
Bau gosong yang hampir tercium di indra penciumannya. Para dayang terutama Shane hampir tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka. “Makanlah ini Yang Mulia. Saya membuatnya pagi subuh tadi. Karna harus
dimasak dihari yang sama, jadi saya segera membuatnya bersama koki Istana” Ujar Cat. Ia juga tidak mencoba masakannya kali ini sama dengan yang kemarin.
“B-benar ini kau yang membuatnya?” Tanya Andrea lagi. “Benar Yang Mulia” balas Cat sedikit tersenyum.
“Glek” Andrea lagi-lagi menelan salivanya bulat-bulat. Cat juga sudah stand by melayangkan sendok emas tersebut dihadapan Andrea. “Umm” Satu suapan telah mendarat masuk kedalam mulut Andrea. Ia tidak mengunyahnya dan langsung menelan bulat-bulat. Rasa pahit mulai bertebar didalam mulutnya. “Bolehkah aku minum?” Tanya Andrea. Cat pun segera memberi minuman, untung saja Cat tidak paham kenapa Andrea yang baru menelan makanan sekali meminta minuman.
Hari-hari berlalu setelah insiden kejadian na’as yang menimpa Cat dan Andrea. Hampir setiap pagi Cat menjenguk Andrea dan cukup kedua kalinya ia memasak untuk Andrea, sebab saat itu ia mencoba ikan buatannya dan
ternyata ikan itu benar-benar tidak layak untuk dimakan. Setelah itu ia meminta maaf kepada Andrea dan berjanji jika ia membuatkan makanan, ia harus mencobanya terlebih dahulu.
“Akhhh, akhh heuhhh heuhh heuh, shane!!” Ditengah malam Andrea terbangun. Kedua matanya terasa sangat perih dan serasa dibakar. Shane yang saat itu sedang berada diluar langsung menghampiri Andrea. “Y-yang Mulia!!” Andrea terdiam sejenak setelah berlarian masuk kedalam. Kedua pipi Andrea dibasahi air mata. Matanya agak memerah. “Ambilkan aku air. Mataku sangat perih heuh”. Shane tergopoh-gopoh membawa ember berisi air kehadapan Andrea.
Andrea pun segera membasuh matanya selama beberapa detik. Namun tidak ada perubahan, tetap saja matanya teriris perih. “Panggilkan Catrin heuhh. Rasanya kedua mataku akan pecah akhh”. Shane pun berlarian keluar
dan memanggil Catrin.
__ADS_1
“Brakk!!. Yang Mulia” Catrin yang masih mengenakan baju tidur langsung masuk tergesa-gesa didalam kamar Andrea. Pria itu tampak sedikit menyedihkan. Air mata membanjiri kedua pipinya. Itu bukan karna sedih. “Cat, tolong aku” Andrea memohon dengan nada rendah. “Ambilkan haduk kecil dan basahkan dengan air. Kedua mata Baginda harus dikompres” Ujarnya khawatir.
Satu jam kemudian barulah Andrea tenang. Ia kembali berbaring diatas ranjangnya. Sedangkan Cat duduk ditepi ranjang sambil memantau kondisi Andrea disebelahnya. Ia tidak bisa kembali ke kamarnya karna sesekali Andrea merengkuh kesakitan dalam keadaan tertidur. “Yang Mulia, biar kami saja yang menjaga Baginda” Ujar ketua dayang. Mereka pun ikut terbangun karna Andrea.
“Tidak. Biar aku disini saja. Kalian bisa lanjutkan istirahat kalian. Kalian pasti lelah tadi mengurus Baginda yang kesakitan”. Cat memang wanita berhati baik, ia membiarkan para pelayan dan dayang untuk beristirahat. “Itu tidak mungkin Yang Mulia putri. Kami akan dihukum jika tidak menjaga Yang Mulia Putera Mahkota sementara Putri bergadang menunggu Putera Mahkota” ujar dayang tersebut.
“Ini perintah. Kalian beristirahat dan bangunlah pagi hari untuk membantu Yang Mulia. Biar aku disini yang menungguinya huffttt. Apa kalian ingin Yang Mulia terbangun karna suara kalian??” Cat lelah untuk beradu dengan seorang dayang. Ia ingin focus menjaga Andrea tanpa terusik. “M-maafkan kami Yang Mulia. Kalau begitu kami pamit undur diri”. Mereka pun keluar meninggalkan kamar Andrea.
Cat menunggui Andrea dengan mata terkantuk-kantuk. Sesekali ia mengganti kompres air dan melekatkannya kembali kemata Andrea. Ia ingin sekali minum kopi mala mini, tapi ia enggan membuat para pelayan sibuk dan terbangun gara-garanya. Lebih baik ia tahan saja. Ia menahannya hingga pagi menjelang. Setelah waktu menunjukkan pukul 05 subuh, seorang dayang yang tadi berargumen dengan Cat pun datang.
Pagi itu, Andrea tengah diperiksa oleh Dokter Cleyton. Malam sebelumnya tiba-tiba mata Andrea perih dan serasa terbakar. Pagi esoknya dokter Cleyton pun datang memeriksa kondisi matanya “Yang Mulia, ini seperti sebuah keajaiban”.
“Maksudmu?” Tanya Andrea. “Saya sudah memeriksa kedua mata anda dan sepertinya ini bisa disembuhkan. Ini adalah keajaiban Yang Mulia” Para dayang, pengawal termasuk Cat turut gembira mendengarnya. “Benarkah tuan Cleyton??” Tanya Cat tidak percaya.
“Benar Tuan Putri. Saya berharap yang Mulia bisa segera melihat lagi. Saya akan membuat beberapa ramuan obat. Menurut penglihatan saya metode ini tidak terlalu sulit tapi juga tidak terlalu gampang. Asalkan Yang Mulia menuruti yang saya anjurkan maka penyembuhan bisa dapat dilakukan. Hamba turut bahagia Yang Mulia”.
Ini seperti keajaiban. Entah kenapa rasa perih dan terbakar pada malam itu rupanya adalah titik proses penyembuhan yang didapat Andrea. Yang Mulia Raja dan Ratu juga ikut bahagia. Ia berjanji jika Andrea sudah dapat melihat, maka Andrea sudah bisa melangsungkan pernikahan dengan Catrinel.
__ADS_1
Dan semenjak itulah tuan Cleyton rutin datang mengobati mata Andrea. “Yang Mulia, obat ini memang akan terasa sedikit perih dimata. Apakah Yang Mulia bisa menahannya?” Ujar tuan Cleyton. “Lakukan saja tuan Cleyton” Balas Andrea kemudian. Setelah setiap pagi melakukan pengobatan, kemudian Andrea akan berjemur dibawah sinar matahari pagi ditemani para dayang dan pengawal istana.
Ada yang sedikit berbeda pagi hari itu atau lebih tepatnya ada yang kurang. “Aku tidak mendengar suara Cat. Biasanya pagi hari dia datang sarapan bersamaku.” Tanya Andrea. “Tuan Puteri sedang ada jamuan teh bersama para lady bangsawan Yang Mulia” Balas Shane. “Jamuan??” Tanya Andrea sedikit kaget. Jarang ia mendengar kalau Cat mengadakan pertemuan dengan kelas atas.
Mimik wajah Andrea langsung berubh suram seperti hitam. Ia berani absen tidak menemuinya dipagi hari, padahal rutinitasnya selalu datang menjenguk dan menyuapinya sarapan.
Bersambung
@yulia.fernanda__
Jangan lupa dukung terus dengan cara vote, love, like, sharing plus komen. Dan baca juga
· Love in Seoul City
· Cerita Julia dan Korea Selatan
· Cerita Julia dan Korea Selatan 2.
__ADS_1