
Audrey
Ia terus menyusut air mata dan ujung hidungnya dengan punggung tangan entah untuk keberapa kali. Masih betah berguling di kamar kos dengan wajah persis seperti Zombie, sudah hampir tiga hari seperti itu sejak Bayu memutuskan nya, sungguh definisi nyata dari Mati Segan Hidup tak Mau.
Diliriknya jam di dinding yang menunjukkan pukul lima sore, ia tersentak. Ingat akan ponselnya yang masih di apartemen dokter Galih. Ia harus mempercepat semua nya, beberapa barang sudah ia jual untuk membayar tunggakan sewa kosan, ada juga yang diambil teman sebagai barter dari pembayaran hutang.
Yang berharga tinggal ponsel, itupun tak lama lagi akan lepas dari genggaman, karena ia akan menjualnya untuk ongkos berangkat ke Palembang, kampung halaman almarhum ayah. Disana ada nenek dan mamang(sebutan untuk om)yang siap menampung nya dengan senang hati.
***
Celingukan ia di depan pintu apartemen dokter Galih, bingung harus bagaimana, pasalnya ia tidak tau dokter itu ada dimana, apakah di Rumah Sakit atau di klinik. Yang jelas laki-laki itu tidak ada di apartemen nya, karena sudah hampir sepuluh kali ia memencet bel, tidak ada respon dari dalam.
Tepat ketika akan memencet bel untuk kesebelas, pak Dimas muncul.
"Hey, Audrey.. Ngapain?"
Ia sedikit kaget dengan kemunculan polisi tampan itu secara tiba-tiba.
"Eh, pak.. Mau ambil ponsel yang tertinggal di unit nya dokter Galih."
"Oh, Galih belum pulang, nanti saya telpon dia, ayo masuk ke unit saya dulu, tunggu disana."
Sebenarnya ia agak ragu untuk mengekor pak Dimas, namun ia harus menunggu jika ingin mendapatkan ponselnya kembali.
"Duduk."
Ia mengangguk pelan sambil mendaratkan bokongnya disofa empuk milik pria itu.
"Sudah makan?"
"Belum pak." Menjawab dengan harapan tingkat tinggi bisa diberi makan, ya Tuhan Audrey, gembel sekali dirimu...
Pak Dimas mengeluarkan dua bungkusan nasi padang gulai rendang diatas meja lengkap dengan dua botol air mineral.
"Dapat dari kantor tadi, ayo makan, saya juga belum makan, kita makan sama-sama."
Makan berdua bersama seorang Kanit Reskrim yang sempat menyidiknya tempo hari tentu saja membuat Audrey sedikit gugup, dan itu bisa ditangkap oleh Dimas.
"Hei, santai saja, di luar pekerjaan dan kantor saya cuma pria biasa, sahabatnya Galih, jangan tegang gitu dong."
Ia hanya menyeringai berusaha menetralisir kegugupan yang melanda, agak menyesal juga menerima tawaran pak polisi ini untuk masuk ke unitnya dan dengan tak tau malu minta makan pula.
__ADS_1
"Galih sudah saya hubungi tadi, mungkin sebentar lagi pulang, tunggu disini saja."
Lagi-lagi ia mengangguk sambil menyuap, sesekali netranya menyusuri sudut-sudut apartemen Dimas, tidak ada tanda-tanda ada anggota keluarga lain disana, apa ia juga hidup sendiri seperti dokter Galih.
Kenapa pria-pria tampan nan mapan seperti dokter Galih dan pak Dimas tidak cepat punya istri, minimal kekasih lah, mengingat harta dan tahta ada dalam genggaman mereka, ia rasa tentu tidak sulit untuk menggaet wanita, apalagi dengan wajah-wajah sekelas Lee Min Hoo dan Ji Cang Wook, tentu saja banyak wanita yang antri.
"Habiskan." Ucap Dimas sambil meneguk air dalam botol mineral, sambil menggulung kertas nasi miliknya dan memasukkan nya dalam kantong plastik.
Ia hanya mengangguk.
Tentu saja pak, ini pertama kali saya makan enak sejak putus cinta...
"Bapak tinggal sendiri disini?" Akhirnya lolos juga pertanyaan itu dari bibirnya.
"Iya, anak saya tinggal sama neneknya di Bandung."
Hahaaa, Sudah punya keluarga ternyata...
"Istri bapak tidak tinggal disini?"
"Istri saya sudah meninggal, perdarahan waktu melahirkan anak saya, tiga tahun lalu."
"Ohh, sorry."
Duda keren ternyata dia pemirsa, sugar Daddy pula...
"Tunggulah disini sampai Galih pulang."
Dan untuk kesekian kali ia mengangguk patuh, namun ditengah-tengah penantian. Sistem urogenital nya tak bisa diajak kompromi, ia sudah menahan pipis sejak tadi, karena tak enak menumpang kamar mandi di rumah pria asing.
Namun akhirnya pertahanannya runtuh juga, ia sudah tahan lagi.
"Maaf pak, bisa numpang kamar mandi?" Ucapnya terbata.
"Boleh, pake kamar mandi yang dikamar, karena yang di dapur lagi ngadat."
Glekk...
Ya Tuhan, jadi dia harus masuk ke dalam kamar, bagaimana ini, tapi sudah tahan lagi pengen pipis.
Akhirnya dengan mengumpulkan puing-puing keberanian, ia melangkah menuju kamar untuk menuntaskan Piramida dari kebutuhan Maslow yang kedua, yakni kebutuhan eliminasi.
__ADS_1
Ahhhh legaaa...
Cepat-cepat ia keluar lagi dari kamar itu, baru saja membuka pintu kamar, ia dikejutkan oleh keberadaan sesosok wanita cantik, masih memakai seragam polisi dengan rambut pendek sebahu, tubuh langsing dengan betis jenjang yang terekspose sebab memakai rok selutut, sepertinya tidak asing, pernah lihat dimana ya.
Oh iya, dia polwan cantik yang sering wara-wiri di layar kaca televisi, menyiarkan berita traffic jam di pagi hari. Ia berusaha tersenyum, namun di detik berikutnya, suara teriakan yang ia dapatkan.
"DIMAAASSS!!"
"Apa-apaan kamu!! kenapa ada wanita dalam kamaar!!"
"Iyaa sayang." Suara Dimas terdengar dari arah dapur, namun belum nampak wujudnya.
Tiba-tiba saja tubuhnya menyusut jadi sekecil semut, lagi ia berada di waktu dan tempat yang salah.
Polwan itu berbalik sambil melayangkan tatapan setajam silet, kemudian menyusul kekasihnya ke arah dapur. Dapat ia dengar suara pertengkaran hebat disana sementara ia masih mematung tak berdaya.
PRANGGG!!!
Suara pecah belah terlempar diikuti teriakan-teriakan, apakah begini cara pasangan polisi bertengkar, entahlah. Namun ia teringat berita yang sering di tonton nya di televisi, polisi yang menembak pasangannya lantaran bertengkar perihal rumah tangga. Sontak itu membuatnya ketakutan.
Dengan tingkat kegugupan diatas rata-rata, ia mengambil langkah seribu keluar dari unit apartemen itu, cari aman setidaknya, karena sudah cukup kejadian dihotel kemarin menyeretnya menjadi saksi atas kematian seseorang.
Ayolah Audrey, pikiranmu terlalu jauh, mereka hanya bertengkar...
Ia menggeleng pelan mentertawakan pikiran liarnya, tepat saat pintu lift terbuka, wajah dokter Galih muncul dari dalam kotak besi itu, dan ia tersenyum lega.
"Kenapa?" Dokter Galih heran melihatnya tiba-tiba tersenyum penuh arti.
"Saya menunggu dokter sejak tadi."
"Kamu menunggu di koridor?"
"Tidak, saya menunggu di unit pak Dimas, tapi tiba-tiba saja kekasih nya datang, wanita itu salah paham melihat keberadaan saya disana, mereka sedang bertengkar hebat sekarang."
"Hahaaaaa benarkah?"
Ia mengangguk cepat mengekor dokter Galih yang lebih dulu berjalan ke apartemen nya.
"Masuklah."
"Tenang, saya tidak punya kekasih yang akan marah melihatmu." Dokter Galih tersenyum smrik melihat kekhawatiran nya.
__ADS_1
Ia balik tersenyum kecut lalu masuk kesana, suasananya tidak jauh berbeda saat terakhir ia tinggalkan.
To be Continue...