The Future Princess

The Future Princess
Episode 37 / Cacian.


__ADS_3

Kedua kuda milik Cat dan Henry telah menanti disamping tenda. Mereka pun menaiki kuda masing-masing dan kuda pun langsung berlari meninggalkan tempat.


“Hiatt”


Kuda milik Cat dan Henry berlari dengan kecepatan tinggi. Mengingat saat itu diingatannya, ia menjadi terburu-buru untuk bisa menuju tempat yang akan ia tuju. Didalam fikirannya yang kalut diliputi rasa cemas. Ia mencoba menguasai diri. Kemudian langsung tersentak dan kembali sadar.


Cemas???


Apa dirinya sudah mulai gila?? Ia telah memiliki rasa cemas terhadap orang yang telah menyakitinya. Tapi anggaplah itu sebagai bentuk rasa empatinya akan keselamatan orang. Anggap saja ia menolong ke sesama


manusia. Bukan karna hal lain.


Kedua Kuda melaju dengan cepat. Kuda yang kokoh dan kuat. Mampu berlari sejauh beberapa kilo meter. Cat tetap memfokuskan diri untuk tetap mengayunkan kudanya menuju barisan depan. Henry pun tetap tak kala menyaingi ayunan langkah kudanya dengan kuda milik Cat. Kudanya tak kalah kuat dari milik Cat. Ia bahkan menyamai Kudanya dengan seekor benteng.


Seharusnya ia menyamakan Kudanya dengan yang paling kuat, entah itu monster atau apapun. Mereka telah jauh memasuki Hutan, tapi belum melihat tanda-tanda keberadaan Putra Mahkota dan yang lainnya. Mereka berhenti beberapa kali untuk memastikan sesuatu. Akhirnya secercah harapan ada, Cat pun melihat tanda api obor dari kejauhan, melihat tanda-tanda keberadaan Putra Mahkota yang ia yakini itu adalah milik segerombolan pasukannya. Kuda pun kembali ia kerahkan untuk berlari kembali.


“Hiatt”…


Cat memfokuskan pandangannya ke satu arah pada sebuah sinar obor yang semakin jelas ia lihat. Sedikit dan tak lama lagi, ia akan dekat dan tiba.


“Tunggulah bocah sialan. Aku akan datang. Kau harus berterima kasih ketika aku menyelamatkan nyawamu nanti” Gumam Cat dengan pandangan serius.


Henry pun sesekali melirik Cat yang berada disebelahnya. Sering kali ia sedikit dibuat kebingungan dengan keinginan majikannya tersebut. Entah apa yang harus ia lakukan nanti. Sementara Cat mewanti-wanti dirinya


untuk tetap siaga. Bahkan Cat banyak membawa persediaan anak panah dikantung yang ia sandang dibelakang punggungnya.


“Hiat”


---


Sementara Putra Mahkota Andrea dan pasukannya tetap bermain dalam permainannya untuk memburu beberapa hewan. Ia dan pasukan lain pun telah berhasil memburu beberapa hewan. Andrea berhasil membunuh penjantan


Rusa. Itu terlihat jelas dari tanduknya yang sudah panjang ke atas. Dan ia berhasil membunuhnya dengan sekali panah dan tentu saja tepat sasaran.

__ADS_1


Sreeeeeg………


Sesuatu dari balik semak bergerak dan membuat mata tajam Andrea dan yang lain mulai terusik dan bersiap-siap. Andrea telah memasang kuda-kuda memainkan anak panah di tangannya untuk bersiap-siap melepaskan tembakan.


Sregg….


Semak-semak dibalik dedaunan itu pun kembali bergerak tak menentu. Sementara Andrea tetap focus melihat apa yang akan keluar nanti dari balik semak tersebut.


Syutttt……..


Seekor anak kucing hutan keluar terbang dengan gaya kakinya yang memanjang, melangkah dan berlari kearah berlawanan. Seketika semuanya bergerak dan hendak melepaskan anak panah kearah kucing hutan tersebut.


“Berhenti”


Andrea spontan memberi titah seketika kesemua prajuritnya yang hendak melepaskan panah ditangan masing-masing kearah kucing itu. “Prioritaskan pemburuan untuk hewan-hewan besar dan buas saja.” Ungkap Andrea meneruskan kalimatnya setelah memberhentikan langkah para pengikutnya yang membuat mereka terheran-heran serta kebingungan.


“hhuuffttt”


yang sama dengan peliharaan Cat pun yang membuatnya urung untuk membunuhnya. Jika ia membiarkan hewan imut itu mati kedua kali dihadapannya, maka rasa bersalahnya akan semakin besar dan tetap akan menghantuinya kembali.


Tap Tap Tap…..


Semakin dekat posisi Cat diantara kerumunan kelompok Putra Mahkota, semakin pelan pula jalan Kuda yang ia tunggangi hingga ia tiba berhadapan dengan Putra Mahkota yang membuat si empunya kaget termasuk para


prajurit yang mengikutinya.


Cat pun turun dari Kudanya serentak bersama Henry lalu hormat memberi salam membungkukkan badannya dihadapan Andrea. “Salam saya Putra Mahkota Andrea” Ketika Cat selesai memberi salam. Seluruh pasukan yang mengawal Andrea pun juga ikut turun dari Kuda dan memberi salam hormat kembali kepada Cat.


“Kenapa kau datang ke Hutan ini?? Disini cukup berbahaya”


“Apa kau juga akan ikut berburu??”


Begitu kalimat pertama kali yang keluar dari mulut Andrea.

__ADS_1


“Kenapa Tuan Putri datang dan masuk ke Hutan ini ?? Bukankah itu bisa membahayakannya???


“Sudah jelas ia mungkin tak tahan ditinggal sendiri di tenda dan rindu dengan Putra Mahkota!


“Apa?? Kau serius?? Wah, jika aku jadi Yang Mulia, aku akan pingsan karna bisa dicintai oleh olehnya”


“Tapi kan rumornya mereka tidak harmonis!”


Begitulah bisikan dua orang prajurit yang berada dikerumunan itu. Mereka saling berbisik setelah melihat adegan kedatangan Tuan Putri Catrinel menemui tunangannya Putra Mahkota Andrea.


“izinkan saya untuk ikut serta memburu bersama Putra Mahkota. Saya juga ingin memburu hewan disini dan saya berjanji tidak akan mengganggu Putra Mahkota dan yang lainnya” Jawab Cat yang tentu saja isi pikiran dan mulutnya berbeda.


“Seharusnya kau berdiam diri ditenda saja, untuk apa kau datang kesini, Itu akan menyulitkanku dan merepotkan”


Deg …


Hati Cat baru saja rasanya seperti tergores bongkahan kaca pecah. Satu tangannya mulai menggenggam dan mengepal bulat sempurna. Padahal tujuannya kesini tak lain ingin menyalamatkannya. Namun kedatangannya


malah ditolak mentah-mentah oleh orang yang akan ia selamatkan.


“S-saya berjanji tidak akan menyusahkan Yang Mulia” Dengan mulut dan tubuh yang bergetar ringan, Cat berusaha sabar dengan cacian ringan Andrea. Setidaknya tunggulah beberapa saat lagi sampai ia bisa mengusir Harimau itu pergi dari kerumunan pengawal kerajaan. Jika situasi tersebut telah dilewati, maka ia akan kembali ke tenda sampai acara perburuan itu selesai.


(Jika saja kalau bukan untuk menyelamatkan nyawamu, aku juga tidak mungkin sudi untuk mengikutimu ditempat ini. Dasar Brengsek!!!)


Cat sulit menyembunyikan kekesalannya dihadapan yang lain, terutama Putra Mahkota. Mereka pun melanjutkan perjalanan kembali mengitari hutan untuk mencari mangsa buruan.


“Seharusnya kau berdiam diri ditenda saja, untuk apa kau datang kesini, Itu akan menyulitkanku dan merepotkan”


Kata-kata itu sulit ia terima, padahal ada banyak lagi cacian yang ia dapat sebelumnya, tapi entah kenapa cacian yang ini juga bisa melukai hatinya.


Bersambung.


@yulia.fernanda__

__ADS_1


__ADS_2