
Aurora
Selepas makan malam dan mengobrol sebentar dengan mama Sonia. Ia kembali ke kamar, lebih dulu meninggalkan Fatih yang masih berbincang serius dengan papa Dimas di teras samping.
Tepat saat ia baru saja berbaring dan mencoba memejamkan mata. Ponsel Fatih bergetar diatas nakas. Ragu ia mendekati ponsel tersebut, sebuah panggilan masuk dengan nama kontak Kikan.
"Kikan?"
Alih-alih mengangkat telpon atau keluar sekedar memberitahu Fatih bahwa ada telpon, ia malah memilih mengabaikan panggilan tersebut dengan berpura-pura tidur.
Kikan? Entah mengapa ia jadi merasa sangat berdosa pada gadis itu. Ia telah merebut Fatih dari Kikan, ia menikahi Fatih disaat Fatih masih terikat hubungan dengan gadis lain.
Fatih memang tidak pernah menyinggung sedikitpun tentang hubungan percintaannya dengan Kikan. Laki-laki itu tertutup, terakhir ia melihat kebersamaan Fatih dan Kikan saat acara nikahan mbak Ara.
Fatih juga jarang sesumbar kemesraan di media sosial. Dan ia baru menyadari bahwa Fatih tidak pernah memposting foto kebersamaan dengan Kikan, setidaknya dalam empat bulan terakhir. Sebab satu-satunya foto kebersamaan mereka yang tak sengaja ia lihat di wa story pria itu dulu, ya pas party nya mbak Ara.
Ia harus bagaimana? Ia terjebak dalam pernikahan semu yang dibuat hanya untuk menyelamatkan harga dirinya. Sementara Fatih sudah berkorban banyak untuk ini. Fatih sudah di cap sebagai anak yang tidak baik di mata kedua orangtua pria itu, harus merelakan wajah menjadi babak belur dihajar papa Dimas dan sekarang mesti kehilangan kekasih, semua demi dia. Seseorang yang bahkan sama sekali tak berharga.
Tidak bisa, ia tidak bisa egois seperti ini. Akhirnya dengan menguatkan hati, diraihnya ponsel Fatih yang masih bergetar karena panggilan. Ia ingin memberitahu Fatih bahwa ada telpon dari Kikan. Tepat saat ia ingin membuka pintu kamar, Fatih muncul lebih dulu membuka pintu.
"Hei... belum tidur?"
Ia menggeleng, "Ada telpon dari Kikan, tadinya mau kasih tau ke kamu." Serahkan nya ponsel yang ia pegang ke tangan besar milik Fatih dengan wajah dibuat setenang mungkin.
Wajah Fatih pias, dapat ia lihat Fatih menutup pintu dan keluar. Ia tahu, pria itu butuh privasi untuk bicara dengan kekasihnya bukan.
Namun tak lama, Fatih masuk lagi, ia sengaja berbaring dengan tubuh menghadap ke dinding. Ia tahu saat ini pria itu tengah berganti pakaian, terdengar dari bunyi resleting yang di tarik.
Kemudian ia merasakan ada sebuah tangan hangat yang menyentuh bahunya.
"Ra, aku pergi sebentar ya. Mau titip apa? nanti pas pulang aku beliin."
Ia berbalik dan bersikap seolah tak ada pertentangan apa-apa di dadanya saat ini." Titip martabak."Ucapnya sambil mencoba tersenyum.
Fatih mengangguk singkat, "Istirahatlah, nanti aku bangunin kalau udah balik." Pria itu mencium keningnya. Adegan ini tidak perlu terjadi, seharusnya tidak ada istilah cium kening untuk hubungan aneh seperti mereka.
__ADS_1
.
.
.
Kikan
Empat bulan???
Biasanya tak pernah selama ini. Fatih sudah kelewatan. Hubungan mereka memang sudah biasa putus nyambung. Dan setiap kali putus, paling lama satu atau tidak sampai dua bulan untuk mereka bisa kembali bersama.
Fatih kebanyakan yang lebih dulu memulai, walau tak menampik, ia pun juga pernah memulai lebih dulu.
Tapi sekarang sudah masuk empat bulan terhitung sejak mereka bertengkar hebat sebab Fatih yang belum kunjung mau melamarnya saat itu.
What's wrong Fatih?
Dan sekarang mereka duduk bersama lagi di satu meja yang sama, saling berseberangan dengan dipisahkan oleh sebuah meja saji.
"Kita udah putus Kikan, gak ada apa-apa lagi diantara kita." Suara Fatih yang terdengar tajam dan menusuk sukses membuatnya terperangah.
"Jangan kayak anak kecil Fatih. Cuma karena masalah aku ngotot ngajakin kamu nikah, terus kamu benar-benar mau mutusin hubungan, come on, kamu kan sudah tau aku seperti apa."
"Look at us, Kikan. Apa masih ada yang bisa dipertahankan dari hubungan kita? Kita sudah berapa kali mencoba dengan kesempatan kedua, kita selalu sama-sama setuju untuk memulai dari awal, tapi hasilnya? selalu sama. Yang ada hubungan ini malah makin memburuk."
Ia meraih tangan Fatih, tapi pria itu langsung menepisnya. " Oke, aku minta maaf karena selalu egois. Aku janji akan kayak dulu lagi, kita bisa kembali seperti dulu lagi. Ingat enggak julukan buat kita apa? We're made for each other."
"It was..." Fatih mendengus.
"Kita bisa memperbaikinya, kita mulai dari awal ya."
Fatih menggeleng, "Sorry, I' m so sorry. Aku udah nikah sama orang lain Kikan."
"What?"
__ADS_1
"Aku udah nikah, aku udah jadi suami seseorang. Dan saat ini istriku sedang menanti kepulangan ku. Maafkan aku Kikan, kita gak bisa seperti dulu. Carilah pria yang lebih baik dari diriku, akan ada banyak nanti yang bisa kamu pilih, yang bisa mencintaimu dengan sepenuh hati. Hubungan kita sudah berakhir empat bulan lalu dan tidak ada yang perlu diperbaiki dari itu."
"You hurt me, Fatih."
"Sorry..." Fatih berdiri dan kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan nya yang masih tergugu sendirian disana.
.
.
.
Fatih
Hubungan mereka sudah lama berakhir. Dan ia memang tidak berniat untuk memperbaikinya ataupun memulai dari awal.
Lagipula, ia tidak mau berpura-pura lagi. Sudah lama ia berhubungan dengan Kikan tanpa rasa, bahkan tubuhnya seakan tidak mengenali dirinya lagi. Ia tidak bisa berpura-pura berhubungan dengan orang yang tidak memiliki hatinya lagi.
Sudah cukup selama ini ia memberikan kesempatan untuk hubungan nya bersama Kikan, tapi hasilnya nihil.
Sudah banyak tanda yang membuatnya harus mengakhiri hubungan mereka. Sebelum ia menyakiti dirinya lebih jauh. Sejak awal ia sudah salah. Bukan Kikan yang ia cintai, melainkan Aurora.
Selama ini ia telah menyangkal perasaan itu, berdalih bahwa Rora hanyalah seorang saudara, tapi hatinya tak bisa berbohong lebih dalam lagi. Ia tidak bisa. Sebab penyangkalannya yang tak beralasan itulah, Rora jadi jauh darinya dan berakhir dengan insiden yang tak kan pernah bisa ia maafkan sepanjang usianya.
Seandainya dulu ia terbuka dengan perasaannya sendiri, tentu Rora akan selalu berada dibawah perlindungannya sebagai kekasih dan kejadian itu takkan pernah ada. Tapi sekarang, ia takkan bisa memaafkan dirinya sampai kapanpun juga.
To be Continue
Happy reading
sehat semuaaa ya
semoga dilancarkan rezekinya hari ini
disehatkan badan dan pikiran untuk readers tersayang semuaaa😘😘😘😘😘😘
__ADS_1