
Assalamualaikum
Halooo reader tersayang, apa kabar??
Tadinya mau nulis ini setelah lebaran tapi lagi datang tamu bulanan sehingga aktivitas sedikit berkurang jadi nulis dehhh
Mohon maaf lahir dan batin yaa
masih ingat sama aku?
nggak ya?
hehee... tak ape kalau tak ingat heheee
Ini novel baruku lanjutan dari novel "Aku bukan Orang ketiga".
Ceritanya dokter Galih, semoga kalian sukaaaaa yaaa...
..............................................................
Jakarta
Pukul 23.00 WIB
Tap
Tap
Tap
Suara sepatu bertabrakan dengan lantai keramik menggema di sepanjang koridor Rumah Sakit, mengarah ke satu ruangan yang bertuliskan "Ruang Anggrek/ Kebidanan" tertempel tepat diatas pintu masuk. Agak tergesa dia melangkah memasuki ruangan yang hampir dua tahun ini menjadi tempat kerjanya.
"Pasien blooding dok!" perawat berperawakan tinggi menghampirinya.
"GCS ?"
"Somnolen."
"Uterus nya tidak berkontraksi lagi, KU menurun." Tambah perawat itu mengekornya ke ruang pasien.
"Transfusi darah segera!" Perintahnya pada perawat tanpa menoleh.
"Any problem dok, golongan darah pasien AB Rhesus negatif, stok di bank darah kosong untuk rhesus negatif."
__ADS_1
"Shitttt... what?" disaat krusial seperti ini bisa-bisanya stok darah kosong.
"Suruh keluarga pasien cek darah mereka, jika ada yang cocok langsung transfusi."
"Siap dok."
Dia masuk ke ruang dimana pasiennya berada, pasien post partum G2P2A0, usia 25 tahun, diagonosa Antonia Uteri. Penyebab terparah dari kasus blooding (perdarahan) yang sering terjadi, kasus dimana rahim tidak berkontraksi lagi sesaat setelah bayi dilahirkan sehingga menyebabkan perdarahan hebat pada ibu yang berujung kematian jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.
Really Complicated, pasien sudah mengalami syok hipovolemik sebab terlalu banyak kehilangan darah, sedang bantuan transfusi belum ada, masuk dalam kategori kaum minoritas berhesus negatif dengan golongan darah yang terbilang langka membuat keluarga dan tim medis sedikit kesulitan mencari bantuan pendonor.
Tindakan medis dalam upaya penanganan pasien blooding telah dilakukan, hanya saja jika terapi transfusi cepat dilaksanakan tentu akan sangat efektif dalam mengganti kehilangan darah pasien.
"Berapa hasil laboratorium Haemoglobin nya?" sekilas dia menatap perawat wanita yang berdiri tepat disampingnya.
"Terakhir cek 3,4 mg/dl dok."
"Oh my God, fast think fast think Galih !"
Bantuan darah belum datang, pasien bisa "lewat" kalau begini.
"Apa darah keluarga tidak ada yang cocok?"
"Ada satu orang dok, sekarang sedang mendonorkan darahnya."
"Calling petugas disana, suruh cepat kita sedang dikejar waktu!"
Dia keluar ruangan sebentar mencoba menghubungi sebuah komunitas orang-orang yang memiliki rhesus negatif di Jakarta, dan alhamdulillah ada 3 orang yang bersedia mendonorkan darahnya malam ini, sedang menuju Rumah Sakit.
Namun agaknya takdir berkata lain, baru saja dia mengintruksikan pada perawat untuk mentransfer pasien ke ruang ICCU, pasien telah meninggal. Tubuhnya melemas walau tetap di depan keluarga pasien dia selalu tampak tegar dan tak terdistraksi oleh keadaan, well profesionalisme kerja seperti itu, he is a doctor.
Inilah part paling tidak diharapkan dari profesi ini, kala melihat pasiennya meninggal dalam penanganannya, tapi apa mau dikata, bukankah tiap- tiap yang hidup akan merasakan mati, semua sudah takdir yang ditetapkan Ilahi.
Dia kembali ke ruangan nya setelah memastikan keluarga pasien menerima keadaan, bukan apa- apa, sudah banyak kasus dimana keluarga pasien Denial dan menyalahkan pihak rumah sakit atas meninggalnya pasien dan ini tentu saja termasuk bagian yang paling tak diinginkan, untuk itu dia selalu menjaga komunikasi efektif dua arah pada pasien- pasien nya agar tak terjadi miskomunikasi.
Begitulah dia, profesionalisme at work always the first. Namanya Galih, panjangnya Muhammad Galih Prasetyo. Muhammad diambil dari nama Rasulullah, yang artinya dia bagian dari umat nabi terakhir, Galih itu nama aslinya yang sampai saat ini dia pun tak tahu apa artinya dan Prasetyo tentu saja nama keluarga yang disematkan turun temurun dalam keluarganya.
Sambil memijit pangkal hidung, dia bersandar pada kursi kerja nya menunggu jadwal operasi yang tinggal setengah jam lagi, dia benar-benar telah berubah menjadi workholic dalam dua bulan terakhir ini, tentu saja bukan tanpa alasan, dia baru saja patah hati, broken heart, kecewa tingkat dewa, nelangsa dan macam- macam istilah untuk mendefinisikan hati yang tertinggal.
Dengan sedikit pengalihan, agaknya rasa kecewa dihati akan berkurang. Yah tepat dua bulan lalu ditanggal yang sama, dia hampir melamar seorang gadis, tidak, bukan, lebih tepatnya seorang janda beranak dua. What??
Semua telah disiapkan dengan sempurna, bahkan dia sudah mereservasi sebuah cafe mewah untuk mewujudkan hajatnya, namun lagi-lagi realita tak sesuai dengan ekspektasi, wanita yang digadang-gadang akan menjadi pendamping hidup malah berbalik arah, memutar kemudi menjauh darinya, wanita itu kembali pada sang mantan suami, poor of you Galih.
Entah dia yang salah jatuh cinta, atau salah perhitungan atau salah strategi, dia tidak tahu. Yang jelas dia telah kalah, tak ada pilihan selain mundur teratur kemudian balik badan and say good bye, I hope you happy on your life.
__ADS_1
Love is free
Cinta yang membebaskan
Cinta yang melegakan
Aku bahagia melihatnya bahagia
(Kutipan novel Cinta Semusim)
Dihembuskannya nafas kasar berharap segala kegundahan hati bisa keluar lewat dua buah lubang hidungnya namun tetap saja, come on Galih wake up, wake up man. Oh my...
"Dok, pasien sudah siap." Sebuah kepala muncul dari balik pintu yang memang disengajanya terbuka setengah.
"Oke, antar ke ruang operasi, saya menyusul."
And disinilah sekarang dia berada, memakai pernak-pernik serba steril dengan jubah operasi berwarna hijau, masker serta tutup kelapa, so look handsome, kadar ketampanannya naik berkali-kali lipat, you know...
Apalagi saat ia tengah menyayat bagian abdominal sang ibu, lapis per lapis, dimulai dari jaringan terluar dari kulit, berlanjut ke dermis, jaringan lemak, lapisan dinding perut, lapisan dinding rahim and finally get the baby woowww sesuatu yang paling aware dalam pekerjaannya.
"Oeekkk...Oeekkkk..."
Suara bayi perempuan pecah memenuhi ruangan, setelah tali pusat dipotong, dia beralih mengambil plasenta bayi yang telah terlepas dari dinding rahim ibu itu yang sering disebut ari-ari oleh orang nonmedis, membersihkannya dari sisa jaringan yang kemungkinan masih tertinggal kemudian terakhir memastikan kondisi rahim ibu steril dari benda asing semisal kasa, gunting, klem atau pinset sebelum menutup nya kembali.
Okey, pekerjaan beres, tinggal menjahit kulit dermis, diserahkan nya pada sang asisten. Sementara bayi mungilnyatelah beralih penanganannya pada dokter spesialis anak. Good job.
"Pulang dok?" kepala ruangan OK menoleh padanya saat ia mulai melepaskan satu persatu APD (Alat Pelindung Diri) dari tubuhnya.
"Mau ngapain juga pulang, dirumah masih sendirian belum ada yang ngelonin, mending tidur di rumah sakit, ramee." Dwi, dokter anastesi meledeknya, ledekan tepat sasaran, menghujam jiwa, meremuk jantung.
Dia hanya mencibir sekilas sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari ruangan. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, setidaknya walau sendiri, dia masih butuh tidur, merehatkan pikiran, agar sistem metabolisme tubuh tetap seimbang.
Alarm ponsel disetel tepat pukul 05.00 subuh, diletakkan di atas nakas sebelum dia terlelap dan mendengkur halus, terhitung tiga jam sesaat setelah disetel alarm menjerit nyaring memekakkan gendang telinga, sungguh pemilihan nada yang "tidaak banget", membuatnya memijit kepala berkali-kali.
***
Back again, kembali ke tempat yang sama, tepat pukul 08.00 pagi, dia sudah berdiri dijajaran para dokter spesialis, mengikuti apel pagi di lapangan Rumah Sakit, tentu saja dia yang paling menarik perhatian dan paling muda diantara dokter spesialis yang ada disana dengan wajah sekelas Ji Cang Wook, tak bisa dipungkiri semua mata tertuju padanya.
Menjadi idola di seantero Rumah Sakit sudah jadi hal yang biasa sejak dua tahun terakhir, sedikit menguntungkan sebab jumlah pasiennya bertambah, eksistensi nya melejit sebagai dokter obgyn, kliniknya pun ikutan ramai, bahkan dia sudah menambah satu gedung perawatan lagi, gedung tiga lantai dengan rooftop yang unik, sesuai permintaan nya pada bagian kontruksi.
Rooftop yang dibuat seindah mungkin dengan rumah mungil berdiri dipojoknya merupakan impian sederhananya, dia ingin agar jika lelah bisa menenangkan pikiran disana kelak.
To be Continue...
__ADS_1
Happy Reading semoga sehat selalu, lancar rezekinya yaaaa...
eiit jangan lupa like, komen dan hadiah seikhlasnya heheee