
“Mungkinkah kau menghukumku seumur hidup???. Atau kau yang menghukum dirimu sendiri karnaku???. Katakanlah, kenapa kau membiarkan dirimu terluka karnaku Yang Mulia???. Apa anda sengaja mengorbankan diri anda untuk saya yang hina ini??” Cat bergumam sendiri dihadapan Andrea yang mungkin saja tidak mendengar apa pun yang ia katakan. “Katakanlah Yang Mulia” Cat mengangkat kepalanya dan melirik kearah wajah Andrea yang tampak tertidur lelap.
“Saya menghadap Yang Mulia Putera Mahkota” Cat datang pagi-pagi sekali menjenguk Andrea yang sedang duduk melamun diatas rajangnya dan dibeluti perban dikedua matanya. “Bukankah kau datang terlalu pagi Cat??” Ujar Andrea yang dibalas iba oleh Cat. Ia memperhatikan raut wajah Andrea yang tampak tenang. Padahal ia sudah berusaha mati-matian datang ke tempat ini dengan perasaan kacau.
Cat semakin mendekat kearah ranjang Andrea yang luas dan renda cantik yang mengelilingi atas langit-langit tempat tidurnya. Ia melirik sebuah nakas yang berisi menu sarapan yang lengkap dengan obat-obatan. Terlihat belum tersentuh sama sekali. Cat meraih piring tersebut, mengaduk bubur tersebut dan menuangkannya kedalam sendok. “Yang Mulia, hamba akan membantu anda untuk sarapan. Bukalah mulut Yang Mulia” Ujar Cat sambil melayangkan suapan kearah mulut Andrea.
“K-kau sedang ingin menyuapiku???” Tanya Andrea sedikit terkejut.
“tentu saja. Yang Mulia saat ini sedang sakit. Dengan kondisi Yang Mulia sekarang pasti susah untuk makan sendiri” Papar Cat.
“Kenapa??” Cat terperanga dan terdiam mendengar kalimat Andrea yang menanyakannya.
“Kenapa kau tiba-tiba perhatian seperti ini??” Tanya Andrea. “Bukankah Yang Mulia seperti ini karna saya??. Yang saya lakukan ini bukan apa-apa dibanding Yang Mulia lakukan untuk hamba sebelumnya” Balas Cat.
“Baiklah, terserah kau saja, tapi aku tidak lapar. Letakkan saja makanan itu disana”
“makanlah baginda, tangan saya sudah pegal menunggu anda membuka mulut” Para dayang dan pengawal yang mendengar takut seketika saat mendengar Cat yang terlihat berani kepada seorang Putera Mahkota. Andrea saja
yang mendengarnya juga ikut terkejut mendengar keluhan Cat. Dan ia pun mau tidak mau membuka mulutnya dan membiarkan Cat menyuapinya.
Para dayang yang tidak berani melihat adegan tersebut terlihat ketakutan bercampur keringat dingin. Mereka takut kalau akan terjadi pertumpahan darah karna telah berani terhadap pewaris kerajaan satu-satunya. “T-tuan Putri, biar saya saja y-yang melakukannya” Tutur kepala dayang yang berada didekat mereka.
Cat melirik kearah dayang yang berinisiatif tersebut dan Andrea sedikit kesal karna dayang itu “Kenapa harus kau yang melakukannya??” Tanya Andrea dingin. Meski pun kedua matanya dibalut perban, tapi aura bak setannya langsung terasa dan dibuat merinding oleh sidayang.
__ADS_1
“M-maafkan atas kelancangan saya Yang Mulia” Balas si dayang gugup.
“Lanjutlah, apa masih banyak??. Aku sudah mulai enek dengan makanannya” Andrea melirik kearah Cat sesudahnya dan melakukan aksi protes.
“Sedikit lagi Yang Mulia” Balas Cat yang akan menyuapi Andrea kembali.
“Sepertinya aku akan m-mual uwwweee”
“cepat panggilkan tuan Cleython” Teriak dayang tiba-tiba dan Cat pun jadi khawatir.
“Kau akan muntah Yang Mulia??. Sebentar aku panggilkan tuan Cleython” Ujar Cat kebingungan dan Andrea tampak menyeringai tipis secara kilat agar tidak ketahuan “Ahh sepertinya aku akan muntah” Andrea mengeluh-eluhkan perutnya dengan berpura-pura “Cepat ambilkan sesuatu untuk menampung muntah Yang Mulia” perintah Cat kepada salah satu pelayan disana.
“Baik tuan putri” Balas seorang pelayan yang langsung pergi secara tiba-tiba.
“perut, perutku rasanya seperti akan muntah” Ujar Andrea.
Keesokan harinya Cat kembali datang menjenguk Andrea. Kali ini ia datang lebih siang karna ada pekerjaan yang harus ia lakukan. “Saya menghadap Yang Mulia Putera Mahkota” Salam Cat saat memasuki kamar Andrea yang
tampak sudah seperti bau-bau rumah sakit.
“Kau datang lagi??” Tanya Andrea saat mendengar salam dari Cat.
“Karna Yang Mulia terluka, jadi saya datang menjenguk Yang Mulia” Cat melirik kearah meja nakas dengan sepiring sarapan yang masih utuh.
__ADS_1
“Apa Yang Mulia belum sarapan??” Tanya Cat setelah melihat isi piring utuh tersebut.
“Aku tidak lapar” Balasnya berbohong, padahal ia menunggu kedatangan Cat setelah mendengar dari Shane bahwa Cat akan datang lagi.
Shane yang mendengar pun tersenyum simpul tidak percaya dengan kelakuan Andrea.
“Jangan begitu Yang Mulia, anda harus makan agar tetap pulih” Cat segera mendekati Andrea dan meraih piring tersebut yang terlihat sudah dingin “Tolong bawakan bubut dengan irisan daging tipis yang baru untuk Yang Mulia” Titah Cat kepada seorang dayang “Baik Tuan Putri”
Sarapan baru pun tiba tidak lama kemudian. “berikan padaku” Ujarnya dan dayang itu pun memberikannya ketangan Cat “yang Mulia, ini ada sarapan yang baru dan masih hangat. Saya akan membantu Yang Mulia makan” Cat kembali menyuapi Andrea untuk yang kedua kalinya. Andrea yang mulai sedikit gemetar “Kau jadi lebih sering kemari. Apa kau lagi tidak punya pekerjaan??” Tanya Andrea sambil meraih sendok dengan mulutnya.
“Tadi saya bertemu dengan Baroness Milen dan anak perempuannya. Yang Mulia tahu kan dia adalah istri Baron penguasa wilayah Kalen yang tandus itu. Dia banyak sekali membawa hadiah karna saya telah andil besar dalam kekeringan wilayah tersebut”
“Apa kau tidak tahu??. Kalen sekarang sudah berangsur berubah. Aliran Sungai Qannes dialirkan ke wilayah Kalen. Meski pun jarak mereka amat jauh tapi itu terbukti membantu mereka menghentikan kekeringan diwilayah mereka.”
Bersambung
@yulia.fernanda__
Jangan lupa dukung terus dengan cara vote, love, like, sharing plus komen. Dan baca juga
· Love in Seoul City
· Cerita Julia dan Korea Selatan
__ADS_1
· Cerita Julia dan Korea Selatan 2.