
Audrey
" Kakak akan melamar setelah seminar IDI di Surabaya, sekitar bulan depan." Kak Galih merebahkan tubuhnya disofa depan di Rooftop.
"Jadwal aku padat gini, gimana ngatur nya kak, minggu depan udah magang di puskesmas, terus lanjut PKL( Praktek Kerja Lapangan), belum lagi mau ngajukan judul proposal buat skripsi, nyaris gak ada kosong waktunya." Ia lebih ke menggerutu ketimbang bercerita.
Kepalanya sudah penuh, ditambah lagi kak Galih ngebet pengen ngajak nikah membuat hampir tidak ada memori kosong yang tersisa di otak, programnya pun hampir error mungkin.
"Bagaimana kalau kita undur saja rencana nikahnya, setidaknya sampai aku selesai sidang skripsi?" Tolehnya pada sang kekasih yang tentu saja langsung memasang wajah masam.
"Sekitaran tujuh atau delapan bulan lagi lah kak, kan enak pas nikah gak dikejar-kejar deadline, yah yah?" Ia menggeser tubuhnya sedikit mendekat sambil meraih jemari kak Galih dan menautkan ke jari-jari nya.
Dapat ia lihat laki-laki itu menghela nafas pelan.
"Ibu kamu udah dikasih tau belum?"
"Belum sempat, nanti malam lah aku telpon."
"Belum sempat terus, kamu serius gak sih Drey sama kakak sebenarnya? sini mana nomor ibu, biar kakak yang telpon."
"Kok nyolot, kakak gak liat kerjaan aku kayak gimana, pagi nyampe sore kuliah,belum lagi tugas seabrek, sorenya langsung kerja di klinik, pulang malam dah capek."
"Kemaren mau nelpon ibu, nomor nya juga gak aktif." Desahnya sambil melepaskan tautan jari mereka.
Mereka sama-sama diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Bukannya aku gak serius kak, tapi kakak lihat sendiri kan sibuknya aku kayak gimana, mau ke tempat ibu waktunya aja gak ketemu kapan, soalnya gak ada libur."
"Ya udah, tunggu kamu selesai wisuda aja." Suara kak Galih
"Mulai besok berhenti dulu kerja di klinik, fokus sama kuliah aja, biar cepat ngajukan judul skripsi nya."
"Lah terus hutang aku sama biaya hidup gimana kalau gak kerja?"
"Kamu lupa sudah punya calon suami, biar kakak yang nanggung, fokus kuliah aja biar kita cepat nikah."
Dan bukan kak Galih namanya kalau setiap bertemu tidak menyentuhnya, laki-laki itu mulai berani menciumnya tanpa permisi, seperti kali ini. Tapi walaupun begitu, agaknya kak Galih selalu tau batasannya, dia tidak pernah melakukan hal yang lebih selain mencium di dahi, pipi dan yah bibir, oh my ...
__ADS_1
.
.
.
Pukul 14.00 Wib
Audrey
"Uni langsung pulang?" Ia bicara pada Sonia siang itu setelah jam mata kuliah berakhir.
"Iya Drey, mau ngerjain tugas pak Hambali dirumah aja."
Ia mengangguk cepat, kemudian menoleh lagi.
"Jadi, sudah mau cerita belum?"
"Cerita apa?"
"Jadi?"
"Jadi apa? gak ada apa-apa kok Drey." Sonia mencoba mengelak.
"Gak ada apa-apa gimana, orang kak Dimas nyebut uni calonnya dia."
"Kak Dimas bohong Drey, jangan percaya. Udah ah bahas yang lain aja." Uni Sonia jelas menghindar.
"Iya juga gak papa kok ni, kak Dimas itu orangnya baik. Waktu aku di sel gegara kasus dulu itu, dia sama kak Galih yang nolongin aku."
"Aku paling setuju kalau uni sama kak Dimas, uni gak bakalan nyesal deh nerima kak Dimas, udah cakep kayak Lee min Ho, baik pula, paket komplit pokoknya."
"Yang penting itu agama sih Drey kalau menurut uni, cakep nomor sekian, yang utama agamanya bagus apa nggak."
Dan ia seperti tertampar dengan ucapan uni Sonia. Kak Galih agamanya gimana helooo, jauh panggang dari api deh kayaknya tuh laki, sisi spiritual nya masih tertinggal dibelakang, bisa dilihat dalam kurun waktu tiga bulan bersama, laki-laki itu bahkan sudah sukses mencomot bibirnya yang suci, ya Tuhan.
Ia menelan saliva, kalau uni Sonia tau apa yang ia dan kak Galih sering lakukan jika bersama, sudah bisa dipastikan gadis itu akan mengistighfari dirinya seribu kali saat ini, membuatnya malu sendiri.
__ADS_1
"Ya udah, uni langsung pulang duluan ya. Kamu?"
"Aku, aku mau ke service komputer dulu, kemarin nginstal laptop belum diambil." Ucapnya gaguk.
Dan akhirnya mereka berpisah di depan gerbang, ia langsung kembali mengambil motornya diparkiran. Yah, sejak satu bulan belajar motor dengan kak Galih, sekarang ia sudah mahir mengendarai motor walau hanya untuk pulang pergi ke kampus.
Motor berhenti di sebuah toko peralatan komputer, ia memarkirkan motornya hati-hati disisi jalan, hingga sebuah suara memanggil.
"Audrey?"
Nyess...
Suara itu seperti tak asing terdengar ditelinga, ia menoleh ke asal suara. Seorang laki-laki jangkung memakai kaos putih dibalut jaket denim serta celana levis berdiri di dekat motor yang sangat ia kenali, bahkan plat motor itupun sudah ia hafal diluar kepala.
"Ba yu?"
"Hai, apa kabar?"
"Baik, kamu?"
"Baik."
Diam sesaat, dapat ia lihat Bayu memandangi nya lekat, membuatnya salah tingkah sendiri.
"Sudah bisa bawa motor sekarang?"
"As you see."
Dan Bayu terkekeh pelan.
Kejadian yang sudah mereka alami, sungguh membuatnya canggung bertemu lagi seperti ini, ingin hati menanyakan kapan pulang ke Jakarta atau lagi sibuk apa sekarang, hanya sekedar berbasa-basi, namun cepat-cepat ia urungkan mengingat ucapan pria itu dulu untuk menjadi orang asing satu sama lain.
"Aku duluan, ada yang mau diambil." Akhirnya ia mengangguk pelan ke arah Bayu dan melangkah masuk ke dalam toko.
To be Continue...
happy reading ya,
__ADS_1