
Cat dan Putri Rani terlelap sudah setelah bergulat lamanya membaca buku dengan berbagai expresi yang menggelitiknya ketika membaca beberapa novel diperpustakaan pribadi milik Putri Rani. Tak sadar waktu selalu berjalan hingga salah satu diantara mereka lupa mengabari pelayannya dimana kondisinya berada. Ya, Cat
lupa akan keberadaan Jamilah yang sedari tadi telah mencarinya hingga Putera Mahkota pun turun tangan mencari keberadaannya dengan perasaan takut tak terelakkan.
Takut yang bisa saja tiba-tiba wanita itu ingat akan siapa dirinya sebenarnya dan lalu pergi begitu saja meninggalkan ia yang sudah terlanjur basah memberikan ruang lebar dihatinya untuk sebuah nama yang selalu
mengusik di ingatannya.
Kini wanita itu terlelap bagai seperti bayi, polos dan menggemaskan. Bagaimana hatinya tidak luluh ketika setiap kali ia memandang wajah itu selalu saja Jantungnya dibuat tak normal. Ia bahkan tak memandangi wajah adiknya yang sebelumnya ia khawatirkan juga.
“Bawa Putri ke kamarnya” Titah Felix yang langsung segera dilakukan oleh para pelayan. Dan ia pun pelan-pelan mengangkat tubuh Cat dengan kedua tangannya. Tubuh kecil itu menggeliat sedikit ketika Felix menggendongnya ala bridal style. Ia tersenyum memandangi wajah Cat yang sedang terlelap dan tak menunjukkan reaksi terganggu oleh gerakannya. Hampir saja Felix tergoda dengan bibir ranum Cat yang begitu menggoda imannya.
Felix telah sampai di Kamar Cat. Ia lalu meletakkan tubuh Cat dengan hati-hati diatas ranjangnya meski pun tubuhnya sedikit menggeliat ketika Felix melepasnya. Kini tubuh kecil itu telah nyaman beristirahat diatas kasurnya. “Selamat malam, bermimpi indahlah” Bisiknya ke telinga Cat saat itu dan pergi berlalu meninggalkannya. Jamilah yang melihatnya pun ikut tersentuh dan merona ketika Cat yang dilihatnya seperti dicium oleh Felix. Padahal itu adalah sebuah bisikan.
Jamilah pun bersigap mengganti pakaian Cat dengan gaun malam agar nonanya lebih nyaman beristirahat. Setelah selesai, barulah ia tinggalkan dan kini akhirnya ialah yang harus melelapkan dirinya dari rasa letih bekerja seharian.
---
Cat memandang pilu kepala Felix yang diletakkan dan ditancapkan ke sebuah tongkat untuk dipertontonkan dihadapan para seluruh tentara kekaisaran. Hatinya hancur bagai diledakkan bom atom. Air mata telah mengering. Mungkin saja air matanya telah habis karna selalu menangis tanpa henti melihat sebagian tubuh itu diletakkan diawang-awang.
Saat sesuatu benda mulai mengalihkan perhatinnya dan merasa menarik dirinya. Ia pun berusaha menepis dan melepaskannya. Seseorang dari belakang meraih tangannya lalu menyeretnya untuk pergi meninggalkan tempat
__ADS_1
tersebut. “Tidak” Rengeknya dengan berusaha melepaskan pegangan tangan seseorang tersebut yang tidak dapat ia lihat dengan jelas wajahnya.
“Kita harus pulang dan kembali” Ungkapnya yang berusaha menarik Cat menuju ke satu Kuda yang siap mengantarnya pergi dengan pria tersebut.
“Tidak. Aku tidak mengenalmu. Lepaskan aku” Cat berusaha melepaskan pegangan pria bertubuh tegap tersebut. Entah apakah mungkin pria itu mengenalnya sehingga ia diseret dan dikatakan harus pulang. Tapi sungguh demi apa pun, ia tidak ingin pergi kemana pun dan lebih memilih bersama tubuh Felix yang tak berutuh tersebut.
“Jangan bawa aku” Pekiknya yang membuat pria itu sedikit kewalahan.
“Jangan” Cat merengek sambil sesekali memperhatikan potongan tubuh Felix yang semakin lama semakin mengecil dipandangannya. Hingga sesuatu tiba-tiba membakar potongan tubuh tersebut dan membuat raut wajahnya semakin berubah tak percaya dengan kedua manik yang membulat sempurna.
“Tidaaaaaakkkkkkkkkkkk” Teriaknya tak terkendali dan.
“Ahh” Nafas Cat tersengal-sengal dengan semburan keringat seukuran jagung dipelipisnya. Detak Jantungnya lebih kencang. Ia segera bangun dan berlari meninggalkan kamarnya. Ia tak memperdulikan kondisi tubuhnya yang
Deru Jantungnya semakin kencang memikirkan pria itu. Bagaimana mimpinya begitu terasa nyata hingga ia harus memastikan sendiri kondisi Felix dan meyakinkannya untuk jangan mati suatu saat nanti. Air matanya berurai memikirkan. Rasanya ia sangat takut sekali. Sangat-sangat takut bila hal itu terjadi.
Langkah larinya yang tak memperdulikan sekitar membuat keinginannya semakin melesat mencari kediaman Putera Mahkota Felix dengan kaki telanjang. Hingga ia berhasil menemukannya dan membuka pintu tersebut dengan kasar.
Krekk…
Felix yang masih sibuk dengan pekerjaanya langsung terhenjak kaget dan terkejut melihat Cat yang berada diambang pintu kamarnya. Dengan kondisi memakai baju piyama putih, tanpa alas kaki dan rambut yang terurai panjang Cat melangkah gontai mendekati Felix yang tertegun melihatnya.
__ADS_1
“Y-yang Mulia” Dengan air mata yang masih menganak sungai, selangkah dua langkah ia pun mempercepat ritme langkahnya dan berlari ke hadapan Felix sambil merentangkan kedua tangannya. Felix yang melihatnya pun
menundukkan sedikit tubuhnya dan ikut merentangkan kedua tangannya menyambut tubuh Cat seketika dipelukannya. Hingga ia membalikan kondisi tubuhnya semula dan mempererat pelukannya terhadap Cat.
Meski pun ia bingung apa yang terjadi dengan Cat yang tiba-tiba datang menghampirinya dengan kondisi menangis, namun dibalik itu ia sangat senang.
“J-jangan tinggalkan saya” Pinta Cat diantara serak tangisnya ditelinga Felix. Felix terkejut sekali lagi.
“Cat ada apa denganmu??” Tanyanya tak mengerti.
“Yang Mulia tidak boleh mati. Yang Mulia harus tetap hidup disisi saya” Felix menyambut dengan senyuman hangat dibibirnya. Ia mengerti bahwa Cat tidak ingin kehilangannya meski pun ia tahu, sepertinya wanita ini baru saja mimpi buruk dan mimpi itu pasti berisi tentangnya. Disanalah rasa bangga, haru dan bahagia menyelimuti dirinya. Ia baru saja dimimpikan oleh seorang wanita yang ia cintai.
Bersambung
@yulia.fernanda__
Jangan lupa dukung dan baca juga
· Love in Seoul City
· Cerita Julia dan Korea Selatan
__ADS_1
· Cerita Julia dan Korea Selatan 2