
“Yang Mulia. Hamba paham bahwa Yang Mulia menyukai gadis itu. Tapi bisakah anda berfikir efek kedepannya seperti apa. Jika pihak Kekaisaran Skanea mengetahui ini, bukan tidak mungkin mereka menganggap kita bersekongkol. Atau lebih parahnya kita bisa saja berperang dengan mereka hanya demi seorang gadis Yang Mulia”
“Kau lancang Marquess Franklin” Felix menautkan kedua maniknya tajam kearah bangsawan tersebut yang membuat siempunya bergidik ngeri dan takut.
Catrin mulai mengasah kembali kemampuannya dalam bela diri. Seperti berkuda, memanah, memainkan pedang dan mencoba belajar menembak. Untungnya dikediaman Marquess ini sudah semua yang ingin ia pelajari sudah
tersedia dan lengkap. Selain karna memang kedua kakak laki-lakinya tentu harus belajar bela diri, semua kesatria yang ada disini juga harus terus mengasah kemampuannya dalam teknik berperang.
Banny dengan setia mengajari Catrin. Hari ini mereka mulai berkuda mengelilingi lapangan. Sudah lama rasanya Catrn tidak menaiki kuda sendiri. Badannya sedikit kaku. Tapi, ia masih ingat teknik-teknik berkuda. Asalkan diasah kembali, ia pasti akan lihai seperti saat dulu.
“Cat, teknikmu sepertinya sudah bagus. Kau hanya perlu mengasahnya lagi. Pinggangmu jangan kaku. Rilekskan saja. Kudanya juga akan sulit menyamakan postur tubuhmu” Cat segera merilekskan tubuhnya saat mendengar teriakan dari Banny.
Banny pun juga intens melihat gerakan berkuda Cat. Sambil menaiki kuda kesayangannya, Bannya dibuat bingung. Wanita yang ia lihat itu sepertinya pernah belajar berkuda disuatu tempat atau tepatnya dimasa lalunya sebelum ia hilang ingatan. Ia hampir terkejut saat Cat menghampirinya dan meminta dirinya untuk mengajarinya beberapa teknik berkuda, memanah, memakai pedang dan menggunakan senjata.
Cat mulai melambatkan gerakan lari kudanya dan mendekati Banny.
“Kak, bagaimana kalau kakak melatihku diluar.”
“Diluar??. Maksudmu kau ingin belajar berkuda diluar kediaman kita??” Tanya banny sedikit ragu. Cat pun menjawabnya dengan anggukan.
“Teknik berkudaku tidak akan meningkat, jika hanya berkeliling lapangan kuda ini. Aku ingin mengasahnya diluar sana” Pinta Cat yang membuat Banny heran.
“Baiklah. Aku akan mengutus beberapa kesatria berkuda untuk menemani kita berkuda. Ada tempat dimana biasa aku dan kakak berkuda sampai lelah disana”
“Dimana??” Jawab Cat antusias.
“Hutan”
__ADS_1
“nyuttt” kepala Cat langsung berdenyut sesaat. Ia hampir memicingkan kedua maniknya menahan denyutan tersebut.
“H-hutan???” Tanya Cat bergetar.
“Ia benar hutan. Tempat itulah yang cocok untukmu belajar berkuda.”
“tenang saja, hutan itu tidak terlalu lebat pepohonan. Kau akan gampang melintasinya dan aku yakin tidak akan tersesat karna ada beberapa kesatria yang akan mengikuti kita nanti” Ujar Banny yakin.
“Baiklah kak” Jawab Catrin agak melemah.
Tidak butuh waktu lama. Banny dan Catrin keluar menggunakan kuda masing-masing menuju hutan yang dituju. Cat sedikit cemas dan sedikit berkeringat. Ia menguncir rambutnya keatas agar ia tidak gerah karna keringat.
Jalan pacuan kuda tidak begitu kencang dan menyamakan lari kuda Cat agar wanita itu tidak tertinggal dibelakang.
Setelah sampainya dihutan, gerak pacu kuda melamban dan semakin berhenti.
“Baik kak” Balas Cat.
Mereka mulai menyusuri Hutan. Cat mulai seimbang membawa kudanya meski pun sesekali kaku. Banny berjalan sambil melihat-lihat apakah ada hewan yang bisa ia buru. Senjata telah siap disaku samping pinggangnya. Ia ingin membawa buah tangan saat keluar dari Hutan ini.
“Apa kakak sekalian berburu disini??” Tanya Cat bingung.
“Ia. Aku ingin menghadiahkan seekor Gorilla untukmu ahahaha” Jawab Banny terkekeh dan itu membuat Cat bergidik ngeri sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Cat pun tidak peduli dan mengarahkan kepala kudanya kearah lain. Banny yang menyadari pun ikut.
“Nah ini cukup luas untukmu menunggang kuda. Disini coba kau percepat laju kudanya” Mereka tiba disebuah padang rerumputan didalam hutan. Cukup luas dan bisa menunggak kuda sampai bosan. Cat pun mulai menghentakkan kudanya dan memacu kudanya sedikit cepat. Banny yang memperhatikannya cukup bangga dan bercampur malu.
__ADS_1
Bagaimana tidak, Cat masih terlihat kikuk diatas kudanya.
Prakkk…..
Suara pintu terbuka cukup keras hingga embuat siempunya terkejut.
“B-baginda??” Sapa kikuk Felix.
“Salam kepada Baginda Kaisar. Apa….”
“Apa kau gila felix???” Tanya Baginda Kaisar murka tanpa mendengar sapaan salam dari anaknya.
“Felix pun menaikkan tubuhnya sedikit yang membungkuk tadi. Ia melihat kearah Ayahnya yang sangat gagah dengan baju kekaisaran, namun mimic wajahnya terlihat suram menakutkan.
“kau ingin menjadikan Putri yang hilang itu menjadi Selirmu???. Apa akal sehatmu sudah ternodai ha??” Seluruh ruangan mendominasi suara lantang Baginda Raja yang naik 1 oktaf dari biasanya. Ia langsung menemui anaknya sesaat ia mendengar bahwa Felix akan menjadikan Catrin sebagai Selir.
“Mohon ampun Baginda Raja. Saya akan melindunginya dari hal apa pun. Jika wanita itu menjadi Selir, saya berjanji untuk menutup identitasnya dari public. Biarkan sekali ini saja Baginda, saya ingin wanita itu berada disisi saya.” Felix memohon dan menundukkan tubuhnya dihadapan sang Ayah yang masih intens melihatnya.
Bersambung
@yulia.fernanda__
Jangan lupa dukung terus dengan cara vote, love, like, sharing plus komen. Dan baca juga
· Love in Seoul City
· Cerita Julia dan Korea Selatan
__ADS_1
· Cerita Julia dan Korea Selatan 2.