The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Good bye


__ADS_3

Fatih


Seminggu sudah berlalu, ia dan Rora benar-benar telah pindah kerumah papa lagi. Tidak ada drama saat ia membawa sang istri kembali kerumah, gadis itu menurut. Yah, walau mesti dibujuk dulu dengan kesabaran yang ekstra.


Ia bisa bekerja dengan tenang sebab Rora berada dalam pengawasan orangtua nya dirumah, karena kali ini ia akan pergi lumayan lama, satu bulan. Rora sempat protes saat ia mengatakan itu, tapi harus bagaimana lagi. Resiko berada di flight internasional.


***


Ia sudah sampai dibandara pagi itu, namun karena cuaca buruk di Jakarta, membuat penerbangan di delay.


"Fatih?"


Ia tengah berjalan ke area rest room ketika panggilan itu menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan mendapati Kikan tengah menuju kearahnya.


"Kikan?"


Setelah hampir dua minggu sejak kejadian malam itu, ia tidak menyangka akan bertemu Kikan di saat yang tidak terduga seperti ini. Well, sebenarnya jika bisa meminta, ia tidak ingin bertemu gadis ini lagi dalam hidupnya. Jadi, ketika mendapati Kikan berada satu flight dengannya, di penerbangan dari Jakarta ke Granada, ia merasa ada yang mengganjal.


Setidaknya, ia berhutang maaf pada Kikan, telah berbuat kasar pada Kikan malam itu. dan mungkin inilah kesempatan untuk menyampaikan permintaan maaf itu, agar tak ada beban yang menggantung lagi diantara mereka.


"Ya?"


Kikan diam sejenak, dan ia pun ikut terdiam, tidak tahu harus bicara dan memulai dari mana.


"Sorry untuk semua yang telah aku lakukan padamu dan juga Rora, aku menyesal. Mungkin ini terakhir kalinya kita ketemu, jadi aku cuma ingin bilang, I wish you good luck." Akhirnya Kikan bersuara walau sedikit terbata-bata. Dan ia tahu, gadis ini sudah menahan segala ego yang dimiliki untuk berucap demikian, untuk sampai berdiri dihadapannya seperti ini, dan ia sangat mengapresiasi kebesaran hati Kikan.


Ia tersenyum, " You too, Aku juga minta maaf untuk semua perlakuanku ke kamu, I 'm so sorry."


"Congatrulation..." Kikan mengangguk perlahan. Detik selanjutnya, Kikan memeluknya, hanya pelukan singkat. Tidak ada rasa apa-apa disana. Dan ia bisa menangkap, ini cara Kikan mengucapkan selamat tinggal untuknya.


"Semoga selalu bahagia, sampaikan permintaan maaf ku pada Rora, aku sangat menyesal."


Ia mengangguk. "Thank you. Kamu juga, di manapun kamu berada setelah ini, aku berharap kamu bisa selalu bahagia."


"I will." Kikan berkata mantap." So, this is goodbye?"

__ADS_1


Sekali lagi, ia mengangguk.


Kikan tersenyum lebar. "Bye, Fatih." Ucap gadis itu pelan, sebelum berlalu dari hadapannya. Kikan menepuk pundaknya pelan, bersahabat, sebagai ucapan perpisahan untuk yang terakhir kalinya.


Dan ia bisa bernafas lega sambil menatap punggung Kikan yang berjalan menjauh, tidak ada lagi beban yang mengganjal diantara mereka, semua telah selesai, selamat tinggal Kikan, semoga bahagia, dan kali ini doanya benar-benar tulus.


.


.


.


Kikan


Granada, adalah kota tujuannya. Ia sudah diterima menjadi seorang legal ini house counsel pada sebuah perusahaan start-up yang bergerak di bidang perdagangan retail perhiasan dan sebuah production house. Yap, dua perusahaan sekaligus, walau tak menjadi lawyer lagi di sebuah lawfirm. Namun pekerjaannya disana masih menyangkut tentang hukum, terkait perjanjian, urusan legalitas dan lainnya.


Penerbangan di delay karena cuaca buruk. Dan tepat saat itulah ia melihat laki-laki itu. Sempat berfikir untuk menemui Fatih kemarin-kemarin, sebelum ia memutuskan untuk hijrah ke Granada. Menyelesaikan sesuatu yang pernah ia mulai, tapi ia tidak cukup kuat untuk menemui Fatih. Akhirnya ia putuskan untuk pergi tanpa penyelesaian.


Namun saat melihat Fatih berjalan kearah rest area, entah mendapatkan kekuatan darimana, ia setengah berteriak memanggil Fatih. Yah, ia bertekad untuk menyelesaikan semuanya hingga takkan ada beban lagi baginya untuk melanjutkan hidup di masa mendatang.


"Fatih?"


Dan detik itulah ia memberanikan diri untuk meminta maaf, bersikap ksatria dengan mengakui kesalahannya, ia bersalah pada Fatih dan juga gadis itu, Rora. Terakhir ia memeluk Fatih, pelukan singkat sebelum keberaniannya benar-benar menguap.


"Bye, Fatih." Itulah ucapan terakhirnya untuk pria yang pernah ada dalam hatinya itu, selamat tinggal. Mulai detik ini ia akan mengubur segala kenangan bersama Fatih, ada rasa lega yang ia rasakan. Dan sekarang, ia sudah bisa melangkah maju menantang masa depan tanpa perlu menoleh ke belakang lagi.


.


.


.


Aurora


Ia tengah membantu mama Sonia mengupas bawang saat ponselnya berdering diatas meja makan.

__ADS_1


Byan calling...


Jantungnya mencelos saat melihat panggilan dari pria itu, alih-alih mengangkat, ia malah membiarkan panggilan itu sampai berhenti sendiri. Namun tak lama, ponselnya berdering lagi.


"Kenapa tidak diangkat? siapa tahu penting." Mama Sonia sempat melirik ponselnya yang bergetar. Cepat-cepat ia izin ke mama mertuanya untuk mengangkat telpon dan berjalan masuk kearah kamar.


"Hallo...Apa kabar Ra?"


"Ya hallo, baik Alhamdulillah. Ada apa By?" Ia menutup pintu kamar perlahan sambil menjepit ponsel diantara telinga dan bahu.


"Sorry ganggu Ra, lagi sibuk gak?"


"Enggak, ada apa?"


"Bisa ketemu?" Suara Byan terdengar ragu dibalik telpon.


"Penting ya?" ia sudah mengambil posisi duduk di sofa.


"Ada yang mau aku omongin ke kamu, gak bisa lewat telpon."


Ia mengernyitkan dahi, ragu. Jujur saja, bertemu seorang pria disaat suami sedang tidak ada bukanlah suatu keputusan yang bijak. Ia ingin menolak, tapi tidak enak. Suara Byan terdengar seperti orang yang putus asa, lagi pula pria ini pernah menolongnya waktu di Bogor, mengantarnya sampai ke apartemen Fatih waktu itu.


"Bagaimana?" Suara Byan menyentaknya.


"Hah..iya?"


"Bisa kan Ra?"


Ia terdiam sejenak, "Oke, baiklah. Dimana?"


"Nanti biar aku jemput aja gimana?"


"Jangan..."


Ia tampak berfikir keras sebelum meminta Byan untuk menunggunya di depan minimarket di persimpangan jalan.

__ADS_1


To be Continue


happy reading...


__ADS_2