
Cat berjalan-jalan dan berhenti disebuah museum kerajaan yang diceritakan Jamilah “Apakah kita boleh masuk kedalam?” Tunjuknya sambil melihat dua penjaga museum yang berdiri tegap menjaga pintu museum.
“Saya tidak yakin nona, karna yang boleh masuk kesana hanya keturunan raja dan para pejabat saja” Ungkap Jamilah.
“Baiklah, tidak apa-apa. Aku tidak terlalu ingin tahu tempat itu” Gumamnya sambil lanjut melangkah pelan.
Keberadaannya yang melewati setiap sudut istana menjadi pandangan mencurigakan bagi yang melihat. Mereka melirik dengan penuh tanya dibalik kain renda tersebut. “Jangan dipikirkan nona. Mereka mungkin hanya penasaran saja” Ungkap Jamilah menenangkan.
“Aku tahu Jamilah” gumamnya tanpa mengindahkan pandangan orang-orang tersebut.
“Doooorrrrrr”
“Ahh” Cat terkejut saat mendengar suara ledakan aneh.
Jamilah pun reflek terhenjak karna Cat. “Apa itu??” Tanya Cat mulai merinding.
“Ahh itu adalah suara pistol nona”
“P-pistol??. Apa kalian tidak segera mengeceknya?? Kenapa tidak ada orang yang segera mengeceknya?? Bukankah itu seperti ledakan? Bisa saja ada terjadi sesuatu??” Cat merinding ketakutan.
“Nona, suara itu berasal dari para kesatria yang sedang latihan. Para kesatria yang tadi lalu lalang itu menunjukan kalau kita hampir mendekati asrama para kesatria dan tempat latihannya.
“Jujur saja tempat latihan para kesatria adalah tempat favoritenya para pelayan disini”
“Termasuk kamu???” Tanya Cat mencurigai.
“Saya sih tidak terlalu begitu, tapi teman-teman pelayan yang lain yang selalu begitu. Pekerjaan favorite pelayan disini selain menjadi pelayan pribadi Putera Mahkota ya menjadi bagian dari pelayan kesatria” Terlihat memang dari raut wajah Jamilah yang tidak terlalu menyukai hal tersebut.
“Apa kau tidak menyukai salah satu pria kesatria yang ada disini??” Tanya Cat menyelidiki.
__ADS_1
“orang seperti saya tidak punya waktu untuk memikirkan hal demikian nona. Sebelum menjadi pelayan nona. Saya bertugas dibagian pencucian dari pagi hingga sore. Jadi jarang bertemu dengan para kesatria” Jawab Jamilah
lugas.
“Berapa umurmu??” Tanya Cat kembali.
“Umur saya sekarang 16 tahun nona” Jawabnya.
“Dorrrrr, dorr, dorr”
“Ahh” Cat masih tak terbiasa dengan suara ledakan aneh ditelinganya.
“Apakah kita perlu ketempat lain nona??” Tanya Jamilah sedikit khawatir.
“Ahh tidak, aku malah lebih penasaran tempat latihannya” Jawab Cat mulai menguatkan diri.
“Apa nona yakin??” Tanya Jamilah yang direspon anggukan oleh Cat.
“Pangeran Ren dan Putri Rani??” Tanya Cat penasaran.
“Mereka adalah adik kembar Yang Mulia Felix. Sepertinya mereka sedang latihan menembak. Yakk mereka lucu-lucu sekali. Ayo nona kita melihat lebih dekat” Jamilah memegang tangan Cat dan mneyeretnya menuju latihan Pangeran Ren dan putra Rani lebih dekat dan membuat Cat hampir sempoyongan dengan langkah lari Jamilah yang agak sulit ia sesuaikan.
Saat ia berhenti disuatu tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan kedua pewaris kembar tersebut. Jamilah tampak bahagia dan memberi semangat kepada kedua pewaris kembar itu dengan menggebu-gebu. “Yakk
mereka lucu sekali” Ungkap Jamilah berlebihan. Sedangkan Cat hanya bisa takjub dengan benda yang dipegang oleh sikedua anak kembar tersebut.
Dengan menggunakan baju latihan, si kedua pewaris kembar tersebut tampak focus dengan latihannya. Dengan didampingi seorang kesatria berpangkat tinggi, mereka tampak focus dengan target yang mereka lihat.
“Dorrr” Itulah tembakan terakhir yang langsung disambut teriakan oleh para kesatria yang menonton termasuk Jamilah sendiri. Suasana latihan tersebut tampak tidak asing bagi Cat. Rasanya ia pernah berada dalam dituasi tersebut, tapi entah kapan.
__ADS_1
Kedua pewaris tersebut tampak biasa saja saat semua kesatria meneriakinya dengan bangga. Putri Rani yang langsung bersiap-siap meninggalkan latihan mulai terusik dengan keberadaan Cat yang tidak sengaja terpantau oleh lirikannya. Ia melihat kearah Cat dengan intens secara terang-terangan. “Siapa wanita memakai renda aneh itu??” Tanya Putri Rani kepada kesatria yang berada didekatnya.
“Ahh saya juga baru meliatnya Putri” Jawab si Kesatria tersebut.
“kenapa kau tidak tahu??” Tanya Rani kesal.
Pangeran Ren pun juga merasakan hal yang sama “Siapa dia??” Tanya Ren kepada adik kembarnya. “Aku juga tidak tahu” Jawab Rani lugas.
“Wahh mereka melihat kearah kita!” Jamilah merona bahagia saat kedua anak kembar tersebut memperhatikannya, padahal yang ia lihat adalah sosok Cat yang berbeda.
Kedua anak kembar tersebut berjalan mendekati Cat dan diikuti dengan beberapa kesatria yang mengikutinya dari belakang. Pemandangan tersebut menjadi buah bibir para kesatria yang melihatnya. Mereka juga ikut dibuat bingung dengan keberadaan Cat. “Apa kau tamu di Istana ini??” Tanya Putri Rani dihadapan Cat. Cat sontak langsung memberi salam kepada kedua pewaris kerajaan tersebut.
“Salam saya kepada Pangeran Ren dan Tuan Putri Rani, Perkenalkan Saya Pu..” Cat langsung menghentikan salamnya seketika saat tak sengaja hampir menyebut gelar dirinya. “S-salam saya Cat-rinel” Diakhir kalimat
Cat langsung melemah. Ia tak sengaja mengingat nama lengkapnya yang meskipun hanya nama depannya saja.
“Cetrinel??” Jawab Pangeran Ren. Jamilah pun takjub dengan etika salam bak keluarga bangsawan yang ia lihat dari sosok Cat. “kenapa kau menggunakan kain aneh tersebut diwajahmu?? Apakah kau sakit atau wajahmu
cacat?” Tanya Rani mulai menyelidiki meskipun sedikit kasar. “Tidak Yang Mulia. Saya baik-baik saja” “Lalu kenapa kau menggunakan penutup muka itu??” Tanya Rani kembali. Ia sangat-sangat penasaran dibalik sosok kain tersebut. Sementara Jamilah merasa bersalah dan mulutnya mulai gatal-gatal untuk berkata yang sebenarnya.
Bersambung
@yulia.fernanda__
Baca juga
· Love in Seoul City
· Cerita Julia dan Korea Selatan
__ADS_1
· Cerita Julia dan Korea Selatan 2