The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Mimpi


__ADS_3

Sonia


Kau sebut namaku, terpaut hatiku oleh senyum mu.


Sonia


Lembutnya suaramu memanggil namaku dalam mimpiku


Jiwa jadi bergelora, bila sesaat tidak berjumpa.


(Diambil dari lagu berjudul SONIA yang dipopulerkan oleh penyanyi asal Malaysia, Sonia)


*********


Sonia


Ia tengah melipat mukena habis sholat isya ketika amak membuka pintu kamar, amak mengambil posisi duduk di atas ranjang dan diikuti pula olehnya.


"Gimana Son, sudah tiga minggu lebih ini, tak baik menggantung laki-laki yang berniat mengkhitbah terlalu lama."


"Sudah istikharah?" Amak bertanya.


"Sudah mak."


"Sudah dapat petunjuk?"


Ia menggeleng pelan, jujur ia sama sekali belum mendapat apa-apa dari sholatnya.


"Perbanyak amalan lain, perkaya lagi tabungan ruhiyahmu, mungkin itu sebab belum mendapat petunjuk." Ucap amak pelan dan ia hanya mengangguk.


"Kabari amak jika sudah menentukan pilihan ya."


Tak lama amak beranjak keluar kamar, meninggalkan ia sendiri yang masih termenung. Harus memulai dari mana, mari kita coba analisa, hatinya berbisik.


IPTU Dimas Prayoga, SH. Seorang perwira polisi menjabat sebagai Kanit Reskrim Polsek Menteng, berbadan tinggi tegap, tubuh atletis, ganteng luar biasa, kulit putih bersih, jago karate dan taekwondo, apa lagi? oh ya sedikit romantis mengingat sudah berapa kali mengiriminya bunga. Fix, hanya itu yang ia tau. Sholatnya bagaimana? pemahaman agamanya seperti apa? hafalan Qur'an nya seberapa banyak? amalan yawmiyah- nya( amalan ibadah harian)? tidak, ia tidak tau itu semua.


Sementara ustadz Hannan, Muhammad Hannan Al Fatih, Lc. Seorang ASN di Kemenag, berbadan biasa, tidak gendut dan juga tidak kerempeng, manis ada lesung pipi dalam, wajahnya teduh, siapapun yang melihatnya pasti rela dijadikan istri kedua, teman-teman akhwat pengajian menyebutnya mirip Afghan. Jelas pemahaman agamanya bagus, lulusan luar negeri, satu almamater sama ustadz kondang UAS.


jadi? pilih yang mana Son? hatinya yang berwarna putih sok-sok mendikte.


Dengar ya, kalau kamu pilih dunia, pilih si Dimas, udah ganteng, kariernya keren terus badannya Son, widiih kotak kotak pastinya, pelukable banget. Tapi ya itu, di lihat dari caranya deketin kamu sih, kayaknya orangnya masih low pemahaman agamanya, kita kan cari yang bisa ngebimbing kita dunia akhirat, yang bisa jadi imam yang baik untuk keluarga.


Nah, sekarang kita beralih ke ustadz Hannan, walau tak seganteng dan segagah Dimas, ia sangat layak untuk dijadikan imam keluarga, udah Sholeh, amalannya bagus, aktif di dakwah, hapalan Qur'an nya juga mumpuni, kalau kamu pilih akhirat, jawabannya pilih ustadz Hannan.

__ADS_1


Jelas sekali hati yang bewarna putih lebih condong pada ustad Hannan. Dan hei, hatinya yang berwarna pink yang ia yakini itu adalah perasaan rupanya ingin juga menyuarakan pendapat.


Menikah itu adalah ibadah terlama sepanjang hidup, kalau kata ustadz Khalid Basalamah, menikah adalah jalan tol nya menuju syurga, sebab dalam rumah tangga semua terhitung ibadah yang dicatat amal kebaikannya.


Jadi menikahlah dengan orang yang benar-benar kita cintai, yang membuat hati kita nyaman didekatnya, yang membuat jantung kita berdegup kencang kala memandangnya. Nah, pertanyaannya sekarang, dengan siapa jantung mu berdegup kencang?


Oh no... ia manusia paling bodoh dan paling gak peka kalau menyangkut degup jantung, curah jantung, sampai ke gagal jantung...


Oke, kita analisa lebih dalam, yakni cinta. Antara Dimas dan Hannan, mana yang lebih mendominasi hatimu, artinya yang kamu cintai??


Ting tong


Ting tong


Ting tong


Kelamaan mikir lo Son...!!!


Oke, kita bikin ini jadi lebih sederhana, antara Dimas dan Hannan, yang mana yang telpon atau pesannya yang paling kamu tunggu.


Emmmm...


Ayo jujur, kesampingkan logika dan pemikiran yang lain, siapa siapa???


Yaahhh payah, jelas hati yang bewarna pink merasa kecewa.


.


.


.


"Mau kemana sih kak?"


"Ada deh." Kedua telapak tangan kak Dimas menutupi matanya.


Sementara ia terus dibimbing laki-laki itu menuju suatu tempat, angin berhembus cukup kencang menerpa wajahnya.


"TARAAAAA." Kak Dimas melepas telapak tangan dari wajahnya hingga terbukalah mata dan seketika menampakkan pemandangan yang luar biasa indah.


"MasyaAllah, ngarai Sianok!!!" Ia terperangah.


"Kamu suka?"

__ADS_1


"Hmmm."Angguknya antusias.


"Duluu sekali, pernah kesini, waktu pulang kampung ke Sumatera Barat sama abah dan amak, Agil belum ada." Tambahnya.


"Keren kan kak, kampung ku, kayak Grand Canyon National Park Amerika. kalau rumah datuk, tak jauh dari sini, masih di kabupaten Agam juga, kecamatan IV Koto, desa Sianok." Ia menjelaskan pada kak Dimas, yang entah wajah laki-laki itu tampak lebih bercahaya dari biasanya.


"Amazing, hunny." Bisik kak Dimas pelan.


Mereka berjalan saling menggenggam, sesekali melempar pandang dan tersenyum penuh arti.


" Menurut ilmu geologi, lembah Sianok terbentuk karena pergerakan patahan bumi, lembah hasil patahan ini dinamakan patahan semangko yang memanjang dari Aceh hingga teluk semangka di Lampung. Patahan ini juga menghasilkan pegunungan bukit barisan yang kondang." Kak Dimas kembali tersenyum, membuatnya benar-benar bahagia.


"Untukmu dan bayi kita." Lagi, laki-laki itu berbisik lembut ditelinganya yang tertutup hijab.


Kak Dimas tersenyum hangat sembari memeluknya dari belakang, mengelus perutnya yang sudah menonjol, hamil lima bulan.


"Sonia, I love you." Bisiknya pelan.


Dan ia tersenyum bahagia menerima perlakuan manis dari kak Dimas, keduanya memejamkan mata, menikmati angin sepoi-sepoi yang membelai wajah di lembah syurga itu, ingin selalu seperti ini selamanya.


Namun tiba-tiba saja bumi tempat ia dan kak Dimas berpijak, bergetar hebat, semacam gempa dengan kekuatan sepuluh skala Richter. Wajahnya panik berusaha menggenggam erat tangan kokoh kak Dimas.


"Ada apa ini?"


Semua luluh lantak, ia mulai berkeringat, nafasnya memburu kala genggaman mereka hampir terlepas, detik berikutnya, tanah terbelah dua, pohon-pohon disekitar tumbang, genggaman mereka terlepas sudah.


"KAKAAAAAAKK !!!!!?" Ia menjerit histeris kala melihat tubuh kak Dimas terjungkal masuk kedalam patahan tanah yang berguncang.


"Tidaaaak, kakaaaak!!!!!"


Brukkk...


Awwww... Ia meringis kesakitan, terjatuh dari ranjang. Degup jantungnya masih tak beraturan, nafasnya satu satu dengan bulir keringat sebesar jagung mengalir di dahi.


"Astagfirullah...mimpi, ya Allah." ia memegang dadanya yang masih terasa nyeri.


"Astagfirullah."Kembali ia beristighfar dengan air mata hangat yang mengalir di pipinya.


Meraih ponsel ia mencari kontak kak Dimas, namun hanya dipandangnya saja, entahlah, apakah ini pertanda baik atau malah sebaliknya.


To be Continue...


Happy reading semuaaaa....

__ADS_1


__ADS_2