The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Jangan sentuh dia...


__ADS_3

Fatih


Selepas akad di pagi hari, acara langsung berlanjut dengan resepsi umum, kebanyakan teman-teman kantor papa sama teman jaksa nya mbak Ara.


Malamnya acara terakhir Gardening party khusus lajang di taman belakang. Ia sudah siap mengenakan setelan jas hitam ingin menjemput Kikan, gadis ayu asal Jogjakarta yang sudah dua tahun ini ia pacari.


"Sudah siap sayang?" Dilihatnya Kikan sudah berdiri diteras rumah, mengenakan gaun dengan bagian dada rendah yang mengekspose seluruh bahu mulus milik gadis itu.


Penampilan seperti inilah yang sejatinya paling tidak disukai mama. Ia sudah berapa kali menyarankan Kikan untuk jangan berpenampilan terlalu terbuka tapi ucapannya seperti angin lalu bagi Kikan.


Mereka langsung menuju rumah kembali dimana party akan diberlangsungkan. Tepat saat mobil akan memasuki pekarangan. Dilihatnya Rora bersama Abi, entah apa yang keduanya bicarakan sampai Rora tertawa lebar seperti itu. Sudah sangat lama ia tak pernah melihat mata Rora berbinar tertawa bahagia.


Tawa Rora seketika terhenti saat ia dan Kikan mendekat, "Hai.. Kikan, nice to meet you." Abi menyalami Kikan dan disambut senyum sumringah gadis itu.


"Oh iya kenalin ini Rora, Aurora.." Dapat ia lihat Abi merangkul bahu Rora santai, dan tampaknya Rora tidak keberatan sama sekali. Entah mengapa sebagian hatinya langsung awas siaga satu melihat interaksi yang dilakukan Abi pada Rora.


Pesta berlangsung meriah, namun pandangannya selalu waspada mengawasi Abi dan Rora. Bukan apa-apa, ia sangat tau track record seorang Abi seperti apa.


Pria itu tak pernah bermain dengan hati, Abi hanya tau main badan tanpa memperdulikan perasaan wanita- wanita yang sudah ditidurinya. Abi takkan pernah memberikan hal lebih selain permainan singkat ditempat tidur. Tak ada istilah komitmen dalam hidup pria itu. Lima tahun berteman dengan Abi, sudah jelas ia tau sosok Abi seperti apa, dia pria bebas yang tak ingin terikat.


Dan sekarang, pria itu dekat dengan Rora. Yang lain mungkin ia takkan peduli, tapi kalau Rora. Jangan harap Bi...


Jam tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas lebih tiga puluh menit, Kikan sudah merengek minta pulang padanya sedari tadi.


"Tunggu disini sebentar." Tolehnya pada Kikan sekilas lalu berjalan mendekati Rora yang masih betah mencicipi makanan di depan meja prasmanan, di ujung taman.


"Sudah mau pulang belum..."


Rora menoleh ke kiri dan kanan, "Kamu ngomong sama aku?" Ucap gadis itu kaget.


Ia harus memijit pangkal hidungnya, tingkah gadis ini yang sejak kedatangan selalu bersikap apatis padanya, membuatnya jengah. Sudah jelas hanya ada mereka berdua disana, jadi ia bicara ke siapa, ke kuntil anak?!


"Aku antar pulang, sudah malam."

__ADS_1


"Aku pulang bareng Abi." Rora kembali mengisi piring kue dengan cake di meja.


Ia sempat melirik punggung Abi dikejauhan sebelum maju satu langkah mendekati Rora, "Jangan terlalu dekat dengan Abi."


Ucapannya yang ambigu, sukses membuat kening gadis itu berlipat, Rora terkekeh, "Apa urusannya denganmu? aku mau dekat dengan siapa saja, terserah aku."


"Ya, memang terserah kamu. Tapi kali ini tolong dengarkan aku, aku berteman dengan Abi sudah lama, aku tau dia seperti apa."


"Kau menjelekkan teman sendiri, ckkkk." Kali ini Rora sudah meletakkan piring kuenya di atas meja.


"Pacarmu sudah menyusul tuh, urusi urusanmu sendiri.?!" Tunjuk Rora dengan dagunya pada siluet Kikan yang mendekat ke mereka.


"Sayang..ayo!" Kikan mendekat dan melempar senyum kilat pada Rora.


"Ayo ikut...Aku antar Kikan dulu baru antar kamu." Ia kembali menatap Rora.


Tapi gadis itu menggeleng pelan, "Pergilah, Kikan sudah mau pulang. Aku sama Abi.."


"Hei..."Abi menyambutnya dengan senyum saat posisinya sudah dekat dengan pria itu.


"Rora ingin pulang sama kamu, tolong antar dia selamat sampai ke rumah."


"Tentu.."


Ia menghembuskan nafas dalam, "Jangan berani menyentuhnya, seujung rambut pun. Aku akan membunuhmu kalau sampai itu terjadi."


"Hahaaa....Fatih Fatih...kamu terlalu berlebihan, we just friend... Hanya berteman, you know." Abi menepuk pelan bahunya yang menegang.


"Aku sangat tau cara memperlakukan sepupumu." Abi mengangguk pelan meyakinkan, namun tetap saja ia tidak bisa mempercayai pria ini.


.


.

__ADS_1


.


Aurora


"Sepupumu perhatian sekali?" Suara Kikan sukses memecah fokusnya yang sedang menatap interaksi Fatih dan Abi di kejauhan.


Ia menoleh pada gadis itu sesaat. Kikan manis, punya lesung pipi dalam di kedua pipinya, kulitnya bersih dan yeah cantik. Wajar Fatih memacari gadis ini.


Sepupu?! Bulsyitt... Fatih memperkenalkanya sebagai sepupu ke semua orang...


Mood nya tiba- tiba terjun bebas melihat Kikan yang cantik, ia mengambil minum dan meneguknya sekaligus. Cemburu? apa ini bisa dikatakan cemburu, ayolah Rora...berdamailah dengan masa lalu, Fatih hanya menganggapmu sebagai sepupu, tidak lebih.


"Sudah mau pulang neng?" Abi mendekatinya setelah Kikan dan Fatih menjauh.


Ia mengangguk pelan. " Ayo pulang."


Ia hanya diam sepanjang perjalanan, sampai mobil yang dikemudikan Abi berhenti di depan rumahnya.


"Aku pulang besok, mau ikut?" Suara Abi memecah keheningan.


Ia mengangkat wajah dan menatap Abi. Bola mata pria itu cokelat yang terlihat bercahaya, memancarkan rasa hangat. "Cutiku masih tiga hari lagi."


"Kalau mau ikut, kamu bisa duduk di kokpit bersamaku." Abi mengulum senyum.


Ada raut keraguan yang ia lontarkan pada Abi, pria itu tersenyum.


"I can't promise you anything but I'm sure you are in good hands." Ujar Abi, setengah tertawa dan mengedipkan sebelah matanya.


To be Continue...


Happy reading


Jaga kesehatan semuaaaaa....

__ADS_1


__ADS_2