
Dimas
"Kakak marah lihat kamu disana."
"Tapi aku gak ngapa-ngapain." Sonia buka suara berusaha membela diri.
"Sepanjang perjalanan, kakak bayangin mau ketemu sama kamu." Desahnya pelan sambil terus menatap sang istri.
"Bahkan tidak makan, melupakan segalanya, menghitung mundur waktu yang hanya tersedia 24 jam." Lanjutnya sambil menggelengkan kepala.
"Aku pernah bilang ke kakak, kalau ada waktu pesiar kasih kabar dulu." Sonia berusaha keras untuk menahan tangis.
"Kakak denger gak sih apa yang aku omongin?!!" Dan sekarang suara sang istri sudah menjadi isakan kecil.
"Hal-hal kayak gini tuh gak perlu terjadi kalau kakak kasih kabar mau pulang, kakak udah salah paham." Isakan Sonia semakin keras terdengar.
"Apa susahnya sih nelpon sebentar?!"
"Dan aku gak bakalan tahu hal kayak begini nih, kalau aku ngasih kabar duluan mau pulang!" Sela nya dengan suara kaku.
"Ya ampuunn... sudah aku bilang, kakak salah paham!" Sonia menatapnya tak percaya.
"Aku cuma mau lihat bunga, dari kemaren- kemaren mau kesana, baru hari ini kesampaian. Aku gak tau tiba-tiba ada Elan disana, dia mau beli bunga buat gebetannya."
"Pas pulang, dia nawarin tumpangan. Wajarlah, dia berbuat baik sama ibu hamil yang lagi ditinggal suami." Perkataan Sonia seolah menamparnya telak.
"Aku tuh cape!" Sonia menyusut air mata yang telah membanjir.
"Gak ada teman buat cerita."
"Aku tuh sendirian, gak punya siapa-siapa, iya?! kadang pas mau tidur punggung ku pegal, kaki ku kram, mau panggil amak buat mijitin gak enak, aku sering nangis sendiri malam-malam."
"Aku sudah berusaha kuat seperti yang kakak mau."
"Kak Galih bilang, ibu hamil gak boleh stress, tapi aku stress kalau kakak seperti ini, kakak sampe mukulin Elan tadi ?!"
Sonia masih sibuk menyusut air mata campur ingus dengan menggunakan punggung tangan, ketika ia mengulurkan beberapa lembar tissue dan langsung diterima Sonia dengan gerakan cepat.
Dapat ia lihat Sonia yang menatapnya penuh amarah, " Aku gak mau dengar apa-apa! aku gak mau ngomong lagi! aku mau pulang! aku cape!"
Tangan nya terulur hendak menenangkan Sonia, namun langsung ditepis oleh gadis itu.
Ia tertegun selama beberapa saat menatap Sonia, ia yang salah, sudah terbakar api cemburu tanpa mau mendengarkan fakta yang sebenarnya.
"Aku benci sama kakak!" Bisik gadis itu di sela sisa isakan. "Aku benci!"
Sonia menutup wajah dengan kedua telapak tangan ketika pelayan mengantarkan makanan ke meja mereka. Setelah memastikan pelayan itu menjauh, ia menatap gadis itu yang sudah membuka wajah kembali.
"Minum dulu, kakak pesankan milkshake chocolate, kesukaan kamu kan?"Ia coba merayu Sonia, namun masih tak digubris oleh gadis itu.
__ADS_1
"I Miss you, maafkan kakak ya."
Ia makan dalam diam dengan kecepatan maksimal seperti saat di Lemdiklat, meneguk minumnya sambil melirik Sonia yang juga tengah menyesap Milkshake Chocolate.
.
.
.
Sonia
Rasanya begitu lega bisa mengeluarkan unek-unek nya ke suami, dengan hati bergemuruh demi mengingat apa yang baru saja terjadi ketika kak Dimas dengan gerakan super cepat menghabiskan makanan diatas meja, ia sendiri sangat tak berselera makan saat ini. Dan hanya terpaku.
Tapi ada sisi hatinya yang menghangat ketika tau kak Dimas masih memesankan minuman favoritnya disaat kesal sekalipun, ia bahkan hampir mengucapkan terimakasih waktu kak Dimas menyodorkan minuman itu.
Namun mulut yang sudah setengah terbuka mendadak urung. Begitu mengingat jika mereka sedang berada dalam situasi yang tak menyenangkan, alih-alih berterimakasih, ia malah tak menggubris tindakan pria itu, ia masih marah.
Dapat ia lihat, laki-laki itu tertegun beberapa saat sambil menatapnya. Kemudian mereka berdiri, ia berjalan lebih dulu ke mobil sementara kak Dimas membayar makanan.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada yang buka suara, sampai kak Dimas memarkirkan mobil di halaman masjid, ia lebih dulu keluar dan berjalan cepat kearah rumah, meninggalkan kak Dimas yang berjalan di belakang.
Ia langsung menghambur kedalam kamar sesaat tiba di rumah, membuat amak yang tengah merajut sepatu untuk calon bayinya terheran, dan bertambah heran dengan kemunculan tiba-tiba kak Dimas yang menyusulnya.
"Loh nak Dimas pulang?"
***
Ia langsung berbaring menutup mata menghadap kearah dinding, tanpa menghiraukan sang suami yang duduk didekatnya.
"Maafkan kakak, I love you, I miss you." Kak Dimas berusaha memijat betisnya pelan, namun ia tak bergeming meski menikmati pijatan laki-laki itu, sungguh sebenarnya ia sangat merindukan moment seperti ini.
Entah karena terlalu lelah, atau memang jamnya untuk tidur sambil menikmati pijatan kak Dimas, ia akhirnya benar-benar terlelap.
Lepas ashar ia terbangun, berdiri kaku setelah melepas mukena habis sholat ketika mendapati kak Dimas baru saja pulang dari masjid dan masuk ke kamar, tatapan mereka bertemu. Ia pura-pura membuka lemari, meski tak tau apa yang harus dilakukan, definisi dari mati gaya yang sesungguhnya.
Tiba-tiba lengan kokoh kak Dimas memeluknya dari belakang.
"I love you." Bisik laki-laki itu dengan bibir menempel disepanjang lehernya.
"Hmmm." Ia mencoba menggeliat agar bisa terlepas dari rengkuhan kak Dimas. Tapi yang ada justru kak Dimas semakin leluasa menelusuri lehernya.
"Udah sholat ashar belum?" bisik kak Dimas dengan bibir menempel di telinga nya.
Ia mengangguk.
"Siip."
"Siip apa tuh maksudnya?"
__ADS_1
Kak Dimas tak menjawab. Justru terkekeh pelan. Ia masih menunggu jawaban, ketika kak Dimas dengan gerakan yang sangat halus berhasil membalikkan tubuhnya hingga mereka kini berhadapan.
"Masih marah sama kakak?"
"Hmmm...?"
Ia memandangi wajah kak Dimas dengan alis terangkat, dan ini membuat kak Dimas tambah terkekeh.
"Masih cape gak?" Kini sang suami menyentuh pipinya, menelusuri tulang pipinya dengan ujung jari pria itu.
"Apa tuh maksudnya?" Ia makin mengkerutkan dahi.
Kak Dimas kembali terkekeh, " Tadi katanya cape."
Dan ia hanya mencibir tak jelas.
"Tapi udah sempat tidur kan. Udah hilang dong cape nya?"
Ia makin mengkerutkan dahi memandangi wajah kak Dimas yang menyunggingkan senyum. Kilatan amarah dan mata menyala yang sempat dilihatnya siang tadi telah sirna. Berganti dengan tatapan mata hangat penuh cinta, yang berhasil melelehkan hatinya dalam waktu singkat.
"Kita baikan?" Gumam kak Dimas sambil tersenyum simpul.
"Maafin kakak ya sayang..."
"Minta maaf ke Elan juga kalau mau kita baikan!" Salaknya yang kembali merasa sebal.
"Wuiss ada syarat segala, iya, nanti kakak telpon Elan." Gelak kak Dimas kemudian memeluknya.
"Jadi..."
"Jadi apa?"
"Udah bisa dong..." Kak Dimas mengerling jahil padanya.
"Bisa apaan?"
"Bisa jengukin bayi kita, kata Galih sering-sering gak masalah, hamilnya udah gede."
"Ambil rapelan, kan dah empat bulan gak dikasih jatah."
Tanpa minta persetujuan lagi, pria itu mengangkatnya ke atas ranjang dengan sangat lembut, namun kemudian terhenti bingung.
"Kenapa?"
"Kakak lupa ranjang nya bunyi kan..."
To be Continue
Happy reading yaaa....
__ADS_1