The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Abah...


__ADS_3

Dimas


Ia tersenyum getir sembari mencengkeram keras setirnya. Baru kali ini ia merasa benar-benar tertantang, gadis itu...


Hidup sempurna dengan segala bisa diraihnya, membuat ia sama sekali tak pernah mengalami yang namanya penolakan apalagi merasa diabaikan. Begitulah ia, bungsu dari tiga bersaudara dengan ayah seorang jenderal petinggi POLRI dan kakak-kakak yang semua memanjakannya.Dimas bagaikan seorang pangeran dari negeri dongeng.


Tapi tadi, ia bahkan diacuhkan oleh seorang gadis polos kemarin sore, yang benar saja. Pesonanya sama sekali tak bekerja dihadapan Sonia, membuatnya lagi-lagi tertawa hambar.


Harta dan tahta serta aset wajah tampan sama sekali bukan pemikat untuk gadis unik seperti Sonia, yang kebanyakan itulah yang dicari-cari wanita. Sepanjang sejarah percintaannya, ia tak pernah sekalipun benar-benar bekerja keras untuk mendapatkan hati wanita, termasuk hati almarhumah sang istri dulu.


Hanya dengan sekali lirik, wanita mana yang tidak mendekat. Tapi pengecualian untuk Sonia, gadis itu bahkan jelas sekali tidak menyukainya. Lagi-lagi membuat nya sangat tertantang, entahlah apa ini termasuk cinta atau sekedar obsesi untuk menaklukkan, ia pun tak tau.


Baiklah girl perang dimulai. Kita lihat siapa yang akan bertekuk lutut, ia mengeraskan rahangnya. Dan tentu saja, untuk memenangkan peperangan ia harus mengubah strategi. Tidak lagi langsung menyerang lawan dari arah depan, melainkan menyusup ke dalam secara perlahan.


Menggunakan strategi Devide at Impera, sebuah strategi yang dipakai Belanda dulu kala menjajah Indonesia dengan mendekati para Raja dan mengadu domba mereka, tapi ini lain. Cukup mendekati ibu dan adik Sonia yang terlihat welcome padanya, sedikit licik memang tapi lagi-lagi demi obsesi menaklukkan, segala cara kan ia tempuh.


***


Pukul 16.00 Wib


Sonia


Ia berjalan gontai memasuki pekarangan kecil yang hanya berjarak tidak kurang dari dua meter dari teras rumah. Benar-benar penat seharian melaksanakan ujian akhir semester, jilbabnya bahkan sudah tak beraturan.


Namun belum lagi ia melangkah ke pintu, adik kecilnya berlari kegirangan sambil memegang sebuah pistol mainan yang terlihat mahal, bukan berbahan plastik biasa.


"Dorr... Dorr!!"


Bruaak...


Agil menabraknya kencang, tak urung lagi ia terjungkal ke belakang.


"Agiiiiil!! Kalau main hati-hati dong!"

__ADS_1


"Maaf uni." Bocah itu berlari kearah depan.


"Hei, itu mainannya siapa, jangan sembarang pinjam, nanti rusak."


Agil berhenti lalu berjalan kearahnya sambil mengangkat pistol mainan itu.


"Ini punya Agil dong, oom polisi yang kemarin kesini itu yang beliin." Cengir lebarnya menampakkan gigi kelinci yang tak rata.


Ia menautkan alis tinggi demi mencerna perkataan sang adik.


"Tadi Dimas kesini, mampir katanya, lihat nih amak juga dapat hadiah, bagus sekali, bahannya lembut, eh bahan sutera ini sepertinya, pasti mahal, berapa duit ya Son." Amak menampakkan mukena sutera bertabur mutiara di pinggiran nya.


Mendadak kepalanya pening berdenyut melihat ini semua, ia tak menghiraukan amak dan Agil yang berdiri disana, berjalan cepat, ia menghambur kedalam kamar. Meraih ponsel dalam sakunya, kemudian berdecak sendiri.


Ya Tuhan, ia bahkan tidak memiliki nomor ponsel lelaki itu, ini sudah kelewatan, dia sudah melewati batas, tidak bisa seperti ini, ini tidak boleh dibiarkan. Air matanya menetes, diraihnya foto Abah di dalam album.


"Sonia kesayangan Abah."


Suara Abah masih terngiang di telinga. Terasa hangat dan dalam. Serasa baru kemarin Abah dengan wajah pucat pasi meringkuk di dalam sel tahanan polisi. Ia yang melihat itu, tidak dibiarkan lama disana sebab Abah masih tahanan polres kala itu.


Ia terus menangis, kejadian demi kejadian berputar dikepala seperti film yang tengah ditayang. Petang itu seperti biasa ia menungu abah pulang, jam lima sore adalah jadwal Abah pulang. Namun hingga hampir magrib Abah tak nampak, ia dan amak mulai cemas, pasalnya abah tak memiliki ponsel untuk bisa dihubungi.


Hingga jam delapan malam Abah tak juga muncul, sampai sebuah telpon berdering ke ponselnya, dari polisi. Ia terkejut bukan main, tubuhnya bergetar hebat kala polisi itu mengatakan bahwa Abah sekarang ada di Polres.


Abah tertangkap sebab membawa bungkusan narkotika jenis mariyuana dalam gerobak baksonya, yang menurut Abah ada mahasiswa yang menitip paket buku sebentar tadi, Abah tidak tau kalau didalam buku itu terdapat barang haram.


Seminggu abah mendekam di sel polres, kemudian Abah dipulangkan setelah terbukti tak bersalah, namun kondisi Abah waktu itu sangat memprihatikan, luka robek di pelipis nya, serta lebam di kaki kiri membuat abah pincang berjalan, wajah abah juga babak belur.


Hati anak mana yang tidak pilu melihat itu semua, Abah adalah cinta pertama nya, yang mengajarkan segala untuknya, hanya satu orang laki-laki yang dicintai Sonia, yakni Abah.


Sejak kepulangan Abah, beliau terus sakit- sakitan, hanya berkelang dua bulan setelahnya, Abah berpulang ke Rahmatullah. Abah pergi untuk selama-lamanya menyisakan pedih dihati yang teramat dalam.


***

__ADS_1


Ia menyusut air mata dan cairan bening yang keluar melalui hidung dengan punggung tangannya, keluar kamar tergesa menemui amak yang masih mengelus mukena pemberian laki-laki itu.


"Amak, tak baik menerima pemberian orang asing, jika amak mau nanti Sonia janji akan membelikan barang yang sama setelah bekerja, tapi sekarang Sonia minta, kita kembalikan semuanya."


Sontak amak terperangah namun juga bingung melihat wajah anak gadisnya sembab sebab bekas air mata yang mengering.


"Agiiil gak mau kembalikan!!" Teriak bocah kecil itu berlari keluar. Namun dengan cepat ia menahan Agil, merampas mainannya.


"Uni bilang kembalikan!" Tidak boleh menerima barang dari orang asing."


"Oom polisi bukan orang asing, dia baik."


"Agiiilll, nanti uni belikan yang baru, yang ini kembalikan!!"


"TIDAAAK"


"AGIL MAU YANG ITU!!!"


Bocah itu menangis histeris kala ia mengambil paksa mainan dan membawanya ke kamar, dengan gerakan cepat memasukkan nya kedalam paper bag ukuran jumbo.


.


.


.


Mereka sudah berdiri di depan sebuah pintu apartemen, dengan Audrey yang sangat bingung. Yah, dia meminta Audrey mengantarnya ke apartemen laki-laki itu.


"Nanti uni ceritakan ya." Ucapnya sambil terus menghela nafas, gadis itu hanya mengangguk pelan, jelas penasaran sekali dengan situasi sekarang.


Akhirnya pada percobaan memencet bel yang ketiga, pintu terbuka...


To be Continue...

__ADS_1


happy reading yaaa...


__ADS_2