
~~ Happy reading, semoga suka.
Januari 1646
Lima tahun kemudian. Catrin telah bertumbuh tinggi dan menjadi gadis kecil yang masih menggemaskan. Umurnya akan beranjak 10 tahun dibulan Februari depan. Catrin yang tumbuh jadi gadis periang namun terkadang pendiam di hal-hal tertentu. Contohnya jika ia tiba-tiba teringat saatia akan menjadi status Tunangan Pangeran Andrea.
Selama ia hidup sekarang setelah bereinkarnasi, ia belum pernah bertemu sosok Pangeran Andrea yang selama ini ia benci. Hingga suatu hari Ayahnya dipanggil ke istana untuk membicarakan tentang kelanjutan pertunangan Pangeran Andrea dan Catrin sekaligus pesta pengangkatan Pangeran Andrea yang akan menjadi Putra Mahkota.
Lewis pun masuk ke ruang dimana Raja Julian menunggunya “Saya Lewis Dovan Dominique Panglima kerajaan Skanea menghadap Yang Mulia Kaisar Julian. Semoga anda berumur panjang dan diberkahi segalanya” Ujarnya sambil berlutut dihadapan Raja Julian.
“bangunlah, tidak perlu terlalu formal. Disini hanya ada kita berdua saja” Ujar raja Julian sambil tersenyum menyambut calon besan.
“Duduklah” Sebuah meja yang telah disiapkan lengkap dengan teh rose dan kudapan lainnya yang telah lebih dulu diduduki Yang Mulia Julian.
“Baik Yang Mulia” Jawab Lewis dan ia pun duduk dihadapan sang Raja.
“Anakmu pasti sudah tumbuh menjadi gadis belia sekarang, dibilang belia mungkin belum saatnya karna ia masih terlihat imut dan menggemaskan” Ujar Kaisar memuji anak Lewis.
“Terima kasih atas pujiannya baginda”
“Pangeran Andrea akan mengukuhkan janjinya menjadi Putra Mahkota Skanea dibulan depan. Disaat itu mari kita satukan mereka sekaligus untuk ditunangkan” Mendengar kabar dari mulut Yang Mulia, membuat Lewis sedikit terhenti untuk menyesap teh yang hampir saja memasuki mulutnya. Alih-alih bagaimana ia akan memperlambat proses pertunangan anaknya karna keinginan Catrin yang tidak ingin menjadi istri Pangeran Andrea.
__ADS_1
“Apakah tidak terlalu cepat Yang Mulia?” Ujar Lewis sedikit khawatir.
“Tidak, ini sudah waktunya. Harus dipercepat. Aku tidak ingin calon menantuku diambil oleh bangsawan lain hahaha” Ujarnya sambil tersenyum lepas. Layaknya seperti mendapatkan harta dibalik Kecerdasan dan kecantikan Catrin yang telah tersebar seantero Skanea dan negera lain.
Lewis agak sedikit bergetar namun mungkin tak terlihat. Pasalnya sebelumnya istrinya ingin sekali merayakan ulang tahun Catrin dibulan depan. Namun mendengar ucapan Baginda yang ingin mengikat tali pertunangan dengan anaknya membuat ia harus berjuang meyakinkan Catrin untuk mau menikah dengan Andrea. Atau setidaknya ia ingin tahu apa alasan dibalik tidak ingin anaknya tersebut.
“Bulan depan bertepatan dengan ulang tahun Catrine Yang Mulia. Saya dan Lauren berencana untuk merayakan ulang tahunnya, namun saya pastinya akan menyesuaikan keinginan Yang Mulia dan akan membicarakan ini dengan Lauren dan Catrin” Mendengar hal itu, Julian memiliki ide menarik baginya.
“Nah, bagaimana kita sekaligus merayakan ulang tahunnya saja. Disamping kenaikan tahta dan pertunangan. Kita bisa sekaligus merayakan ulang tahunnya disaat itu juga. saya akan buat pesta yang semeriah mungkin. Rakyat juga harus ikut berpesta pastinya” Ujar Baginda yang terlihat bahagia.
Lewis pun jadi berpikir bagaimana mungkin ia merusak keinginan dan kebahagiaan yang Mulia Raja Julian dengan keinginan anaknya yang tidak mau dinikahkan dengan Pangeran Andrea. Ini adalah PR yang sulit baginya nanti saat ia sampai dikediamannya nanti.
Sebelum pertunangan akan berlangsung. Kaisar mengundang Catrin dan bersama kedua orang tuanya ke istana. Karna Catrin memang belum pernah secara langsung bertemu dengan Pangeran Andrea yang akan menjadi calon suaminya.
“Salam kepada Yang Mulia Raja Agung dan Pangeran Andrea. Semoga diberi kelimpahan yang berlipat ganda” Ucap ketiga keluarga Dominique serentak memberi salam dihadapan sang Raja dan Pangeran di sebuah Aula kekaisaran. Pandangan biasa yang ditujukan Pangeran terhadap Catrin membuat Catrin sedikit bergetar. Ia hanya mampu menundukan pandangannya dan tidak melihat ke arah pangeran sedikit pun.
“Saya Catrin Maldovan Dominique menghadap Yang Mulia Raja Julian dan Pangeran Andrea. Semoga yang Mulia selalu diberi kelimpahan yang tak ternilai” Ujarnya dengan segala keanggunan yang dimilikinya. Meskipun ia tegang, namun sekuat tenaga ia terlihat santai dan tidak menampakan wajahnya yang sedikit takut. Biar bagaimana pun ini adalah takdirnya. Ia hanya perlu merubah sedikit jalan nasibnya demi keluarganya dan dirinya nanti.
Keluarga Dominique melakukan jamuan makan siang bersama Yang Mulia Raja dan Pangeran Andrea. Dengan ditemani beberapa kesatria dan pelayan yang tampak bersiap disamping mereka jikalau dibutuhkan setiap saat. Catrin merasa bosan dan lebih banyak diam. Termasuk Pangeran sendiri. Setelah makan siang kedua keluarga itu
masih tetap membicarakan hal-hal yang tidak akan dimengerti anak kecil seperti Catrin dan Pangeran Andrea.
__ADS_1
Catrin pun dipersilahkan untuk jalan-jalan mengelilingi istana bersama Henry Green dan salah satu pelayan istana sebagai pemandunya. Sepanjang perjalanan mengelilingi Istana kerajaan, Catrin tak banyak berbicara. Henry yang melihatnya pun bahkan paham apa yang sebenarnya nona muda kecil itu pikirkan. Hingga mereka terhenti
disebuah taman yang mampu mengalihkan perhatian Catrin.
Taman yang dipenuhi dengan beberapa bunga Lavender dibelakang taman kerajaan. Sangat-sangat indah dan menarik perhatian Catrin, bukan hanya Catrin tapi juga Henry sendiri. Taman bunga Lavender yang sangat luas.
“Henry,” Panggilnya yang masih terpaku melihat keindahan Lavender dihadapannya.
“Ya Nona” Jawab Henry.
“Aku juga ingin punya taman seperti ini dirumahku. Bisakah kalian membuatkannya” Ucapnya dengan penuh terpesona.
“Tentu saja nona, saya akan beri perintah kepada tukang kebun dirumah agar membuatkan seperti ini dirumah nona. Jawaban Henry dibalas senyuman oleh Catrin yang masih setia memandangi Lavender menyejukan matanya. Hamparan ungu yang terbentang luas. Taman itu berhasil membuatnya terpukau. Disamping hamparan Lavender yang begitu luas ini. Terdapat beberapa pohon-pohon mengitari taman. Begitu sejuk dan bisa menjadi tempat peristirahatan yang nyaman jikalau bosan.
“Henry, aku akan berjalan-jalan sendiri.”
“Tapi nona?”
“Ini adalah istana, tentu saja disini pasti aman” Ujarnya tanpa mengindahkan kekhawatiran Henry dan berjalan sendiri mengitari taman kerajaan.
Bersambung. Jangan lupa like dan komennya ya.
__ADS_1