
Audrey
Ia memperhatikan wajahnya dicermin, seketika menutup muka dengan kedua telapak tangan, malu sendiri ia mengingat apa yang barusan dilakukannya bersama kak Galih. Pria itu benar-benar...
A really kisser man
Entah sudah berapa gadis yang ia cium sebelum dirinya, dasar dokter mesum. Dirabanya bibir yang terasa kebas dan membengkak bak tersengat tawon itu dengan lipstik yang sudah habis tak bersisa.
Aaarrghhhhhh...
Dua tahun ia berpacaran dengan Bayu, tak sekalipun pria itu berani menyentuh nya selain pegangan tangan dan mencubit pipi. Ini baru tiga bulan, tiga bulan??, ia sudah disentuh sedemikian panasnya, kak Galih, you are...
Tapi dia juga yang bodoh, mau- mau saja. Ia sudah seperti serbuk sari yang lepas dari tangkai bunga melayang terbawa arus angin yang kencang, tidak berdaya. Andai saja kak Galih tak berhenti tadi, mungkin ia rela- rela saja dibawa pria itu ke atas ke ranjang. Ya Tuhan Audrey, dasar wanita lemah iman.
"I Will marry you... I promise."
Ucapan kak Galih terus terngiang ditelinga, membuatnya bersemu merah, dan berguling-guling di kasur.
"Yeaahh, I Will wait you, hihihiii." Terkikik sendiri ia dibawah bantal, thanks for your love, hunny.
***
Seperti biasa, sejak memilih berteman dengan Sonia, kedua sahabat itu saling tunggu didepan gerbang untuk masuk ke gedung kampus. Dan seperti biasa juga, gadis itu tersenyum hangat padanya, sehangat cahaya dhuha, saling bergandengan tangan berjalan menuju kelas.
Tapi ada yang aneh pagi ini, entah mengapa ia merasa banyak pasang mata menatap nya, tatapan berbeda dan mencemooh tentunya. Ia mencoba mengabaikan, sampai sebuah suara menyambarnya bak sengatan petir disiang hari.
"Lain ya yang sudah jadi 'Ayam kampus' , pelanggan nya kelas atas lagi."
"Dulu pernah lihat dijemput sama pak polisi, eh kemaren sama dokter spesialis loh ckckkk, berapa dibayar satu malam Drey."
Degg...
Jantungnya serasa ingin melompat keluar dari kungkungan tulang iga, beberapa mahasiswa tampak menyeringai jahat padanya dengan tatapan mengejek. Tapi satu yang paling menyakitkan, Loony ada diantara mereka.
Ia menghela nafas pelan, tak ingin menanggapi semuanya, berdua Sonia ia lebih memilih mendinginkan otak ke Musholla kampus, namun baru saja satu langkah keluar dari pintu kelas.
"Oh, jadi kamu ya Drey pelacur yang dihotel bersama anggota DPR dulu itu, yang tiba-tiba nemu tinggal mayat, iihhh serem hahaaaa." Mereka serentak tertawa membuat tubuhnya hampir limbung kalau saja Sonia tak cepat merangkulnya.
"Ayo, jangan hiraukan." Bisik Sonia.
__ADS_1
Keduanya tetap berjalan kearah musholla, hingga Zizi menghadangnya.
"Kamu juga kan yang menghancurkan hubungan mbak Zia ku, mereka putus gara-gara kamu!"
Ia mengeryit bingung, Zia? siapa lagi itu, ia menggeleng pelan tetap menahan diri tak ingin menanggapi.
"Hei pelacur, kamu yang di apartemen calon kakak ipar ku waktu itu!!"
"Siapa?" Ia mulai terpancing.
"Abang Dimas, aku lihat dia pernah menjemputmu dikampus, Abang Dimas pacar mbak Zia ku, mbak Zia bilang ada wanita dikamar pacarnya, pasti kamu kan, dasar pelacur tak tau diri!!" Zizi mendorong nya keras hingga ia terjungkal.
*Dasar pelacur tak tau diri!!
Hei pelacur*...
Ia menutup telinga, AKU BUKAN PELACUR AAARGGHH!!!
BRUUAKKKK...
"Hentikan Audrey jangaan!!" Sonia berteriak.
Terlambat, ia sudah mendorong tubuh Zizi sekuat tenaga hingga gadis itu terhuyung dan kepalanya mengenai tumpukan bahan bangunan untuk pembangunan musholla, tak elak keningnya berdarah terbentur papan balokan.
PLAKKK!!!"
Loony meringis terkena tamparannya, matanya memerah menahan air mata dan sesak didada, ia hanya diam kehilangan kata-kata.
"Sudah hebat sekali sekarang ya." Loony mendesis.
"Katakan apa salahku?" APA!!"
"Kau..." Mereka saling tatap, ia benar-benar tak habis pikir, ada apa dengan Loony, mereka terus berseteru dalam diam sebelum akhirnya menyadari bahwa Zizi telah pingsan di situ.
"Zizi! Zizi!!!"
Semua jadi panik, tak terkecuali ia, tubuhnya bergetar hebat, jelas ketakutan.
"Ya Tuhan, bagaimana ini, Zizi bangun, maafkan aku, Zizi!!"
__ADS_1
"Cepat bawa ke Rumah Sakit!" angkat, angkat!!"
***
Mereka sudah tiba di Rumah Sakit, beruntung hanya luka gores biasa, cuma sedikit heran ia, lukanya terbilang kecil kenapa sampai membuat Zizi pingsan, mungkinkah pura-pura, ah sudahlah tak ingin banyak berspekulasi, ia duduk di kursi panjang berdua Sonia.
Tak lama, seorang polwan masih berseragam lengkap tergesa berjalan ke arah IGD, dimana Zizi berada. Ia baru menyadari bahwa polwan itu adalah wanita yang ia temui di apartemen kak Dimas dulu. Jadi Zizi adalah adiknya kekasih kak Dimas, tidak-, mantan maksud nya.
Ia tersentak kala sang polwan cantik itu berjalan kearahnya dengan tatapan membunuh.
"Kamu, kamu apakan adik saya?"
"Saya, sa- ya, maaf kan saya, saya tidak sengaja, saya menyesal."
"Tidak sengaja katamu? adik saya terluka, kamu bilang tidak sengaja, lihat saja, kejadian ini akan saya kasus kan sebagai tindakan kekerasan, bersiaplah, kami akan segera menuntut mu!"
Glekk ...
Nafasnya tercekat, nanar ia menatap polwan cantik itu, seketika membuatnya berlutut dan menunduk.
"Maafkan saya, maaf, tolong maafkan saya."
Namun tak sedikitpun membuat wanita itu iba apalagi sampai terpengaruh, membuatnya menangis.
"Sudah Audrey, ayo kita pergi dari sini." Sonia memapah nya keluar dari area Rumah Sakit.
"Bagaimana jika mereka benar melaporkan ku, aku akan dipenjara lagi?" Tolehnya pada Sonia.
"Kamu punya kakak seorang polisi kan, minta tolong ke dia." Sonia memberi saran.
Yah, ada kak Dimas, dia pasti mau membantu ku.
"Aku bisa memberikan kesaksian jika itu diperlukan, tenang Drey, all is well. Berserah lah pada Allah ya. Allah sebaik-baik penolong." Sonia memeluknya erat.
Ia masih menangis, mengapa jadi begini, semua jadi kacau. Baru saja ia bisa bernafas lega sebab beban hidup satu persatu mulai menghilang dan sekarang harus berhubungan dengan proses hukum lagi???
To be Continue...
Happy reading ya
__ADS_1
love u all reader tersayang
terimakasih sudah bersedia membaca karya recehku hhhh...