
“Kretttt” Seorang dayang mencoba membukakan gagang pintu tersebut. Saat mereka masuk dan melihat isi dalamnya, yang ada kosong tanpa barang apa pun.
“Hei. Apa kalian benar-benar yakin dia tinggal disini??” Tanya Putri Rani agak jengkel.
“Menurut orang-orang yang saya Tanya benar begitu Putri. Mereka yakin tinggal disini” Kata seorang dayang.
“lalu kenapa rumah ini terlihat tidak berpenghuni??” tambahnya kesal lagi dan itu membuat sidayang mulai takut.
“Kalian siapa dan ada perlu apa datang kemari??” Suara serak dan bariton itu datang tiba-tiba dari arah pintu lain. Awalnya sosok itu tidak terlihat karna kondisi rumahnya yang hampir gelap gulita tanpa penerangan. Padahal ini masih siang hari. Dan tampak semua jendela tertutup rapat tanpa membiarkan udara keluar masuk dibangunan itu. Hingga siempunya terlihat dikarenakan cahaya dari pintu yang mereka buka.
Namun, sosok yang mereka lihat membuat semuanya terhenjak kaget. Pria paruh baya yang terlihat lusuh tersebut tidak memiliki kedua tangannya alias buntung. Lalu bagaimana laki-laki itu bisa menulis novel dengan kondisi tersebut??. Apakah ia mahir menulis menggunakan kaki?.
“Ada perlu apa kalian datang kemari?? Tanyanya sarkas dan sedikit tidak suka. Apalagi melihat dandanan orang-orang yang datang tanpa undangan darinya membuatnya sedikit aneh.
“Apakah anda tuan novelis yang membuat novel berjudul Putri bangsawan dan penjaga istana ?? Tanya Putri Rani berani.
“Bukan aku. Kalian salah orang. Lebih baik kalian pergi” Pria tersebut hendak mengusir mereka namun Cat mencoba menghadang.
“Kalau begitu apakah anda tahu siapa penulis buku tersebut. Kami ingin membelinya” Cat mencoba menghadang pria tersebut agar tidak mengusirnya dari sana.
“Nona-nona. Lebih baik anda pulang dan bersihkan diri anda setelah dari sini. Ini tempat kumuh yang tidak layak kalian singgahi” Jawabnya lebih ketus.
“Apakah karna pajak??” Pria itu terhenti saat mendengar kalimat dari Putri Rani.
“Aku yakin jika bukan anda, pasti ada orang lain ditempat ini yang membuat novel tersebut. Kalian tidak berani mengedar dan menjualnya pasti karna pajak yang terlalu tinggi bukan ??” Tambah Putri Rani yang membuat pria buntung itu terdiam.
__ADS_1
Wajah pria tersebut berubah dari masam menjadi seperti orang normal.
“Cepat kalian tutupi pintu itu dan ikuti aku. Aku tidak ingin orang-orang melihat kearah gubukku dengan tatapan aneh” Tuturnya sambil membelokkan badannya ke satu pintu dan berjalan kesana.
Para kesatria yang ikut pun menutup pintu tersebut dan berjaga didalamnya. Selebihnya kesatria lain seperti kesatria Robert ikut menemani mereka kedalam mengikuti pria paruh baya tersebut.
“Untuk apa kalian datang jauh-jauh kemari. Wilayah ini selalu dijaga ketat oleh pengawal karna mereka takut ada penyelundupan disekitar sini. Mereka berfikir bahwa kami menjual dan menyelundupkan barang agar tidak dikenakan pajak. Padahal mereka menaikkan pajak dengan harga tinggi hingga para pedagang kesulitan untuk menjualnya” Ungkap pria tersebut sambil tetap berjalan mengarah ke satu tujuan.
Pria tersebut meraih gagang pintu dan membukanya. Dan tampaklah beberapa rak buku yang terpajang berantakan. Lantainya juga dipenuhi beberapa buku lama dan kertas-kertas yang bertebaran. Ada juga beberapa lukisan seperti gambar pengawal, raja, ratu, pangeran dan wanita bangsawan yang terlihat. Dan terlintaslah beberapa keanehan diluar nalar mereka saat memperhatikan tebaran kertas lukisan tersebut, siapakah yang menggambarnya??? Pikir mereka masing-masing.
“Ayah???” Panggil seorang anak dari balik pintu. Semuanya serentak melihat kearah sisumber suara. Anak laki-laki dengan baju sedikit lusuh dan memakai topi baret. Dari tinggi dan wajahnya bisa dibilang umur anak tersebut sekitar 10-12 tahun. Tidak jauh beda dengan Yang Mulia pangeran dan Putri. Ia memeluk beberapa kertas dengan sebelah tangan didadanya.
“Kemarilah” Ucap sang Ayah dan anaknya pun menghampiri.
“Ini adalah anakku Lucas. Dialah orang yang kalian cari” Dan sontak semuanya terkaget-kaget. Anak kecil berumur dibawah remaja tersebut adalah seorang novelis romantis?? Sungguh tidak bisa dipercaya, pikir mereka.
“Jadi kau yang membuat novel Putri bangsawan dan penjaga istana itu ??” Tanya Putri Rani tidak percaya.
“ia. Memang dia yang membuatnya” Balas pria paruh baya tersebut yang seolah-olah menjadi juru bicara anaknya.
“Wahh luar biasa.” Puji Putri Rani.
“ Apakah saya boleh bertanya satu hal” Tanya Catrin.
“Katakanlah” Jawab pria tersebut.
__ADS_1
“Tuan, cara bicara anda terlalu lancang dan tidak sopan. Mereka adalah..” Ujar seorang dayang tidak suka yang langsung dipotong oleh Rani.
“Hei hei hei… sudah biarkan saja” Ungkap Putri Rani memotong kalimat si dayang.
“Ini mungkin bukan sebuah pertanyaan tuan. Tapi bekerjalah dengan saya”
Aha, seketika semua mata mulai melirik kearah Cat. Cat seperti membuka peluang yang manis untuk mereka, terutama Putri Rani sendiri yang hoby dengan novel klasik. Putri Rani pun bergerak, berjalan menghampiri
beberapa rak buku tersebut dan mengambil salah satunya.
“Apakah aku boleh lihat-lihat” Tanya Putri Rani. “Silahkan” Balas lelaki itu.
“Lalu kerjasama apa yang akan anda tawarkan nona??” Tanya lelaki bersuara serak bariton tersebut.
Bersambung
@yulia.fernanda__
Jangan lupa dukung terus dengan cara vote, love, like, sharing plus komen. Dan baca juga
· Love in Seoul City
· Cerita Julia dan Korea Selatan
· Cerita Julia dan Korea Selatan 2.
__ADS_1