The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Hancur 2


__ADS_3

Aurora


"Halo pa?"


"Datang ke praktek papa sekarang, papa tunggu!"


Sambungan terputus, suara papa terdengar berat dan putus asa. Yah, sejak tahu ia hamil diluar nikah, papa memang kecewa padanya, mereka tidak sedekat dulu, dan ia pun tahu diri, papa terlalu menggantungkan harapan yang begitu tinggi padanya, menggadang-gadang dirinya yang kelak bisa memimpin Rumah Sakit papa. Tapi buktinya, ia tak lebih dari seorang pecundang, She's a loser, pathetic loser.


Ia sempat menghirup udara banyak-banyak sebelum akhirnya memilih tertawa dengan wajah penuh luka, rasanya begitu sesak. Ia ingin mempertahankan sedikit saja sisa harga dirinya, namun ia bahkan tidak tahu masih adakah yang tersisa.


Sendiri.


Ia berjalan menembus hujan, memaksakan diri untuk menantang derasnya air yang turun dari langit, sekadar menguatkan hatinya untuk menantang masa depannya saat ini.


Ia tidak mungkin menemui papa dalam kondisi basah kuyup seperti ini, maka ia memutuskan untuk pulang ke rumah, mengganti pakaian. Mama Sonia yang begitu panik melihat kondisinya langsung cepat-cepat mengambil handuk, dan mengurusinya yang begitu rapuh.


"Ya Allah, Roraa. Kamu dari mana sayang? lagi hamil tidak baik hujan-hujanan, nanti demam. Cepat ganti baju, mama buatkan teh hangat." Dan ia ingin menangis lagi rasanya, ia tidak pantas diperlakukan sebaik ini. Mama Sonia pasti kecewa jika tahu yang dikandungnya bukan anak Fatih.


Hujan telah berhenti dan ia sudah bersiap pergi ke tempat praktek papa. Dari nada bicara papa ditelpon tadi, jelas papa dalam kondisi mood yang tidak baik, entah apa itu. Sebenarnya tubuh dan hatinya sudah sangat lelah, tapi ia tidak sempat memiliki waktu sekedar untuk mengasihani diri, ada papa yang sedang menunggunya.


Papa melepas kacamata saat ia masuk ke ruangan papa. Papa memerintahkan asisten dan perawat disana untuk keluar, membuatnya bertambah gugup setengah mati. Berada dalam satu ruangan dengan papa dalam kondisi yang sangat mencekam seperti ini, sungguh tak pernah sekalipun terlintas dalam bayangannya.


Papa menyodorkan sebuah foto USG ke hadapannya, masih dalam diam. Ragu ia meraih foto tersebut pelan, namun detik berikutnya, dunia rasanya terbelah dua. Lututnya lemas tak mampu menahan bobot tubuhnya lagi, hingga ia harus berpegang erat pada ujung meja agar tak terjatuh.


Ia tidak tahu dari mana papa bisa mendapatkan foto itu, tapi ia masih ingat betul itu adalah foto yang sama yang diselipkan Abi dulu ke dalam notebook pria itu.


Ia seolah lupa bagaimana caranya bernafas, nafasnya tercekat di tenggorokan. Sementara papa masih diam, raut wajah papa menyiratkan betapa beliau sangat terluka.


Detik itu juga, ia langsung berlutut sambil menunduk, "Maafkan Rora pa, maafkan Rora...." Air mata tak henti keluar dan mengalir begitu saja, sesekali ia mengusapnya dengan punggung tangan, tapi tetap saja air matanya terus mengalir bak keran yang sudah rusak hingga tak bisa dihentikan.


"Salah satu keluarga dari janin yang ada dalam perutmu datang menemui papa."


Suara papa terdengar dingin dan menusuk, membuat tubuhnya bergetar.


"Papa kira itu benar anaknya Fatih, kamu dan Fatih.... Oke papa bisa terima. Tapi ternyata Fatih hanya tameng untuk menutupi tingkahmu selama ini, papa tidak percaya."


"Sejak awal ini yang papa takutkan ketika kamu lebih memilih kuliah diluar, lima tahun tidak pernah berusaha untuk pulang, ternyata ini?!"


"Papa bahkan tidak tahu harus mengatakan apa padamu Rora! kamu menjadikan Fatih tumbal untuk menutupi kesalahan yang kamu buat,kamu benar-benar keterlaluan. Papa malu sama kamu!"

__ADS_1


"Ini kan yang kamu mau? hidup bebas..?! papa benar-benar kecewa sama kamu!" Ia sampai tersentak saat papa meninju meja kerja dihadapannya. Papa tidak pernah semarah ini. Tidak...


Yang ia tahu, papa adalah sosok laki-laki yang hangat, yang selalu tersenyum untuknya, memberinya cinta sebesar dunia, menuruti semua kemauannya. Dan papa yang sekarang berada dihadapannya sungguh berbeda.


"Pergilah, jangan tampakkan wajahmu dihadapan papa lagi!"


"Papa..." Ia mendongak dan menggeleng pelan.


"Keluar!"


"Papa...hiks hiks.... Maafkan Rora pa...."


"Keluar...?!"


Ia memejamkan mata, dadanya terasa sesak dengan air mata bercampur ingus yang sudah tidak tahu lagi. Ia telah membuat hati papa terluka parah, ia anak celaka, benar-benar celaka.


Dulu sekali padahal ia pernah berjanji pada papa dan pada dirinya sendiri, untuk menjadi anak yang bisa membanggakan papa, selalu menjadi yang terbaik, seorang dokter muda dengan lulusan luar negeri, predikat cumlaude, tapi ternyata, ia sama sekali tidak bisa membuktikan apa-apa pada papa.


Pelan ia berusaha untuk berdiri dengan sisa-sisa kekuatan yang masih ada. Sempat melirik sebentar pada papa yang masih tak ingin melihatnya sama sekali.


Maafkan Rora pa...


Maafkan...


Kau peluk dan kau manja


Indahnya saat itu


Buatku melambung di sisimu


Terngiang hangat nafas segar


Harum tubuhmu


Kau tuturkan segala


Mimpi-mimpi serta harapanmu...


Kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu

__ADS_1


Patuhi perintahmu, jauhkan godaan


Yang mungkin kulakukan


Dalam waktuku beranjak dewasa


Jangan sampai membuatku terbelenggu


Jatuh dan terinjak


(Ada band - Yang terbaik bagimu)


Tuhan, tolonglah


Sampaikan sejuta sayangku untuknya


Ku trus berjanji


Takkan khianati pintanya


Ayah, dengarlah


Betapa sesungguhnya ku mencintaimu


Kan ku buktikan


Kumampu penuhi maumu.


(Ada band- Yang terbaik bagimu)


Ia berjalan tanpa arah, tanpa memperdulikan keselilingnya, sambil menghela nafas panjang. Disaat-saat seperti ini, ingin sekali ada yang memeluknya, ia rindu mama...


She doesn't have any purpose in life. She just go where her foot bring her until She found some place to stay. She doesn't know for how long, even it's only for one day or for good, She doesn't know.


She feel lost. Ia tidak tahu tujuan hidupnya saat ini, dan satu-satunya yang ia tahu hanyalah pergi, tanpa arah, sambil berharap ada keberuntungan untuknya sehingga ia tahu, apa yang harus ia lakukan setelah ini.


To be continue


happy reading....

__ADS_1


Sumpah pas nulis part ini, aku hampir nangis, teringat sama bapak aku sendiri 😭😭😭


Ayah, papa, bapak, Daddy, semua panggilan yang mengarah pada satu laki-laki, sosok cinta pertama untuk setiap anak perempuan nya.


__ADS_2