
Galih
Ia memandangi wajah sayunya di depan kaca wastafel, cukup lama. Tidak, tidak bisa seperti ini, benaknya, sambil menggelengkan kepala. Ia yang lebih dewasa seharusnya bisa mengerti Audrey, gadis itu hanya seorang wanita yang baru mengalami fase remaja akhir, dimana istilah 'Aku lah segala-galanya' masih tertanam dijiwa. Dan ia tidak boleh terbawa suasana, ia yang lebih matang seharusnya bisa mengimbangi ego sang istri.
Akhirnya pagi itu, setelah membersihkan diri dan berganti pakaian,ia memutuskan untuk pulang melihat kondisi Audrey, sudah 24 jam ia meninggalkan gadis itu tanpa kabar.
Suasana rumah sepi ketika ia masuk, ada makanan yang mungkin dipesan Audrey secara online tergeletak di atas meja, sudah basi, dan gelas kaca berisi air yang tinggal setengah. Ia membereskan semuanya, dan meletakkan gelas sisa ke dapur sebelum beranjak melihat Audrey ke kamar.
"Audrey?" Dilihatnya ranjang kosong ketika ia memasuki kamar mereka, hanya ada selimut dan bantal yang berserak tak beraturan.
"AUDREY!!!" Sayang!!" Netranya langsung menangkap seonggok daging bernyawa yang meringkuk tepat di depan pintu kamar mandi.
Audrey tampak sangat pucat dengan mata terpejam, tubuhnya dingin tak berdaya. Cepat-cepat ia menggendong sang istri, membaringkan nya ke atas ranjang.
Panik, jelas sekali. Dia sebagai dokter yang hampir tak pernah gelagapan menghadapi berbagai kasus pasien dan segala sesuatunya, entah mengapa ketika sang istri seperti ini, ia malah tak bisa berfikir apa-apa. Segera ia meraih ponsel dan menekan nomor IGD klinik di bawah.
"Bawa tabung oksigen yang kecil ke Rooftop sekarang, CEPAT!!!"
"Sama flowmeter nya juga gak dok?"
"Satu set!! gitu aja masih nanya ke saya!!" Bentaknya pada petugas IGD yang piket.
Ia kemudian beralih memeriksa kondisi Audrey, meletakkan stetoskop di dada dan bagian perut sang istri, mengecek tekanan darah serta nadi gadis itu.
Dengan gerakan cepat, ia mengambil kolf infus, abocate, dan infus set dari lemari. Meraih lengan sang istri, berusaha mencari pembuluh darah gadis itu untuk memasangkan infus.
Tak lama dua orang perawat dari klinik tiba dengan membawa set oksigen, ia sendiri yang mengambil dan memasang humadifier pada flow meter tabung oksigen, menyambungkan ke nasal kanul, mengatur pengeluaran oksigenasi dan memasangnya pada hidung Audrey.
Ia menulis resep obat injeksi pada secarik kertas dan menyerahkannya pada dua perawat yang masih setia mematung di sisi ranjang.
"Tolong resepkan ini ke apotik di bawah, langsung bawa kesini kalau sudah."
"Siap dok."
"Eh bentar, yang ini bawa ke laboratorium, minta petugas disana cepat, saya tunggu!" Ia menyerahkan sampel darah Audrey yang sudah diambilnya tadi di dalam spuit.
"Siap dok."
Selepas dua perawat itu pergi, ia beralih duduk disisi Audrey, kembali memegang pergelangan tangan sang istri pelan. Perlahan mata Audrey terbuka.
"Sayang." Cepat-cepat ia menyentuh pipi gadis itu, Audrey menangis.
"Kakak..."
"Iya, kakak disini." Ia kembali merengkuh tubuh kecil Audrey ke dalam pelukannya.
"Jangan pergi lagi, kepalaku pusing, aku mual."
"Iya, tidak. Kakak tidak pergi, kakak tetap disini."
Maafkan kakak...
.
.
.
Audrey
Entah berapa lama ia jatuh terjerembab masih di depan pintu kamar mandi matanya terpejam menahan pusing berputar-putar tak terkira dengan perut rasanya seperti diremas. Tenggorokannya pedih, ia menangis dalam diam, dan terpejam tak sadarkan diri.
__ADS_1
Ketika ia membuka mata, wajah tampan sang suami memenuhi lensa matanya.
"Kakak .." Ia tak kuasa menahan tangis, air matanya tumpah, ia pikir laki-laki ini tidak akan kembali, seperti dulu sampai hilang berhari-hari.
Kak Galih mendekapnya erat, mengaliri perasaan hangat yang tak terkira.
Apakah hamil semenyiksa ini? dulu tetangga kos nya pernah hamil diluar nikah, gak ketahuan sampai usia kehamilan lima bulan. Biasa saja, masih bisa wara-wiri dan kuliah seperti tak ada bayi yang dikandung, nyaris tanpa beban. Karena perutnya yang membuncit yang tak bisa disembunyikan dan ditutup- tutupi lagi itulah, baru ketahuan kalau tengah berbadan dua.
Sedang ia, mengapa sengsara sekali, badannya lemas sampai tak mampu mengangkat tangan, ingin mati saja rasanya. Ia kembali mual hebat, tubuhnya sampai bergetar, namun lagi-lagi hanya mengeluarkan cairan asam lambung yang sangat pedih di kerongkongan, peluhnya mengalir sebesar butir jagung di dahi.
" Ya Tuhan, aku tidak sanggup, kenapa seperti ini...hoeekk...hoeekkk...!!!"
Kak Galih menyuntikkan beberapa obat yang ia tau sebagai anti mual dan juga vitamin kedalam selang infusnya, mempercepat tetesan infus. Kemudian dengan telaten membersihkan dahinya dari peluh dengan tissue.
"Maafkan kakak." Pria itu berujar lirih.
"Maafkan karena kamu harus mengalami ini semua." Kak Galih meremas jari-jari tangannya lembut. Dan ia hanya diam membisu menerima perlakuan laki-laki itu. Entahlah, ia sungguh tak ada tenaga lagi bahkan untuk sekedar berfikir.
Kak Galih beranjak dari duduknya, membereskan kamar yang berantakan dan membawa pakaian kotor ke mesin cuci, sedang ia hanya menonton aktivitas laki-laki itu lewat ekor matanya dengan netra yang mulai mengantuk, tak kelang berapa lama matanya pun tertutup, mungkin efek obat yang mulai bekerja.
.
.
.
Sonia
Sudah berapa kali ia menghubungi nomor Audrey pagi itu, namun tak juga aktif, hanya suara operator seluler yang menyaut, apa Audrey masih sakit...
Berhubung tak ada mata kuliah , ia memutuskan melihat kondisi Audrey di Rooftop. Baru saja keluar dari gerbang kampus, ponselnya berdering, nomor kak Dimas memanggil.
"Waalaikumsalam, iya kak?"
"Lagi dimana?"
"Lagi dikampus, tapi masih kosong mata kuliah, ini mau jenguk Audrey sebentar."
"Audrey kenapa?"
"Belum tau, kemarin bilangnya gak enak badan, hari ini masih belum masuk kuliah."
"Ohh ya udah hati-hati."
"Iya." Baru saja ingin memutus sambungan telpon.
"Son..." Suara kak Dimas.
"Iya??"
"Kapan kesini lagi?"
Ia terdiam sejenak, baru saja kemarin ia menjenguk kak Dimas ke Rumah Sakit, bahkan bersama Ara menemani laki-laki itu therapy sampai selesai, eh udah ditanya kapan kesana lagi. Bukannya apa-apa, ia hanya tidak enak jika harus sering bertemu sedang mereka belum terikat.
"Kok diam."
"Oh, eh..."
"Tadi dokter bilang lusa kakak sudah bisa pulang."
"Oh ya, Alhamdulillah, lusa aja aku kesana kalau begitu ya."
__ADS_1
"Oke, baiklah."
"Hmm." Sambungan terputus.
***
Lima belas menit kemudian, ia sudah tiba di klinik kak Galih, dengan langkah cepat, ia langsung menaiki undakan tangga menuju Rooftop. Tampak sepi, pintu depan tertutup. Baru saja ia ingin mengetuk pintu, kak Galih keluar dengan mengenakan kaos rumahan dan celana pendek.
"Eh Sonia."
"Loh kakak gak kerja?"
"Izin dulu, Audrey lagi sakit, ayo masuk."
"Sakit apa?" Ia memasuki rumah mengikuti kak Galih.
"HEG."
"MasyaAllah, selamat kak, udah berapa minggu?"
"Belum di USG sih, perkiraan mungkin sekitar enam mingguan."
Keduanya memasuki kamar, Audrey sudah terbangun, senyum gadis itu langsung terkembang ketika melihatnya ada disana.
"Uniiii..."
"Wahh wahh selamat bumil, eleuh eleuhh Barokallah Drey."
Dapat ia lihat ada raut ketidaksukaan Audrey terlintas, dengan wajah ditekuk gadis itu mengalihkan pandangan.
"Kakak tinggal dulu ya." Kak Galih keluar diikuti anggukan kecil olehnya.
"Kenapa?" Ia mengelus punggung tangan Audrey pelan.
"Aku belum mau hamil hiks hiks hiks." Tiba-tiba saja tangisan gadis itu pecah.
"Astagfirullah, gak boleh gitu Drey, ini rezeki, banyak pasangan yang pengen hamil tapi belum dikasih, nah kamu dikasih cepat sama Allah, Alhamdulillah dong seharusnya."
"Skripsiku masih mutar-mutar di BAB I, kuliah juga belum beres, masih nyangkut beberapa mata kuliah lagi, aku mau wisuda tepat waktu, eh malah hamil."
"Masih bisa kok, kamu ambil SP( Semester Pendek) aja nanti kalau udah gak HEG lagi, skripsi kan bisa dikerjakan dirumah, jangan terlalu difikirkan." Tepuk-tepuk nya punggung Audrey pelan.
"Kalau ketauan hamil gimana?"
"Gimana apanya, kamu hamil kan punya suami. Kita udah di semester akhir, gak ada jadwal magang lagi, tinggal ngurusin skripsi, pasti ada dispensasi dari pihak kampus."
Tak lama, kak Galih masuk membawa minuman kaleng untuknya.
"Skripsi biar kakak yang ngerjain nanti." Kak Galih ikut duduk di ujung ranjang.
"Nah tuh, punya suami dokter SpOG kok gak dimanfaatin, gampang lah sekedar skripsi doang. Gak usah terlalu dijadikan beban, mata kuliah juga gak banyak lagi, yang penting sehat dulu, banyak makan biar dedek bayi nya kuat, all everythings gonna be okay."
Dapat ia lihat mulut Audrey mengerucut , lucu sekali, menggemaskan, Audrey sudah ia anggap bukan seperti sahabat, melainkan adik sendiri. Tingkahnya yang masih kekanakan, bagaimana bisa sebentar lagi gadis itu mau jadi seorang ibu.
To be Continue...
Happy reading yaaa
Ket:
HEG: Hiperemesis Gravidarum: Gejala mual muntah hebat yang terjadi pada ibu hamil di trimester pertama kehamilan.
__ADS_1