
Dimas
Empat jam kemudian...
Dokter Coltrain keluar mencarinya. Lelaki berambut kuning keemasan itu tampak sangat lelah.
"Sonia masih bertahan." Ucap dokter Coltrain padanya. "Kita akan mengetahui hasilnya dalam delapan jam."
Si dokter menarik nafas panjang. Pria itu memandangnya dan bicara dengan lembut, "Dalam delapan jam, Sonia akan bangun ---- atau tidak."
Dapat ia lihat amak langsung limbung, dipapah Audrey untuk duduk di kursi panjang koridor. Sementara mama menangis dalam pelukan papa.
Sedang ia, itulah kata-kata paling menakutkan yang pernah diucapkan seseorang padanya. Ia tahu dirinya sudah seperti mayat hidup, ternganga menatap dokter bedah jantung itu.
Sonia akan bangun ---- atau tidak...
Galih meletakkan tangan diatas pundaknya."Jangan menyerah sekarang." Bisik laki-laki itu.
"Aku bisa gila..." Katanya parau, "Delapan jam..!"
"Kita bisa pulang dulu ke apartemen, kamu butuh istirahat Dim." Ujar Galih.
"Meninggalkan rumah sakit, sekarang?" APA KAMU GILA?!" Ia sudah tak bisa mengendalikan diri, marah.
"Hanya beberapa menit, percayalah. Kamu bisa ambruk kalau begini."
Galih benar, bahkan ia tidak tahu telah makan atau belum, ia sudah tidak mempedulikan itu. Ia benar-benar terlihat kacau sekarang.
"Pergilah dulu, istirahat dan bersih-bersih, saya akan kabari setiap perkembangan Sonia, lagi pula tidak ada yang bisa masuk keruangan selain saya dan tim." Dokter Coltrain meyakinkan nya.
"Dokter akan menelpon ku, kalau ada perubahan?" Tanyanya bimbang menatap dokter Coltrain.
"Aku janji," Dokter Coltrain setuju.
***
Galih
Satu jam kemudian, Dimas tertidur diatas sofa dalam apartemen laki-laki itu. Penampilannya sudah rapi, telah mandi dan berganti pakaian. Sempat makan walaupun sedikit.
__ADS_1
Memang tidak adil, ia tahu, tapi sahabatnya itu sudah hampir terkena serangan jantung. Ia mencekcoki Dimas dengan wiski scotch dan soda. Karena Dimas hampir tak pernah minum alkohol, perpaduan rasa khawatir, kelelahan luar biasa, dan alkohol langsung membuatnya tak sadarkan diri begitu saja, bagaikan lampu yang dimatikan.
Enam jam kemudian, Dimas terbangun. Pria itu mengerjap, memandang ke sekeliling ruangan.
"Kenapa aku disini?" Ia dapat melihat Dimas bertanya kebingungan, Dimas tidak ingat...
Ia masih melakukan panggilan telpon ke dokter Coltrain saat Dimas langsung terduduk tegak di sofa itu, ketakutan.
"Jam berapa sekarang? Apakah kamu sudah menelpon rumah sakit? Sonia... Bagaimana dengan Sonia? Seru Dimas.
Ia mengangkat sebelah tangan, mengangguk, dan berkata, " Kami akan segera kesana." Ia menutup telpon dan tersenyum.
"Sonia sudah pulih dari pengaruh anastesi, dia sudah sadar."
"Sadar ." Dimas menggigil. "Dia hidup?!"
"Ya. Dia masih belum responsif, masih sedikit terpengaruh anastesi. Tapi para dokter merasa optimis. Katup jantung barunya bekerja dengan sempurna."
Dimas berdiri dan memegangi kepalanya. "Sial! Apa yang kau berikan padaku tadi?"
"Wiski scotch, soda, dan sejenis substansi yang sebenarnya tidak boleh ku miliki atau kejelaskan karena itu rahasia." Ia menyeringai.
"Ayo kita berangkat."
.
.
.
Dimas
Ia seperti mendapatkan kembali setengah dari nyawanya yang sempat terserak kala mendengar bahwa Sonia bisa bertahan hidup, thanks God.
Bagai melayang, dan tak menginjakkan kaki di lantai lagi, saat berjalan menuju ke ruangan dimana sang istri berada, ingin cepat-cepat bisa melihat Sonia.
Ia diperbolehkan menjenguk Sonia, tapi hanya untuk beberapa menit. Wajah Sonia tampak sepucat kertas, namun irama nafasnya lebih teratur dan bunyi dari layar monitor kedengarannya cukup stabil.
Ia mengelus pelan wajah sang istri, menyusuri tulang pipi Sonia sampai ke bibir dengan ujung jari-jarinya.
__ADS_1
Seakan bisa merasakan kehadirannya, mata kelabu Sonia terbuka dan memandangnya, dengan sorot sedikit kosong.
"Sayang, semua akan baik-baik saja," Ucapnya lembut. "Tidak lama lagi, kakak akan membawamu pulang."
Bibir Sonia samar-samar menyunggingkan senyum kaku sebelum mata gadis itu kembali terpejam dan tertidur.
Ia menyentuh bibir Sonia yang kering, ia benar-benar merasakan cinta meskipun dengan hanya memandangi istrinya.
Ia keluar dan kembali keruang tunggu dengan lebih optimis. Rasa takut itu masih ada, tapi ia pasti bisa mengatasinya.
***
Semakin hari kondisi Sonia makin membaik. Mereka membangunkan dan melatih Sonia berjalan sehari setelah operasi. Itu membuatnya ngeri, tapi Galih berkeras inilah yang harus dilakukan untuk memulihkan kembali kekuatan Sonia dan, yang lebih penting lagi, agar tidak terjadi infeksi pernapasan sebagai efek samping operasi.
Ia menuntun Sonia ke ruang bayi dengan sangat perlahan pagi itu. Ia mendorong tiang infus Sonia. Dan gadis itu bergelayut di lengannya.
Mereka berhenti di depan ruang bayi dan si perawat menggendong Fatih supaya mereka bisa melihat bayi itu.
"Dia mirip kakak."Bisik Sonia, mata gadis itu berkaca-kaca ketika melihat bayi Fatih untuk pertama kalinya. "Tampan."
"Seperti mamanya."Bisiknya. Kalau saja tak ada perawat disana, ia sudah pasti akan mencium Sonia sekarang.
Alih-alih mencium, ia menyelipkan tangannya kedalam genggaman Sonia. Menatap gadis itu dan bayi mereka penuh arti.
"Terimakasih karena telah menanggung resiko yang sangat besar demi menghantarkan anak kita ke dunia."
"Kakak yang memberikannya padaku." Mata Sonia bersinar lembut.
"I need you Sonia, you're my half soul."
"I need you too."
Ia hampir lupa dengan menunduk ingin mengecup bibir sang istri, kalau saja perawat gendut itu tidak berdehem.
Oh my... public area Dimaas?!"
To be continue...
Happy reading readers tersayang...🤗🤗🤗
__ADS_1