
Kikan
"World! are you kidding me?"
Mana mungkin pria didepan sana adalah Abi, Abi seorang pilot dan sudah meninggal karena kecelakaan pesawat di Gunma empat bulan lalu. Dan lagi, sangat mustahil untuk bisa berada di firma ini.
"He's coming." Bisik Ina padanya.
"Nah, ini Ina dan Kikan. Senior attorney disini." Suara bang Tanjung menyapa mereka.
"Kikan, senang bisa bertemu anda." Ujarnya dan mengulurkan tangan.
"Byan, it's nice to meet you, Kikan."
Ia memberanikan diri untuk menatap Byan, sekadar ingin mengetahui reaksi pria itu. Namun, Byan hanya tersenyum sopan, tidak ada tanda-tanda Byan mengenalinya.
Membuatnya bertanya-tanya, mungkinkah Abi memiliki kembaran yang ia tidak tahu, sebab sangat jelas wajah Byan adalah copyan dari Abi 100%. Walau ia tidak terlalu dekat dengan Abi, ia masih sangat bisa mengenali wajah pria itu.
Sampai ia masuk kembali ke ruangannya, ia masih bertanya-tanya, jadilah pikirannya tidak fokus hari itu. Tepat saat ia ingin beranjak ke arah pantry, ia berpapasan dengan si Byan itu.
Sekali lagi, ia berusaha membaca raut muka Byan, mencari tahu apakah ada tanda-tanda pria itu mengenalinya. Namun, ia masih tidak menemukan tanda apapun.
"Lagi nanganin kasus apa?" Byan menyapanya.
"Biasa, perceraian." Ia mencoba tersenyum rileks.
"Dia minta apa?"
"Enggak mau keluar uang."
"Lagu lama." Byan terkekeh."Aku dulu sering nanganin kasus seperti itu, hampir mirip-mirip lah."
Dan ia hanya mengangguk pelan menanggapi, kemudian keberanian itu muncul tiba-tiba entah dari mana, saat Byan ingin berlalu dari sana.
"Abi?"
Dapat dilihatnya langkah Byan langsung terhenti. Pria itu menatapnya lekat-lekat." Ka-mu kenal Abi?"
Detik berikutnya ia langsung mengangguk, " He's my friend."
Reaksi Byan sungguh tak terduga, ia tersenyum lebar seolah-olah baru saja menemukan harta karun paling berharga yang telah lama dicari.
"Sepertinya kita harus ngobrol di tempat lain."
__ADS_1
Sekali lagi ia mengangguk, menyetujui Byan. Jelas mengobrol dengan Byan akan membantunya membuka kotak pandora tentang Aurora bukan.
.
.
.
Byan
Om Lubis sangat senang sekali saat menerima telponnya yang mengatakan bahwa ia bersedia untuk bergabung di Lubis & Partners, dan akan ke Jakarta dalam minggu ini.
Yah, ia pun menyadari, pada akhirnya ia tidak akan bisa menghindar lagi. Namun tetap, ia mengajukan penawaran bahwa setengah dari waktunya masih untuk kasus-kasus pro bono dan LBH yang ia rintis sendiri, dan om Lubis langsung menyetujuinya.
Hari pertama bekerja, tidak buruk. Rekan-rekan di firma ini sangat welcome dengannya, membuatnya langsung akrab dan bisa berbaur dengan mereka. Ada satu gadis yang mencuri atensi nya, sejak kedatangannya tadi pagi.
Dan tebakannya benar, gadis itu salah satu teman Abi. Ia benar-benar senang, seperti mendapat oase di tengah gurun pasir, ia langsung membuat janji dengan Kikan, nama gadis itu.
Sudah waktunya pulang, namun ia masih menyelesaikan dokumen yang sangat tanggung untuk ditinggal, ketika suara ketukan terdengar dari arah pintu. Ia mendapati Kikan berdiri disana, menyunggingkan sebaris senyum tipis ketika melihatnya.
Dengan dagu, ia mengisyaratkan agar Kikan masuk.
"Baru hari pertama udah nanganin kasus besar ya, kasus apa?" Kikan melirik dokumennya.
"Kasus apa?" Kikan kembali bertanya.
"Istri ditipu suaminya yang jual tanah ke pengembang, jadi terusir."
"Pro bono?" Gadis mengernyitkan dahi.
"Biasanya cuma ngasih konsultasi aja, jarang ada yang terjun langsung seperti ini." Dan ia bisa menebak reaksi Kikan.
Menangani kasus pro bono alias cuma-cuma untuk pihak yang mencari keadilan tapi tidak mampu membayar jasa advokat sudah menjadi bagian dari kewajiban. Namun tidak semua lawyer bersedia. Sebagian menganggap hanya buang-buang waktu, sebab di bidang kerja ini, setiap detik itu bernilai mahal. Tak heran jika banyak yang memilih untuk mendampingi kasus-kasus perceraian artis, selain mendatangkan pundi uang, juga bisa mendongkrak popularitas.
Dan ia pun merasakan aura yang sama di wajah Kikan, gadis itu tak berminat sama sekali.
"Kalau tidak keberatan, bisa tunggu sebentar. Aku bereskan ini dulu." Ia menunjuk dokumennya dan diikuti anggukan kecil Kikan.
Kelang setengah jam berikutnya, mereka sudah berada di sebuah cafe di bilangan Sudirman, tak begitu jauh dari kantor.
"Abi is my twin." Ia membuka obrolan, berkata pelan sambil memandang gelas minum yang ia pegang ketika mereka sudah duduk berseberangan di meja.
"Sudah kuduga." Kikan tersenyum.
__ADS_1
"Jadi sudah lama kenal Abi?" Ia menatap Kikan sekilas.
"Lumayan, dia temannya pacar aku. Satu batch malah waktu sekolah penerbangan."
"Aku turut berduka cita tentang Abi, kami lumayan dekat dulu." Lanjut Kikan memasang wajah sedih.
"Yah... Sudah takdirnya begitu. Abi orang baik walau sedikit nyeleneh." Ia mencoba tersenyum.
"Kalau kamu kenal dekat dengan Abi, kamu pasti tahu, teman wanitanya atau pacarnya mungkin?"
Kikan menatapnya dalam sebelum meneguk minuman, "Abi... Dia dekat dengan Aurora, setahuku."
Ia tidak mampu menyembunyikan euforia saat mendengar nama gadis yang tercantum di foto USG itu, sampai mencondongkan tubuhnya ke depan meja, mempersempit jarak antaranya dan Kikan, "Kamu kenal gadis itu? maksudku Aurora?"
Kikan mengangguk sama antusias dengannya. "Dia sepupu pacarku."
Dan lagi-lagi ia tersenyum, tidak menyangka bisa menemukan Aurora secepat ini. Lebih mudah dari yang ia bayangkan. Tadinya ia berfikir akan sangat sulit mencari seseorang di kota padat seperti Jakarta, seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Mengingat ia tidak banyak mengenal teman-teman saudara kembarnya itu.
Tapi Tuhan mendatangkan Kikan yang ternyata salah satu teman Abi plus kenal pula dengan gadis bernama Aurora itu. Mommy pasti bahagia ketika tahu ada cucu yang ditinggalkan Abi.
"Tenanglah mom, aku pasti akan membawa gadis itu, aku akan menghantarkan cucumu padamu." Ia tak bisa menahan haru campur bahagia saat membayangkan itu.
"Ada apa dengan Aurora?" Lamunannya terputus saat mendengar suara Kikan.
"Hah... apa?"
"Aurora? kenapa dengan dia?"
"Aku perlu bertemu gadis itu, bisakah kamu membantuku? aku sempat mencarinya di Sapporo, tapi dia sudah tidak disana lagi."
"Aurora pulang ke Jakarta setelah menyelesaikan kontrak kerjanya disana, aku bisa membantumu bertemu Aurora. Tapi bisa jelaskan kenapa kamu mencarinya dan ingin bertemu dengannya?"
Dan ia mengeluarkan selembar foto USG dari kantong jas nya.
"Apa maksudnya ini?" Kikan tergagap.
"Aurora hamil anak Abi. Gadis ini tengah mengandung anak dari saudaraku."
Detik berikutnya, Kikan langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, antara syok atau apa, ia tak tahu. Tapi jelas gadis dihadapannya ini sangat terkejut sampai memandangnya dan foto tersebut bergantian.
To be Continue
Happy reading yaaaaaaa....
__ADS_1