The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
So poor You Dimas, dia ustadz!!


__ADS_3

Dimas


Jakarta - Polisi menangkap pelaku pembunuhan terhadap seorang wanita berinisial IWA yang jasadnya ditemukan tanpa busana di sebuah kamar hotel di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.


"Alhamdulillah pelakunya sudah kami amankan, gabungan Reskrim Polsek Menteng dan Unit Resmob Polres (Jakarta) Pusat," Ucap Dimas selaku Kanit Reskrim Polsek Metro Menteng pada awak media, Sabtu siang itu.


"Pelaku merupakan AA (24). Ia ditangkap tanpa perlawanan di kawasan Jakarta Timur tak lama setelah kasus pembunuhan ini terjadi. AA diciduk di sebuah rumah. Sebelum ditangkap ia sempat mencoba kabur. Saat ini AA sudah berada di ruang tahanan di Unit Resmob Sat Reskrim Polres Jakarta Pusat."


"Apa motif pembunuhan yang dilakukan tersangka pak?" Suara wartawan.


"Masih dilakukan pemeriksaan, mbak." Ucap Dimas sambil mengangguk berlalu dari lokasi.


Tubuhnya benar-benar gerah, sudah hampir seminggu ini, ia bahkan tidak pulang ke apartemen, kasus penemuan mayat wanita dihotel benar-benar menyita waktunya, ditambah dengan pengejaran tersangka yang menguras tenaga, beruntung kali ini mereka membentuk tim gabungan bersama unit Resmob polres.


Belum lagi kasus penjambretan yang sedang marak terjadi pada pesepeda dan pengendara roda dua, membuat pekerjaannya bertumpuk- tumpuk, mereka bahkan telah membentuk tim khusus untuk menangani ulah penjambret di berbagai titik lokasi.


Ia bahkan menunda niatan baiknya untuk menemui amak Sonia yang telah ia tekadkan selepas acara akad Galih dan Audrey beberapa hari lalu. Yah, setelah terinspirasi dari gaya frontal Galih yang langsung meminta Audrey lewat sang ibu, mengapa ia tidak mencoba melamar Sonia lewat amaknya.


Ponselnya mati sudah dua hari pun ia tak menyadari. Dengan gerakan sembarang ia meraih kunci mobil yang tergeletak diatas meja kerjanya.


"Kemana bang?" Elan meliriknya sekilas.


"Pulang."


"Mau ngelon bininya dirumah." Suara Azar tertawa mengejek, yang langsung dilempar bungkus rokok olehnya.


Menguap berkali-kali, ia memelankan laju kemudinya, dan entah mengapa terhenti di sebuah kios bunga.


"Mau ngelon bininya dirumah." Suara Azar masih terngiang tapi yang muncul malah wajah Sonia yang tengah tersenyum, Shhiit, dia mulai tidak waras.


Ia turun dari mobil dan masuk ke kios bunga.


"Cari bunga pak?"


"Saya cari mawar merah." Ucapnya ramah.


"Yang tangkai, buket atau yang hidup?"


"Yang hidup sama pot-pot nya mas."

__ADS_1


"Tolong kirimkan ke alamat ini ya, eh tunggu, pinjam pena sama kartu ucapannya ada?"


Sang pegawai kios menyerahkan kartu bewarna pink dan sebuah pena bertinta hijau.


To: Ibu Asuh (Sonia)


Ini adik Malika, tolong dirawat baik-baik ya, dia mau ikut kakak Malika katanya.


From: Ayah Asuh (Dimas)


.


.


.


Sonia


Ia masih sibuk berkutat dengan judul proposal skripsi yang akan diajukan tiga hari lagi ketika terdengar suara ketukan pintu dari luar. Cepat-cepat ia mengenakan bergo berjalan menuju depan.


"mbak Sonia?"


"Iya, ada apa ya?"


Bunga lagi?


Diliriknya bunga berkelopak merah darah itu dan terselip kertas di bawahnya.


To: Ibu Asuh (Sonia)


Ini adik Malika, tolong dirawat baik-baik ya, dia mau ikut kakak Malika katanya.


From: Ayah Asuh (Dimas)


Laki-laki itu, entahlah, terkadang bisa membuat hatinya menghangat secara tiba-tiba meski sekuat tenaga selalu ditampiknya.


Diletakkannya pot yang baru sampai itu tepat disebelah pot lama yang diberi nama Malika oleh ayah asuhnya, oh my..., ayah asuh? yang benar saja.


Dan entah mengapa kali ini ia sangat menunggu sebuah telpon masuk yang menanyakan bunganya sudah sampai, bagaimana, cantik tidak dan embel-embel lain, namun sampai hari menjelang sore, tak ada satupun telpon ataupun pesan yang masuk, membuatnya hampir beberapa kali ingin mengirim pesan, sekedar mengucapkan terimakasih namun selalu ia urungkan.

__ADS_1


***


Dimas


Ia mengerjapkan matanya berkali-kali menahan kantuk dan kepala yang berat, dilihatnya jam dinding telah menunjukkan pukul lima sore, ia mengumpat tak jelas sebab ketiduran di atas sofa dengan ponsel masih mati, lupa di charger.


Setelah mengguyur kepala cukup lama dibawah guyuran shower dan terasa lebih ringan dari sebelumnya, ia mengakhiri aktivitas mandi dan beralih ke ponselnya.


Ada seseorang yang ingin ia hubungi, ingin meminta restu sebab ia telah memantapkan hati untuk menemui ibu dari gadis pujaannya malam ini, mumpung ada waktu kosong. Siapa lagi kalau bukan mama. Ia tau ini sedikit sulit, bisa jadi Sonia akan menolaknya nanti mengingat belum terbukanya hati gadis itu untuknya.


Tapi ia masih punya satu senjata pamungkas, yakni doa mama, doa ibu yang dipercayai bisa langsung menembus langit ketujuh tanpa perantara.


Tepat pukul delapan malam, dengan mengenakan kemeja biru dongker yang sangat pas di tubuh, ia melajukan mobilnya kesebuah rumah sederhana namun asri sebab begitu banyak bunga yang tumbuh disana.


Mobil sudah ia parkirkan di halaman masjid, dan ia berjalan menyusuri gang sempit disamping masjid tersebut dengan tangan membawa paperbag berisi cinderamata. Debaran jantungnya sudah tak menentu, lebih gugup dari mengintai target yang ingin ditangkap, tangannya sampai basah oleh keringat.


Ia sudah berada di halaman rumah itu, ketika langkah terhenti sebab netranya menangkap sebuah motor Yamaha Jupiter terparkir di sana. Rupanya lagi ada tamu, namun ia sudah terlanjur melangkah.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, eh nak Dimas, masuk masuk." Dapat ia lihat amak tengah duduk berhadapan dengan seorang laki-laki yang ditaksirnya berusia 25 an, berwajah teduh serta berjanggut tipis.


Ia pun duduk tepat disebelah pria yang ikut berdiri dan menyalaminya dengan sopan sembari tersenyum ramah itu.


"Hannan." Ucap pria memperkenalkan diri.


"Dimas."


Jadi, setelah diam beberapa saat mendengarkan obrolan amak dan pria bernama Hannan itu, dapat ia tangkap bahwa maksud dan tujuan Hannan datang kesana adalah sama dengan dirinya, so poor you Dimas!!! dia ustadz...


Tubuhnya langsung menciut. Tidak ada lagi Dimas yang gagah perkasa dengan kepercayaan tingkat tinggi seperti kala ia memegang revolver kesayangannya dan menembakkan timah panas tepat sasaran kearah penjahat, tidak ada. Yang ada hanya Dimas yang pesimis lantaran berfikir pasti akan kalah sebelum berperang.


Ia pun turut menyampaikan niat baiknya yang sama, untungnya ditanggapi amak dengan tanpa membedakan.


"Alhamdulillah, amak senang jika Sonia sudah ada yang ingin mengkhitbahnya, tapi amak hanya bisa merestui, masalah keputusan semua amak serahkan sepenuhnya pada Sonia."


"Apapun yang menjadi keputusan Sonia nanti, amak harap ustadz Hannan dan nak Dimas mau menerimanya."


To be Continue...

__ADS_1


Happy reading yaaaa


Note: Berita diambil dari Liputan6.com edisi Mei 2021.


__ADS_2