The Future Princess

The Future Princess
Episode 16 / Kebencian yang sama.


__ADS_3

Bug,….


Cat tersungkur ketanah


“Tuan Putri” Pangeran Ernest berteriak dan segera menolong Cat. Semua yang melihat pun terkejut, kuatir dan segera menolongnya saat itu. Teriakan demi teriakan semua orang yang berada diarea itu langsung terdengar di telinga Ayah Cat dan Putra Mahkota yang tidak jauh dari area tersebut. Ayah Cat reflek mengejar putrinya termasuk Putra Mahkota saat itu.


Cat terluka dibagian tempurung kaki dan juga dipergelangan tangannya. Untung saja Kuda tak melukainya. Cat mencoba berdiri namun badannya terasa goyang. Ternyata pergelangan kakinya terkilir, ia terduduk kembali hingga Pangeran Ernest datang dan menggendong Cat ala bridal.


“Sayang, kau tak apa?” Tanya sang Ayah. Kedua pelayan dan Henry pun juga datang setelah itu.


“Aku akan membawanya kedalam dan menemui dokter” Ujar Pangeran Ernest.


“Berikan dia padaku” Suara Putra Mahkota mengalihkan perhatian orang-orang disekitar itu.


“Tidak apa-apa Yang Mulia biar saya saja yang membawa Putri” Gumam Ernest.


“Biar aku saja, dia tunanganku” Andrea memberi penekanan pada kalimatnya. Pangeran Ernest terdiam, ia hampir lupa kalau dihadapannya adalah Tunangan Cat. Cat pun juga terdiam melihat Putra Mahkota yang tiba-tiba baik kepadanya. Pangeran Ernest pun menyerahkan Putri Cat di pangkuan Andrea. Kini Andrea menggendong Cat dengan hal yang sama seperti Pangeran Ernest tadi. Layaknya ala bridal pernikahan.


Putri Cat pun terpaksa melingkarkan kedua tangannya di leher Andrea.


Shane takjub dengan perhatian Putra Mahkota yang membuatnya bingung, selama ini Putra mahkota tersebut tidak menyukai Putri Cat. Namun ia melihat hal yang berbeda dari Putra Mahkota tersebut. Putra Mahkota membawa Cat ke kamarnya. Lalu meletakkan Cat ditepi ranjang. Cat terduduk ditepi ranjang dan terdiam. Badannya berkeringat dan bergetar.


Tak lama dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaan Cat.


“bagaimana lukanya” Tanya Andrea dingin.


“Yang Mulia untung saja luka Putri tidak parah, ini hanya luka luar. Bila diobati akan segera sembuh dan lukanya akan cepat mengering.”

__ADS_1


“Apakah lukanya tidak akan berbekas?” Tanya Ibu Cat cemas.


“Luka Putri tidak akan berbekas nyonya” Jawab sang dokter.


“Ahh syukurlah” Ayah dan Ibu cat langsung bernafas lega.


Karna terlalu banyak yang berada dikamar Cat, Andrea meminta semua orang untuk meninggalkannya didalam bersama Cat. Akhirnya semuanya pergi tak terkecuali. Kini hanya Cat dan Andrea saja dikamar itu. Cat terdiam


dan bergetar. Entah apa yang dilakukan Andrea terhadapnya kali ini.


Andrea duduk disamping Cat dan mengambil kapas alkohol dan membersihkan luka ditangan dan kakinya. Cat takjub dan tak percaya. Andrea membalut lukanya dengan lembut meskipun tidak terlihat lihai pada umumnya karna memang bukan itu keahliannya. Cat mencoba menahan sakitnya karna perih tersentuh tangan Andrea.


“Apakah sakit?” Tanya Andrea.


“Terima kasih Yang Mulia, Yang Mulia tidak perlu repot-repot membersihkan lukanya. Saya bisa melakukannya sendiri.” Jawabnya.


“Apakah kau tidak suka aku membersihkan lukamu?” Tanyanya sambil menghentikan aktifitasnya


“Lalu kau ingin Ernest saja yang membersihkan lukamu begitu?” Cat terdiam, ia bingung ingin menjawab apa.


“Kau lebih suka disentuh Ernest dibanding denganku?”


“Hamba tidak berani Yang Mulia”


“Lalu??” Andrea kembali bertanya. Sementara Cat terdiam, ia benci situasi canggung seperti ini. Nafasnya seperti tercekat bila didekat Andrea.


“Bukankah Yang Mulia tidak menyukai hamba?”

__ADS_1


Andrea terkejut “Kenapa memangnya jika aku tidak menyukaimu?” Air muka Andrea tampak tak senang. Ia pun menyadari yang ia lakukan saat ini. Namun entah kenapa ia langsung berinisiatif menggendongnya dan mengobatinya seperti saat ini.


Sesaat mereka membisu, terdiam dalam kehanyutan dalam bayang masing-masing. Cat menundukkan wajahnya tak ingin melihat raut wajah Andrea.


“Karna saya juga tidak menyukai anda Yang Mulia”


Sontak kata-kata Cat menghujam jantung Andrea, ribuan anak panah telah menancap dan menusuk dijantungnya. Sungguh sulit ia terima.


Pak……


Andrea lekas bangun dan membuang kesembarang arah nampan berisi obat-obatan, emosinya tersulut. Amarahnya naik beberapa level disertai tatapan tajamnya kearah Cat. Cat terdiam, tak kuasa menatap kedua manik milik Andrea. Kata-katanya mampu menyulut emosi Andrea naik bagaikan gunung berapi yang siap mengeluarkan larvanya. Andrea semakin maju dan menangkap sebelah tangan Cat, ia mencengkramnya dengan kuat hinggat Cat


meringis kesakitan.


“Ughhh Y,yang Mulia” Lirihnya pelan menahan cengkaraman Andrea.


“Kau begitu membenciku, tapi kau begitu dekat dengan Pangeran Ernest. Apa kau tidak tahu statusmu?” Bisiknya ditelinga Cat.


“Apa Yang Mulia cemburu?” Cat membalas nanar tatapan Andrea, sungguh, rasa takutnya pelan-pelan harus ia campakkan.


“Aku tak perlu cemburu dengan hal sepele seperti itu, tapi bisa kau bayangkan harga dirimu jatuh ketika orang-orang mulai membicarakanmu dan itu akan terdengar oleh Kaisar nanti. Lalu apa tindakan yang diambil Kaisar nantinya?” Bisik Andrea kembali. Andrea menekankan pada kalimatnya bahwa Catrin harus berhati-hati akan statusnya jika Kaisar tidak murka terhadapnya. Apalagi Ernest adalah pangeran dari negeri sebelah. Otomatis


itu bisa berdampak buruk terhadap kedua Negara tersebut.


“Kami hanya berteman, tidak ada yang salah dengan itu” Jawab Cat membela. “Terserah kau” Andrea melepaskan cengkaraman tangannya dan pergi berlalu meninggalkan Cat dengan langkah yang begitu membara tersulut


emosi. Garis wajahnya menakutkan saat ia keluar kamar dan diperhatikan oleh keluarga Cat termasuk Ernest.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan komen dan likenya ya. Terima kasih.


Bersambung.


__ADS_2