The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Dimas come back...


__ADS_3

Sonia


Kata orang rindu itu indah, tapi baginya ini sungguh menyiksa. Setiap hari menanti satu persatu kelopak mawar yang mulai gugur layu meninggalkan tangkai nya, kemudian diikuti batang dan daun yang mengering dalam balutan plastik yang menyelimuti, ahh tragedi buket bunga mawar.


Sementara sang pemberi belum juga ada tanda-tanda pemulihan pasca operasi, kendati tim dokter memastikan tidak ada komplikasi yang berarti.


Genap dua minggu, ia akhirnya benar-benar telah membuang buket bunga itu walau dengan berat hati, sebab sudah tak layak lagi. Dan ia pun telah mengambil keputusan untuk menolak pinangan dari ustadz Hannan dan akan menunggu kak Dimas.


"Sudah benar-benar kamu pikirkan Son?" Amak menatapnya, dan ia hanya mengangguk sekilas.


"Tapi Dimas kondisinya seperti itu, maksud amak..."


"Sonia mencintai kak Dimas, Sonia akan menunggunya." Ia mengulum bibir kuat-kuat, ia bukannya tak tau maksud amak, menunggu sesuatu yang tak pasti, orang tua mana yang tidak khawatir, sementara yang jelas menantikannya sudah tersedia di pelupuk mata.


Amak hanya mengangguk pasrah, "Kita doakan supaya Dimas cepat sadar."


Setelah amak keluar dari kamar, ia pun menangis lagi, sepertinya sudah menjadi kebiasaannya untuk menangis dua kali sehari, macam jadwal sikat gigi, pagi dan malam sebelum tidur.


Hingga tangisnya terhenti ketika mendengar ponselnya berdering, panggilan telpon dari Audrey.


"Haloo, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, uniiiiii... Kak Dimas!!!"


"Kak Dim-as, kenapa?" Tubuhnya tiba-tiba menegang mendengar nama kak Dimas disebut, jantungnya bertalu-talu serasa ingin meledak.


"Kak Dimas, Alhamdulillah, pagi ini sudah sadar, ventilator nya sudah dilepas, cuma masih apatis, barusan kak Galih telpon dari Rumah Sakit."


"Alhamdulillah ya Allah...hiks hiks." Ia tak kuasa membendung air mata, haru bercampur syukur membuncah di jiwa, akhirnya laki-laki itu mampu bertahan, terimakasih Tuhan.


"Tapi kak Galih bilang, kalau mau jenguk sorean, soalnya pagi ini ada jadwal kunjungan dari bapak KAPOLRI."


"Hmm, baiklah. Pulang kuliah kita kesana."


***

__ADS_1


Untuk pertama dalam sejarah perkuliahannya, ia sama sekali tidak fokus dan tidak mendengarkan cuapan dosen di depan kelas. Matanya terus mengarah ke jam dinding yang bertengger di atas papan tulis, bergerak lamban bak 🐌🐌 siput, membuatnya ingin sekali menaiki meja dan mengambil jam itu, memutar nya hingga jam perkuliahan cepat berakhir.


"Kak Dimas, udah bisa diajak ngomong." Audrey berbisik.


"Oh ya?" Tolehnya antusias.


"Tadi kak Galih bilang, mereka sempat ngobrol sebentar."


Ia mengangguk cepat, "Syukurlah, berarti tidak ada komplikasi kan?" mengingat biasanya pasien pasca operasi bedah kepala akan mengalami sedikit perubahan seperti berubah cadel, rabun penglihatan, atau sampai amnesia.


"Tidak tidak, bahkan kak Dimas sudah bisa diajak bercanda tadi, dia sehat."


Ia tersenyum penuh arti, tak sabar ingin menjumpai laki-laki itu, laki-laki yang menjadi tersangka utama terbuangnya air mata berliter- liter.


Tepat saat perkuliahan berakhir, ia orang yang paling bersemangat keluar kelas. Namun untung tak dapat diraih, tepat saat ia melangkah, bu Angel sang dosen pembimbing memanggilnya.


" Sonia, kalau mau bimbingan sekalian acc ujian, ibu bisa sore ini. Soalnya besok ibu sudah berangkat ke Makassar, ada pelatihan satu minggu."


Glekk...


"Uni bimbingan aja dulu, abis itu nyusul ke Rumah Sakit, aku duluan soalnya udah ditungguin kak Galih." Audrey tersenyum menghibur.


Dan ia terpaksa membalas senyum Audrey dengan kecut dan berbalik arah menuju ruangan bu Angel.


.


.


.


Dimas


Ia mengerjapkan matanya untuk pertama kali dari tidur yang sangat panjang, beberapa perawat tampak melepas alat-alat dari tubuhnya yang tak berdaya. Dapat ia lihat mama dan Ara menangis disisi tempat tidur, namun ia terlalu lemah walau sekedar menggerakkan tangan menggapai mereka.


Disisi lain ada papa dan kedua orang abangnya dan juga Galih. Mereka semua terharu melihatnya yang ternyata mampu bertahan hidup, dan ia pun sama sekali tak menyangka masih bisa bernafas, dikiranya ia sudah end saat matanya tertutup kala itu.

__ADS_1


Ia hanya terdiam menatap langit-langit, kepalanya yang diposisikan lebih tinggi dari kaki membuatnya nyaman melihat sekitar kendati masih tak peduli.


Tak lama ketika tim dokter visite, ada beberapa orang yang ia kenali sebagai bapak KAPOLRI dan jajarannya menjenguk, namun ia belum bisa bergerak, tubuhnya kaku.


Lepas tengah hari, ia sudah bisa menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar, bisa tersenyum dan mengucapkan kalimat walau belum begitu fasih.


"Hai bro, cepat pulih biar kita kondangan ke nikahannya Sonia bareng." Galih menepuk pundaknya pelan sambil tertawa garing.


"So- ni-a?" Tolehnya pada sang sahabat.


"Lo sih kelamaan mati suri, Sonia mau nikah sama ustadz ntuh, bangun cepetan biar kita bisa bawa kabur pengantin wanitanya." Galih kembali tertawa membuatnya ikutan tertawa walau tak begitu yakin dengan ucapan songong didepannya.


"Kak Galih bohong, uni nangis terus nungguin kakak bangun, dia bilang kalau kakak ke syurga dia pengen ikut, tapi kalau ke neraka dia baru milih ustadz Hannan, dia mau pastiin dulu." Audrey dengan mimik wajah seperti orang yang sedang menawarkan bisnis MLM, lagi-lagi membuatnya menggeleng melihat tingkah konyol pasutri ini.


Tepat pukul 16.30 wib, suasana kamar kembali sepi. Mama, papa dan Ara istirahat di apartemen, Galih dan Audrey pamitan pulang, ada abang tertua yang menjaganya. Ia yang masih lelah kembali tertidur, namun tak begitu lama sebab mendengar suara lembut seseorang.


Ia ingin membuka mata, namun diurungkan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, temannya Dimas?" Dapat ia dengar suara bang Dean bertanya.


"Iya pak." Ahh, suara itu sungguh ia merindukannya.


Ia masih setia mendengar obrolan antara bang Dean dan Sonia, sampai bang Dean minta gadis itu untuk menjaganya sebentar karena bang Dean ingin keluar. Dan sekarang tinggallah mereka berdua.


Dari ekor mata yang terbuka sepersekian centi, ia mengintip gadis itu menggeser kursi plastik untuk duduk didekatnya. Dan saat itulah ia membuka mata, ia bisa melihat wajah keterkejutan Sonia, lalu gadis berwajah bidadari itu tersenyum, oh my...


"Kakaak..." Suara Sonia bergetar, matanya berkaca-kaca.


Dan entah mendapat Ilham dari iblis mana, otak jahilnya yang baru saja sembuh segera bekerja.


"Kamu siapa?"


To be Continue...

__ADS_1


Happy reading


__ADS_2