familiar mengusik telinganya seakan ada yang memanggilnya.
“Apa aku berhalusinasi??” Pikirnya saat itu dan ia akhirnya melanjutkan kembali membaca buku.
“Tidur Nona sangat pulas sekali. Aku tidak tega untuk membangunkannya”
“Baiklah, sebentar lagi saja aku membangunkan nona. Dia seperti kecapekan karna terus membaca buku” Jamilah melanjutkan pekerjaan yang lain selagi menunggu Cat terbangun dari tidurnya.
---
Cat berjalan diatas tumpukkan mayat dan pesingnya bau darah disekitarnya. Ia berjalan bertelanjang kaki dengan tubuh yang bergetar hebat. Baru saja terjadi peperangan hebat didepan matanya dan banyaknya korban yang berjatuhan. Ia berjalan diantara kerumunan mayat dengan berbagai macam luka yang mengerikan. Ada yang anggota tubuhnya ditusuk, ada juga anggota tubuh yang tidak lengkap akibat sebatan pedang. Pemandangan itu sungguh ironis dan membuatnya ketakutan hebat.
__ADS_1
Cat mulai mencari seseorang diantara para prajurit yang masih hidup atau pun mati. Tapi sungguh didalam doanya ia ingin seseorang yang ia cari itu dalam keadaan hidup atau selamat.
“Y-yang Mulia?!” Panggil Cat menggigil. Seluruh pandangannya tersapu melihat kesegala arah. Berharap bertemu dengan orang yang dicari.
“Y-yang Mulia. Apakah anda masih hidup?,” Cat mencari dengan penuh sesak didadanya. Ia menahan dengan segala cara agar air matanya tak tumpah ditempat itu. Meskipun bau darah yang begitu pekat dihidung? ia masih sanggup menahannya.
“Yang Mulia??! Anda dimana?? Anda tidak boleh mati” Cat masih berusaha mencari dimana pun. Ia mulai menggeser satu persatu mayat untuk bisa mengenali wajah yang ia cari. Tapi tak ia temukan dengan perasaan
merinding melihatnya. Hampir lelah ia mencari. Akhirnya titik terang pun muncul. Pedang milik seseorang yang ia cari, ia temukan diantara onggokan mayat. Ia berjalan pelan kearah pedang tersebut.
Cat meraih gagang pedang tersebut yang telah dipenuhi darah yang masih segar. Ia duduk bersimpuh sambil menatap pedang tersebut. Hingga tembok pertahanannya runtuh seketika.
”Huuhuuuuu hiks hiks”
Ketika melihat benda itu?? Perasaannya berkata, bahwa seseorang yang ia cari telah lenyap dan pergi selama-lamanya.
Bersambung
@yulia.fernanda__
Baca juga
· Love in Seoul City
__ADS_1
· Cerita Julia dan Korea Selatan
· Cerita Julia dan Korea Selatan 2