The Future Princess

The Future Princess
Episode 23 / Lippe


__ADS_3

Di istana, tepatnya dikediaman Pangeran Ernest berada, ia bertemu dengan sang adik yang baru saja tiba di Skanea pagi tadi. Momo berjalan cepat diiringi kesatrianya yang menyamakan langkahnya dengan sang majikan.


Meski langkahnya tak tergesa-gesa seperti Momo, ia berjalan dengan santai karna postur kakinya yang lebih panjang dan tinggi ketimbang Momo. Kali ini Momo ingin menghampiri sang kakak dan membawa barang titipan yang ia bawa dari negerinya dan itu sedikit menjengkelkan baginya.


“Ini barang permintaanmu” Momo menghampiri Ernest dikamarnya yang baru saja selesai bersiap-siap. dengan sorot mata kesal, Momo memberi kode kepada kesatrianya dan dengan siaga kesatria tersebut langsung


memberikan sebuah kotak kayu dari rotan yang setiap inci rotannya ada celah dimasing-masing kayu sehingga dengan jelas menampakkan sesosok benda didalamnya. Dengan jelas Ernest melihat kedua mata biru anak kucing tersebut diantara celah rotan yang dipenuhi dengan ukiran-ukiran cantik.


“Meow” suara mungil kucing tersebut ketika ia diberikan kepada Pangeran Ernest.


“Terima kasih adikku” Balas Pangeran Ernest sambil meraih tas kotak tersebut,


Setelah mendapatkan barang yang ia inginkan, Ernest pergi menuju tempat latihan, tempat biasa ia dan Putri Cat belajar pertahanan diri. Tak lama berselang waktu setelah itu, Cat datang bersama rombongan pengikutnya dibelakang, Dari jauh, Cat menyipitkan kedua bola matanya karna  melihat benda aneh yang terus bergerak lincah hingga ia semakin dekat, dan selanjutnya ia jadi terpukau sekaligus terkejut. Ia berfikir hari ini seperti biasanya ia akan latihan bersama Pangeran Ernest, namun yang ia lihat justru berbeda. Pangeran Ernest duduk santai diatas rumput beralaskan kain dan bermain kecil dengan seekor anak kucing lucu.


Cat langsung menutupi mulutnya yang menganga. Baru kali itu ia melihat kucing dengan bulu yang sangat lebat dan panjang. “Apakah itu kucing dari negerimu Pangeran?” Tanya Cat ragu.


“Ia Putri. Ini kucing dari negeri kami. Bulunya yang lebat dan panjang adalah ciri khas kucing yang berasal dari negeri kami” Jawab Pangeran sambil tetap bermain dengannya. Kucing itu sangat sehat dan lincah saat bergelut bersama Ernest. Cat serasa ingin memilikinya.


“Dia lucu sekeli. Bolehkah aku menggendongnya” Ujar Cat.


“Tentu Putri” Cat pun pelan-pelan meraih anak kucing tersebut dan menggendongnya didadanya. Ia mencoba mencium kucing itu.

__ADS_1


“Dia lucu Pangeran” Ujar Cat antusias.


“Benarkah?”


“Aku ingin punya kucing seperti ini” Pinta Cat.


Ernest tersenyum kemudian “Dan mulai sekarang ia adalah milik Putri” Cat bingung dengan kalimat Pangeran Ernest. “Maksudnya Pangeran??” Ernest langsung membalasnya “Kucing itu adalah milik Putri. Saya memberikannya untuk Putri”.


Cat benar-benar tak percaya. Sekali lagi mulutnya menganga. Hanya saja tak ia tutupi karna kedua tangannya masih intens memeluk sang kucing.


“Benarkah. Terima kasih Pangeran” Cat segera meletakkan kucing tersebut dengan hati-hati dan meraih tubuh Ernest dihadapannya. Yang artinya Cat memeluk Ernest secara spontan. Pandangan itu membuat kedua kesatria masing-masing dan pelayan terkejut.


Sementara dilain tempat, sepasang mata membara dibalik tembok jendala istana ketika menyaksikan dua sejoli berpelukan. Pemilik kedua manik tersebut mengepalkan kedua tangannya tak suka. Matanya seakan berbicara jangan menyulut kesabaranku. Dengan intens Andrea melihat pemandangan yang menakjubkan tersebut. Pikirannya tersulut. Andrea seakan ingin menghampiri dan menyeret Cat ke istananya, namun itu hanyalah pikirannya. Jika ia melakukan itu, berarti ia cemburu.


Cemburu ??? Itu gila, pikirnya. Pernikahannya hanyalah politik. Dan ia tak menyimpan perasaan apa pun pada Cat. Tapi lihatlah, bahkan isi pikiran dan tubuhnya berkata lain. Shane pun merasakan hal yang sama. Shane mulai tahu bahwa majikannya ini telah menyimpan perasaan pada Cat, meskipun majikannya bingung, apakah itu disebut suka atau tidak. Yang jelas setiap tindakan Cat dan Ernest yang begitu hangat, membuat ulu hatinya merasakan


sedikit goresan kecil yang tak terlihat.


Setiap saat Cat serasa diberi pengisi daya otomatis sejak ia mendapatkan seekor kucing dari Ernest. Ia pun sudah mulai memilih nama untuk kucing kesayangannya itu saat sedang belajar dikamarnya.


“Alexa, pilihkan aku beberapa nama yang bagus untuk ia” Menunjuk kucingnya yang berada diatas ranjang.

__ADS_1


Alexa sedikit kerepotan semenjak kedatangan kucing tersebut disekitarnya, pasalnya ia selalu bersin jika berdekatan dengan hewan berbulu tersebut. Ya anak ini alergi terhadap bulu kucing.


“Hachiuuu” Alexa mencoba bertahan dari pertahanan tubuhnya terhadap hewan kecil didekatnya. Padahal ia bisa saja sedikit menjauh, namun rasa penasarannya kalah jauh dari takdir penyakitnya. Seandainya saja ia tak memiliki penyakit aneh ini, mungkin saja kucing itu ia gendong setiap saat.


“Beri saja namanya Lippe Putri, hachiauuu” Jawabnya yang mulai sulit menyeimbangi tubuh akibat pertahanannya yang kehabisan tenaga.


“Alexa, kau akan membuat Putri sakit jika kau mendekati kucing itu. Menjauhlah sedikit” Gumam Bibi Rose kesal. Pasalnya anak itu sedikit keras kepala padahal ia selalu tak tahan akan alerginya.


“Maafkan saya Putri” Jawabnya yang mulai sedikit menjauh dari kucing tersebut.


“Lippe??!” Cat memutar kedua bola matanyakesamping kanan, berpikir sambil menopang dagu.


“Baiklah, aku akan memberi ia nama dengan Lippe” Maka nama kucing tersebut telah ditentukan. Alexa bahagia, nama pilihannya ternyata dipakai oleh majikannya tanpa menunggu memilah nama yang lain.


“Lippe, kemarilah” Ujar Cat sambil memanggil hewan kesayangannya. Dan entah kenapa kucing kecil itu mengerti saat Cat memanggilnya dan berlari imut kearah Cat.


Hup  Cat meraih Lippe dan menggendongnya didada.


* Jangan lupa like dan komennya ya. Trims.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2