
Mereka pun keluar dari toko setelah melakukan pembayaran dan barulah setelah itu Cat bersama yang lain keluar menuju kereta kuda milik keluarga Marquess Franklin. Catrin masih bersenda gurau ketika akan keluar dari toko itu. Rambut panjang terurainya begitu indah dan menjadi bahan tontonan orang-orang karna kagumnya. Cat masuk kedalam kereta kuda ketika pintu itu terbuka oleh seorang kusir kuda yang bekerja bersama Marquess.
Ela yang kebetulan lewat pun hampir menjangkau pandangan warna rambut yang tidak asing lagi baginya yang memasuki sebuah kereta kuda.
“Ah” Degup jantungnya langsung berdetak kencang.
“P-putri” Panggilnya teriak saat kereta kuda tersebut telah melaju. Ela tidak tinggal diam. Ia berlari mengejar kereta kuda tersebut. Kesatria yang menemani Ela pun tiba-tiba dibuat bingung saat Ela berlari begitu saja tanpa memberi aba-aba.
“Nona?” Panggilnya sambil berlari mengikuti Ela.
Ela yang sengaja meninggalkan kudanya disuatu tempat menjadi kesulitan mengejar kuda yang diyakininya itu adalah kuda yang ditunggangi Catrin, meski pun ia hanya melihat dari warna rambutnya saja.
“Pu-putri hahh” Teriaknya lagi saat masih sekuat tenaga mengejar kuda tersebut.
Tampak Ela yang berusaha dengan deru-deru nafasnya yang masih sanggup untuk memompa lebih jauh lagi paru-parunya. Meski pun kekuatan kuda lebih besar tentunya dari nafasnya yang mungkin hanya seperempat dari ukuran paru-paru kuda. Ela terus dan terus berusaha dihampir sisa-sisa perjuangannya. Tampaknya kekuatan tubuhnya tidak dapat lebih jauh menjangkau cepatnya tarikan kuda berlari sementara jarak antara ia dan kereta tersebut terbilang masih jauh.
“Hahh … haa … haa”
“Putri Catriiinnnnnnnn heuhhh” Teriaknya frustasi dan ia sudah tidak sanggup lagi untuk mengejarnya hingga ia melampiaskannya dengan berteriak ditempat yang sudah tidak ada lagi manusia yang tampak disekitar itu.
“Arrghhhhhhh” Umpatnya.
“Nona heuhhh, ada apa??” Ujar si Kesatria tersebut berhenti merukukkan tubuhnya untuk menyeimbangi nafasnya yang mulai tidak beraturan. Sama seperti Ela yang juga sibuk mengambil nafas terlebih dahulu. Setelah dirasa cukup barulah ia mengatakannya.
“Kereta tadi, aku melihat sosok Putri.”
__ADS_1
“Ha??” Si Kesatria itu sedikit tidak percaya.
“Warna rambutnya sama dengan Yang Mulia Putri. heuhh Aku yakin itu beliau heuuh. Kita sudah kehilangan jejak. Arggh”
“Aku harus memberi tahu Yang Mulia Putera Mahkota bahwa ia melihat ciri-ciri Yang Mulia Putri disekitar tempat itu.
“Apa??” Andrea memukul meja secara tiba-tiba, alasannya bukanlah karna ia marah, melainkan ia terkejut dan tangannya reflek memukul benda apa pun yang ada disekitarnya.
“Apa kalian sudah mencari jejaknya??” Tanya Lewis lebih kaget lagi.
“Kami sudah mencari jejak kereta kuda tersebut, sayangnya saat ditengah-tengah banyak jejak kereta kuda yang sama dan itu sulit untuk dilacak.” Ujar kesatria yang bersama Ela tadi.
“Ahh berarti kita harus focus disekitar pemukiman warga dan pusat kota.” Ujar Andrea menambah.
“Setidaknya kita juga coba telusuri bagian-bagian itu. Karna bisa jadi yang mempunyai rambut emas bukan hanya anggota keluarga kami saja” Tambah Casnav memberi pendapat.
“Benar Yang Mulia. Kita tidak tahu kondisi negara ini. Dan selama ini kita jarang menemukan orang-orang dengan ciri-ciri berambut emas.” Sanggah Ela menambahi.
“Baiklah. Untuk posisi aku tidak akan mengubahnya. Masih seperti sedia kala.” Ujar Andrea memberi arahan setelah dengan pertimbangan dari para pengikut-pengikutnya.
Cat beristirahat diranjangnya karna lelah seharian bermain diluar bersama ketiga pelayannya. Padahal rencananya ia ingin bertemu dengan Marquess untuk meminta menaikkan status ketiga pelayannya menjadi dayang.
“Apa Ayah sudah pulang dari istana?” Tanya Catrin kepada salah satu pelayannya.
“Barusan saya Tanya kepada pelayan tuan kalau tuan Marquess belum pulang dari istana” Balas Jamilah yang sudah berinisiatif menanyakan keberadaan Marquess.
__ADS_1
Ah baiklah karna Marquess belum pulang jadi ia urungkan niatnya hari ini untuk bertemu.
“Yang Mulia itu tidak mungkin???” Marquess terlihat emosi. Keningnya terlihat mengkerut dihadapan Putera Mahkota Felix.
“Ahh Marquess rasanya aku mau gila karna wanita itu. Aku takut jika ia pergi dari sisiku” Rupanya inilah yang membuat pertemuan mereka terlihat tegang. Felix menceritakan secara detail kepada Marquess mengenai penyambutannya kepada Putera Mahkota kerajaan sebelah yang sedang mencari tunangannya tersebut. Dan Felix juga menceritakan nama wanita tersebut adalah Catrin. Sama dengan nama wanita yang kini tinggal dikediaman Marquess kini.
“Yang Mulia. Untuk soal nama. Tidak hanya satu dua orang saja yang sama. Banyak dari kita yang memiliki nama yang sama. Bisa jadi yang mereka cari bukanlah Catrin yang kita bahas ini.” Papar marquess mencoba menenangkan Felix yang mulai terlihat kacau.
“Apakah Yang Mulia sudah menanyakan bagaimana ciri-cirinya??” Tanya Marquess menyidik.
“Aku sudah tidak berani menanyakan itu karna aku sudah terlanjur takut duluan Marquess” jawab Felix.
“Yang Mulia, saya mohon maaf sebelumnya. Lebih baik kita tanyakan saja bagaimana ciri-ciri wanita tersebut. Kita juga tidak bisa diam begitu saja. Jika memang yang mereka cari adalah Catrin yang selama ini berada disekitar kita, maka kita harus melepasnya. Dia adalah calon Ratu masa depan sebuah kerajaan. Kita akan dianggap memulai perang jika ketahuan menyembunyikan dia”
Bersambung
@yulia.fernanda__
Jangan lupa dukung dan baca juga
· Love in Seoul City
· Cerita Julia dan Korea Selatan
· Cerita Julia dan Korea Selatan 2
__ADS_1