The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Making Love


__ADS_3

Dimas


Ia masih sibuk berbincang dengan kerabat dan tamu Galih menjelang siang itu selepas acara akad dilaksanakan, namun tetap fokusnya pada gadis bergamis biru dengan hijab panjang melambai yang sibuk diujung sana.


Sungguh ia baru tau kalau wanita berhijab panjang bisa semenarik itu dihatinya, definisi nyata dari istilah sexy. Ayolah apa yang sexy, gadis itu bahkan dibungkus kain dari ujung kepala sampai ujung kaki, tapi tetap saja menarik.


Owh, owh... kemana dia


"Saya permisi dulu." Ucapnya pada dokter Ibrahim, direktur Rumah Sakit tempat Galih bekerja saat dilihatnya Sonia tampak keluar menuruni tangga. Langkahnya lebar berjalan menyusul gadis itu.


"Hai..."


"Oh, hai." Sonia berhenti tepat di anak tangga pertama.


"Sa- ya antar?"


Dapat dilihatnya gadis itu mengeryitkan dahi bingung, "Saya mau ambil parcel buah di tenda bawah, mengapa harus diantar?"


Ouuch shhitt, ia kira gadis itu mau pulang ternyata...memalukan kau Dimas


"Oh, saya kira mau pulang." Ucapnya dengan wajah pias, tentu saja menahan malu.


Sonia mengangguk pelan lalu berbalik menuruni anak tangga tanpa menghiraukannya lagi, cukup lama ia memandangi gadis bergamis biru itu sampai benar-benar hilang dari pandangan dan ia pun kembali lagi berbaur dengan tamu yang lain sambil memijit pangkal hidung.


"Kurang greget." Bisik Galih tepat ditelinga nya, sontak ia menoleh, pria itu tersenyum smrik sambil meneguk minumannya.


"Belajar sama aku, pegang kepalanya maka kau akan dapat keseluruhan."


"Kepala apa?" Audrey sudah berdiri dibelakang suaminya dengan tatapan setajam silet.


"Hahaaaaaa, mampus!!! jangan kasih jatah malam nanti Drey." Cibirnya pada Galih yang membeku, kemudian berjalan menjauhi pengantin baru tersebut.


.


.


.


Galih


Tubuhnya mendadak kaku mendapati sang istri, wow istri keren keren, berdiri menatapnya seolah ia adalah santapan empuk yang enak diputar, diji lat terus dicelupin, macam Oreo.


"Urusan kita belum selesai." Audrey dingin.

__ADS_1


"Jadi mau diselesaikan dimana? disini atau dikamar?" Terkekeh ia coba menggoda Audrey.


Dapat ia lihat wajah Audrey merah padam menahan kesal, namun segera teralihkan lantaran beberapa tamu pamit pulang, ia dan Audrey pun sibuk bersalaman dengan para tamu, tersenyum saling menggenggam dan tiada henti pula mengucapkan amin pada doa-doa yang mereka panjatkan.


Selepas Zhuhur semua tamu nyaris tak tersisa lagi, tinggal tim WO yang sibuk membereskan sisa acara, serta catering yang beranjak pulang.


"Uni Sonia pulang diantar kak Dimas ya." Toleh Audrey pada Sonia yang berkemas siap pulang.


"Gak usah Drey, uni pulang sendiri bisa kok."


"Ayolah ni, beri kesempatan kak Dim buat dekat sama uni."


Dan dengan cepat kepala gadis itu menggeleng kuat, "Gak ada istilah dekat-dekat sama sesuatu yang gak halal Drey, bisa jadi celah masuknya syaitan nanti."


Dan ia bisa melihat sang istri terkikik malu, apalagi kalau bukan mengingat kebersamaan mereka yang main comot tanpa memperdulikan kehalalan.


"She's different girl, bro. Harus lebih kerja keras!!" ia menepuk bahu Dimas pelan, yah keduanya berhasil menguping pembicaraan dua gadis itu dengan tanpa sengaja.


Dan saat Sonia berjalan melewati mereka, berpamitan pulang, Dimas hanya mengangguk tersenyum, membiarkan gadis itu berlalu dari hadapan.


"Hei, tidak berusaha cari cara untuk mengantarnya?" Sikutnya pada laki-laki itu.


"Untuk apa? sudah jelas tadi kita dengar dia tidak mau dekat-dekat sama yang belum halal." Dimas menaikkan alis.


"Jadi?"


"Hahaaaa, good man !!!"


***


Dan tepat menjelang Ashar, semua benar-benar beres. Tak ada lagi orang atau tamu disana kecuali ibu dan bapak yang berencana untuk pulang ke Sidoarjo besok.


Ia melihat Audrey yang sibuk melepas hiasan sanggul dikepalanya kala memasuki kamar itu.


"Perlu bantuan?" Dekatkan nya sebuah kursi plastik tepat di sisi gadis itu duduk. Dan tanpa meminta persetujuan pun ia sudah mencabut beberapa kembang bergoyang berbahan kuningan dari kepala Audrey.


"Kenapa tak mengabariku kalau pergi ke Sidoarjo?"


Ia sempat menatap manik coklat besar milik sang istri. "Surprise, hunny."


"Surprise apaan! aku hampir gila, aku pikir kakak marah lantaran aku bertemu Bayu. Lima hari tak berkabar, kakak benar-benar tega, pulang-pulang langsung main nikah paksa!"


"Nikah paksa? ayolah, kita sudah membahas ini jauh-jauh hari."

__ADS_1


"Tapi janjinya sudah aku wisuda, bukan sekarang!"


"Apa bedanya sekarang dengan setelah wisuda. Kakak pergi seminar dua minggu lagi, dan kakak hanya ingin kamu sudah jadi milik kakak sepenuhnya sebelum kakak sibuk nanti disana."


"Aku belum mau hamil." Dan ia terpaksa harus menahan tawa mendengar penuturan polos Audrey, jadi yang dikhawatirkan gadis ini hanya karena tak ingin hamil, just it. Simpel sekali, Audrey lupa menikahi siapa rupanya, dokter spesialis obstetri ginekologi, pakarnya kehamilan, hahaaaa.


Ia mengangguk pelan sambil berbisik erotis tepat di balik daun telinga Audrey. "Percayalah, kakak bisa menghantarkan mu terbang ke nirwana, ke langit ke tujuh tanpa harus membuatmu hamil."


Bukannya merasa tersentuh, Audrey malah mendorong tubuhnya, memicingkan mata.


"Aku tidak mau memakai kontrasepsi, hormon ku tidak stabil."


"Ada banyak pilihan hunny, kita coba yang non hormonal kalau begitu, mau pake Kon dom, pantang berkala, ada juga seng ga ma terputus, atau mau coba pakai IUD?"


"pantang berkala gak bisa, siklus haidku gak teratur, yang ada nanti kebobolan. Seng ga ma terputus sama Kon dom okelah, cuma kurang memuaskan untuk pihak suami, pakai IUD, aku takut." Audrey berjalan mondar-mandir di kamar, membuatnya harus memijit kening, apakah harus selama ini prosedurnya hanya untuk menyentuh istri??


Jadi fix, akhirnya pilihan jatuh pada benda mungil berbahan karet transparan sebagai sarana pencegah kehamilan, dan yang jadi masalah, ia tidak memiliki itu saat ini, damned!!" Mau ambil di apotik klinik sore ini, akan sangat memalukan pastinya.


"Jadi? sudah bisa dimulai sekarang?" Ia mendekati Audrey, memeluk pinggang ramping itu dari belakang.


"Kakak punya barangnya?" Audrey berusaha melepas lilitan tangannya.


"Barang? jelas punya sayang." Tunjuknya dengan ekor mata pada sesuatu yang sudah berdiri sejak tadi dari balik celana.


"Aku bilang bungkus nya ada?" Audrey tampak frustasi.


"Keluarin di luar aja dulu kan gampang, besok-besok baru ambil bungkusnya di apotik klinik." Ia menarik Audrey ke atas benda empuk bertabur kelompak mawar segar diatasnya.


Here we go...


I'll show you the great amazing 'making love' ever


Dengan gerakan cukup terlatih ia menyentuh sang gadis pujaan penuh kelembutan, ketenangan, pelan, halus serta sopan, benar-benar memperlakukan Audrey bak porselen mahal bernilai ratusan milyar. Sungguh definisi nyata dari istilah dunia milik berdua.


*This is gonna be her first 'making love' ever...


The best of the best making love ever, yeaah*


Masih berlanjut, pelan namun pasti ia menuntun Audrey menuju dunia tak terbatas dan melampauinya, melewati tumpukan awan indah merah membara, benar-benar terbang ke angkasa luas, melayang-layang di langit ketujuh. "Thanks for accepting me, hunny." bisiknya parau kala berada di puncak tertinggi dari masa pendakian yang melelahkan.


She's mine, always mine, forevaahhhhhhh...


To be Continue...

__ADS_1


Happy reading semua


Ada yang mau lempar kembang ke othor gak ya?? 🌹🌹🌹🌹🌹🌹😂😂😂


__ADS_2