
Audrey mengetuk pelan pintu ruangan Bu Utit yang tidak tertutup itu.
"Ya Audrey masuk." Bu Utit menatapnya dari balik kaca mata bulan separuh, mengingatkannya pada sosok Mac Gonagal di film Harry Potter, tentu saja Mac Gonagal versi muda.
"Ada perlu apa?"
"Ini bu, saya mau konfirmasi kasus saya." Suaranya sedikit tercekat di tenggorokan.
"Ya, ada apa dengan kasusmu?"
"Fibroid Rahim kan tidak ada pasien nya bu di ruangan, kenapa saya bisa dapat itu bu." Dia bicara dengan nada sesopan mungkin, sambil terus menatap Bu Utit selaku lawan bicara.
"Fibroid rahim itu hampir mirip- mirip sama miom Drey, tumor rahim, kasus biasa sih sebenarnya, cuma ya itu, disini memang sedang tidak ada pasien dengan Fibroid rahim."
"Jadi bagaimana bu, apa saya harus ganti kasus?" Suaranya penuh harap.
"Coba konfirmasi ke dokter Galih soalnya dia yang menentukan kasus kalian kemarin."
Audrey mendesah pelan, mengapa harus berurusan dengan dokter Galih setelah ia tertangkap basah mengatai dokter muda itu Gay, sambil tersenyum kecut dia kemudian pamit keluar.
"Eh Audrey tunggu."
"Iya bu?" Tolehnya pada sang kepala ruangan.
"Hari ini dokter Galih tidak masuk, dia ada seminar, kalau mau konfirmasi nanti datang aja langsung ke klinik nya ya, tau kan kliniknya?"
Dia hanya mengangguk pasrah sambil berjalan ke arah koridor menuju bangsal, netra nya menatap nanar pada teman-temannya yang telah mengkaji pasien mereka.
Oh iya, kenapa tidak dihubungi via telpon saja, via pesan singkat kan gampang, tidak repot pergi ke kliniknya. Seolah menemukan oase di tengah gurun pasir, dia memutar arah langkahnya menuju meja jaga perawat.
"Mbak, tau nomor ponselnya dokter Galih tidak ya?"
Mbak Titi, PJ pasien hari itu mengeryit heran padanya.
"Bukan apa-apa mbak, saya mau konfirmasi kasus saya." Dia menyeringai salah tingkah, namun segera mbak Titi mengirimkan nomor kontak dokter Galih padanya, yes good.
[Assalamualaikum, maaf mengganggu dok, saya Audrey mahasiswi magang di RS JMC ruang Anggrek]
Satu jam
Dua jam
Tiga jam
__ADS_1
Sampai jadwal pergantian shif, sama sekali tidak ada balasan dari dokter Galih.
[Maaf dok, saya cuma ingin konfirmasi kasus yang saya dapat, di ruangan tidak ada pasien dengan Fibroid Rahim, jadi bagaimana dok solusinya, apakah saya perlu ganti kasus atau bagaimana]
Teng, centang biru yang artinya pesan telah terbaca, yes akhirnya.
Tapi sama sekali tak ada balasan, ia mulai mengumpat, kesabaran nya habis sudah, **** you, dasar dokter sialan!!
Dengan mengenakan jeans hitam serta kaos oblong dan rambut dikuncir tinggi, dia memesan ojol menuju klinik dokter Galih.
***
"Maaf mbak, silahkan ambil nomor antrian dulu " Perawat cantik berlesung pipi berbicara padanya.
"Sus, apa dokter Galihnya ada?" Dia mengindahkan perkataan perawat itu untuk mengambil nomor antrian.
"Iya ada didalam, tapi mbak nya ambil antrian dulu."
Dia menghela nafas panjang, yah pura-pura berobat saja biar mudah proses nya, kalau dia ngotot pengen ketemu dokter Galih disaat antrian pasien dokter itu panjang bak ular naga, yang ada dia akan di usir satpam.
Antrian 25, sekarang masih berjalan antrian 15, itu artinya dia mesti menunggu 9 orang lagi sebelumnya, menangani satu pasien memakan waktu setidaknya 10-15 menit,dan dia harus menunggu kurang lebih satu jam setengah lagi disini, whoaaaaaa. Dia sampai terkantuk-kantuk menunggu hingga nomornya disebut.
"Antrian 25."
Seperti baru saja dipanggil karena memenangkan doorprize hadiah mobil Toyota, dia hampir berlari menuju meja pemeriksaan.
"Duduk disini dulu mbak, kita periksa tekanan darah, tinggi badan dan berat badannya sebelum masuk." Lagi-lagi perawat cantik memberi instruksi padanya, dia baru menyadari satu hal, pegawai nya dokter Galih cantik-cantik semua, ckkkk agaknya hipotesa Gay yang dia sematkan kemarin sedikit terbantahkan.
"Keluhannya apa?" perawat itu memandangnya sambil siap menulis di sebuah lembar kontrol pasien.
Keluhan? Keluhan apa?
"Emmm, saya Disminore (nyeri haid) mbak." Ucapnya gugup
Perawat itu mengeryit kan dahi sebelum akhirnya menulis keluhannya di kertas, dia hampir tertawa memikirkan kekonyolan ini, hanya nyeri haid sampai harus datang ke dokter spesialis, yang benar saja.
"Silahkan masuk." Perawat itu mengantarkan sampai kedepan pintu.
"Selamat pagi ibu, ada yang bisa saya ban..." Dokter Galih sedikit kaget melihatnya berdiri disana.
"Maaf mengganggu dok, saya sudah menghubungi dokter via pesan singkat tapi tidak ada respon jadi saya memutuskan untuk kesini." Audrey mendesah pelan menetralkan kegugupan nya.
"Ya, jadi?"
__ADS_1
"Mengenai kasus saya dok, tidak ada pasien dengan Fibroid Rahim di ruangan."
"Tidak ada hari ini, belum tentu tidak ada besok, pasien masuk berganti- ganti setiap hari bukan?"
What? dia bilang apa barusan,dasar songong!!
"Tapi dok, kami diruang Anggrek hanya satu minggu, setelah itu akan rolling ke ruang lain, jika menunggu sesuatu yang tidak pasti saya akan tertinggal sementara yang lain sudah selesai mengerjakan AsKep(Asuhan Keperawatan)." Audrey mulai putus asa, berkali-kali dia menggigit bibir bawahnya.
"Yah tinggal minta tambahan waktu."
"Dok, are you listening to me? mana ada tambahan waktu untuk mahasiswa seperti kami."
"Hmmm? Oh iya, sorry."
"Bukan gitu dok, saya cuma minta dokter ganti kasus saya, biar saya cepat membuat laporan dan ASKEP nya." Nada memaksa khas Audrey.
Dokter Galih menghentikan aktivitasnya yang tadinya bicara pada Audrey sambil menulis sesuatu di semacam buku notulen. Menatap dengan mata elangnya, mata hitam nan tajam, wuiissss sesaat dia ter- pe-so- na.
"Mak-sud saya, bisakah dokter mengganti kasus saya, kata Bu Utit, dokter kemarin yang menentukan kasus mahasiswa." Ucapnya melembut penuh dengan kesopanan.
"Kasus yang sudah ditentukan tidak bisa diganti sembarang, kaji data subjektif dan objektif setiap pasien dengan gejala yang mengarah ke miom seperti nyeri abdomen, perdarahan dan banyak lagi, jadi mahasiswa harus bisa berfikir kritis."
Dia tidak percaya, dokter tampan ini benar- benar mengibarkan bendera perang padanya, apa salahnya? kalau hanya mengatakan Gay, tidak seharusnya menyusahkan nya seperti ini, ini terlalu berlebihan.
"kalau sudah urusannya silahkan keluar, pasien lain sudah lama mengantri."Ucap dokter Galih datar.
Dia hanya bisa menelan Saliva berkali-kali, sebelum akhirnya melangkah menuju pintu, terus berjalan melewati meja tempat dia diperiksa pertama kali tadi, tidak memperhatikan sekeliling, hanya fokus pada diri sendiri, sampai suara memanggil.
"Mbak...mbak!"
"Iya?" Dia menoleh ke sumber suara.
"Maaf mbak, mbak belum bayar biaya konsultasi, silahkan menuju loket pembayaran terlebih dulu."
Bayar?? ouccchh shiit... double damned!
Dia menuju loket menunggu petugas menulis angka di lembar kuitansi dengan perasaan cemas tak karuan.
*Rp 250.000,-
Whaaaaat*?????
To be Continue...
__ADS_1
Selamat berpuasa, lancar puasanya di detik-detik terakhir menuju kemenangan ya reader tersayang...