
Sonia
Ia baru saja melepas jilbabnya dikamar saat Agil, sang adik berteriak memanggil amak kearah dapur. Cepat-cepat ia memakai jilbab bergo yang tergantung dibelakang pintu kamar dan keluar tergesa.
"Amaak, uni Sonia mau ditangkap polisi, tuh ada pak polisi di depan nanyain rumah kita!" Teriak Agil menyusul amak yang tengah mencuci ubi di belakang rumah.
Tak elak, amak terkejut bukan main. Ia berlari meninggalkan ember penuh berisi ubi yang ingin dibuat keripik itu dengan wajah cemas. Mengelap tangannya sembarang pada lap yang berada diatas meja.
"Astagfirullah, ada apa Gil?"
"Uni Mak, uni Sonia dicariin pak polisi!" Agil berapi-api.
"Po- lisi apa maksudnya?"
"Polisi beneran mak, ada pistolnya di pinggang." Bocah kelas dua SD itu memegang pinggang nya sendiri.
Ia yang baru keluar dari kamar pun ikut terkejut. Pelan disingkapnya gorden pintu yang memisahkan ruang tamu dan dapur itu, dapat dilihatnya dari sana seorang laki-laki berperawakan tinggi, badan atletis dengan dibalut kemeja putih yang digulung sampai siku, kak Dimas siapa lagi, sedang berdiri di teras.
Kakinya bergetar, kenapa laki-laki itu kemari, belum sempat berbalik, amak sudah lebih dulu berjalan kedepan.Membuatnya makin gugup tak terkira.
"Maaf bu, benar ini rumah Sonia?" Dimas berkata sopan.
"I- ya, iya pak, anak saya ada salah apa ya pak?" Amak cemas ketakutan meremas pinggir dasternya.
Dimas sempat mengeryit sebentar, namun detik berikutnya tersenyum ramah.
"Oh, Sonia teman saya bu, tadi ponselnya ketinggalan di dalam mobil saya jadi saya mau antar ini." Serahkan Dimas ponsel Sonia pada wanita paruh baya itu.
"Teman? mobil?" Amak jelas kebingungan.
***
Ia sampai menelan ludah berkali-kali, masih setia menunggu di balik gorden, namun amak tak juga muncul. Samar-samar didengarnya suara mengobrol dari ruang tamu, dan Agil menyembul sambil menyibak kain gorden.
"Uni disuruh amak buat air teh untuk oom polisi." Kali ini Agil menyengir heboh dan berlari lagi kedepan.
Ya Tuhan, apa-apaan.
Hela nafas beratnya sambil mengaduk gula dan teh di gelas. Kakinya makin bergetar kala berjalan kedepan membawa nampan kecil berisi satu gelas teh hangat itu.
"Sonia gak pernah cerita punya teman seorang polisi." Amak dengan bahagianya berucap, persis seperti kala ia menang arisan dulu.
__ADS_1
Dan Agil dengan tak tahu malunya duduk bersisian dengan laki-laki itu, terus menatap kak Dimas secara terang-terangan.
"Om om, itu pistol beneran kan om, Agil nanti kalau sudah besar juga mau jadi polisi om." Agil mendekat takjub menatap senpi dipinggang kak Dimas.
"Oh ya, nanti Agil bisa kok jadi polisi, belajar yang rajin." Dimas yang entah disengajanya atau tidak mengacak-acak rambut Agil, sok akrab.
"Dinasnya dimana nak Dimas?" Amak pula ikut-ikutan bertanya antusias, membuatnya terus menunduk tak tahan dengan tingkah amak dan Agil.
"Di Polsek Menteng Mak."
What, hei dia bukan amak lu, ngapain ikut-ikutan panggil Mak.
Amak magut-magut dengan mata bulat berbinar, kalian tau Spongebob ?nah bayangkan saja seperti itulah muka amak saat ini.
"Ya sudah, amak tinggal ke belakang dulu ya, silahkan ngobrol sama Sonia, ayo Gil jangan ganggu." Amak berjalan kebelakang disusul oleh langkah lebar-lebar Agil.
Untuk kesekian kalinya ia menelan ludah gusar, tak berani menatap kedepan sebab ia tau laki-laki ini tengah memperhatikannya, menunggu momen ia mendongak dan mata mereka bertemu.
Hening...
Diam...
"Terimakasih."
Hening lagi...
"Silahkan diminum tehnya."Lanjutnya pelan nyaris tak terdengar.
Dimas meraih gelas diatas meja dan menghirup isinya. Sementara ia masih terus menunduk, sangat tidak nyaman dengan kehadiran laki-laki ini.
"Kalau sudah silahkan pulang." Ucapnya yang jelas sangat tidak sopan mengusir tamu.
Dimas mengangguk paham, laki-laki itu berdiri tapi tidak bergerak, membuatnya akhirnya mendongak juga.
"Ada apa?"
"Tolong panggilkan amak, saya mau pamitan." Senyum laki-laki itu yang entah mengapa baginya seperti sedang mencandainya.
"Tidak perlu, nanti saya yang akan sampaikan." Jawabnya datar dan dingin.
"Oke, baiklah." Berjalan Dimas keluar namun berhenti lagi diteras, membuatnya mengeryit heran.
__ADS_1
Laki-laki itu membungkuk ke arah pot mawar merah miliknya dan berbisik.
"Hei mawar, tolong bilangin ke majikan mu, gadis cantik gak boleh galak-galak, ntar hilang cantiknya."
Sontak ia melotot kearah kak Dimas yang dibalas dengan kerlingan mata jahil dari laki-laki itu.
***
Ia mendesah pelan kala punggung kak Dimas sudah menjauh dari rumah, berniat balik ke kamar, menetralkan rasa pening yang menyeruak dikepala. Namun amak ternyata mengekori nya dan duduk disisi tempat tidur.
"Kenal dimana sama Dimas?" amak dengan tingkat kekepoan nomor wahid nya bertanya antusias.
"Kakak sepupunya Audrey teman kuliah Sonia mak."
"Kok bisa ponsel kamu ada di mobilnya Dimas? kalian dari mana?"
Ia menarik kursi plastik dari sudut kamar, menghadapkannya ke arah amak.
"Tadi Sonia diantar sama kak Dimas pulang dari rumah Audrey, mungkin pas keluar mobil, ponsel Sonia jatuh."
"Ohhh." Angguk-anggukan kepala amak tanda mengerti.
"Eh, jadi bukan teman spesial?"
"Teman spesial apaan?" ia menaikkan alisnya.
"Yah kali aja, amak kan pengen punya mantu polisi, cakep lagi seperti si Dimas tadi."
Ia menggeleng tak percaya dengan ucapan amak dan memilih untuk menyibukkan diri dengan membuka buku bacaan.
"Pasti cantik kalau anak amak jadi ibu bhayangkari yang pake seragam pink pink itu."
"Amaakk!" ia menggeram pelan.
"Amak lupa bagaimana Abah meninggal, seperti apa Abah pergi, aku benci polisi!!!" ia menghambur keluar dari kamar sambil menyusut air mata.
To be continue...
udah Doble up nih masih lanjut Sonia-Dimas🤭
bantuin promo novelku ya readers tersayang 😂😂🙏🙏🙏
__ADS_1