The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Mencintamu tanpa syarat


__ADS_3

Aurora


Tepat dua minggu lebih satu hari, akhirnya Fatih pulang. Entahlah rasanya begitu terharu melihat pria itu bisa kembali bersamanya dalam keadaan yang sehat, tanpa kurang satu apapun.


Kecemasannya selama menunggu pria itu terbayar lunas dengan melihat senyum Fatih yang terkembang menyambutnya di depan daun pintu, membuatnya terisak menangis. Ingin sekali menghambur kedalam pelukan pria itu kalau saja tidak ada mama Sonia disana.


"Hai baby, how are you?" Fatih mengambil posisi membungkuk kearah perutnya setelah mengecup keningnya sekilas.


Pria itu mengelus perutnya pelan, membuatnya makin terharu. Jelas Fatih tahu anak dari siapa yang ada didalam sana, tapi Fatih memposisikan diri seolah benar-benar ayah dari sang bayi.


"Thanks." Bisiknya parau.


***


Saat mereka berdua telah memasuki kamar dan Fatih langsung merebahkan diri di sofa. Ia meneliti sosok Fatih, mencari tahu apakah pria itu sama salah tingkahnya seperti dirinya saat ini. Mengingat terakhir mereka bertemu, adegan paling memalukan terjadi di sofa itu antara dirinya dan Fatih.


Namun, Fatih sangat tenang, sama sekali tidak gelisah. Sangat berbeda dengannya. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.


Ia menghela nafas panjang. Bukankah itu bagus untuknya? ia tidak perlu malu sebab dengan tak tahu dirinya telah menyodorkan tubuh dengan memeluk Fatih dan mencium pria itu dua minggu lalu.


Lewat satu tarikan nafas, ia membuang semua rasa canggung itu."Abang jadi ambil cuti?" Tolehnya pada Fatih.


Entahlah, jika kemarin-kemarin ia berpikiran Fatih tak perlu mengambil cuti, maka kali ini ia sangat berharap pria itu bisa berlama-lama bersama nya.


"Sudah, udah di acc." Ujar Fatih sambil tersenyum.


Melihat senyum itu membuatnya kembali terbayang kejadian dua minggu lalu.


Buru-buru ia mengalihkan perhatian dengan mengambil koper Fatih, dan mengeluarkan pakaian kotor dari sana. Ia harus angkat kaki secepatnya sebelum Fatih menyadari kalau ia benar-benar salah tingkah.


"Tadinya mau ngajakin kamu honeymoon kemana gitu, tapi takut kandungannya kenapa-napa kalau harus bolak-balik naik pesawat."


Ia tidak bisa lagi menyembunyikan rona merah diwajahnya mendengar ucapan Fatih, beruntung posisinya saat ini membelakangi pria itu, hingga Fatih tak perlu melihat kalau saat ini ia tengah tersenyum sendiri.


"Jadi besok, rencananya mau ngajakin kamu kesuatu tempat."

__ADS_1


"Kemana?" Akhirnya ia menoleh ke arah Fatih yang tersenyum simpul melihatnya begitu antusias.


"Ada deh, rahasia dong."


Ia mencibir sekilas dan berdiri, berniat keluar dari kamar membawa pakaian kotor.


Namun detik berikutnya, ia terpekik ketika merasakan ada yang memeluk tubuhnya dari belakang. Dengan enteng Fatih mengangkat tubuhnya. Ia memukul lengan Fatih yang memeluk pinggangnya dengan erat, sambil meneriakkan protes agar Fatih menurunkannya. Namun, Fatih hanya terkekeh.


Seakan- akan bobot tubuhnya tidak ada artinya sama sekali, Fatih membawanya ke sofa dan membaringkannya di sana. Ia sudah mengambil ancang-ancang untuk kabur, tapi Fatih yang menudunginya membuat ruang geraknya jadi terbatas.


Fatih menempatkan diri diatasnya, sementara ia terjajar ke sudut sofa. Kedua tangannya ditumpukan di kedua sisi tubuhnya, sehingga sosok Fatih terasa begitu menjulang diatasnya. Fatih tampak berbahaya, sekaligus menggoda.


"You make me crazy. Sejak kejadian dua minggu lalu, aku jadi mikirin kamu terus."


Ia mengerjap beberapa kali, berusaha mencerna kata-kata Fatih.


"Aku ngebayangin gimana rasanya making love with you."


Fatih memajukan wajah mendekatinya. Bibirnya rasanya begitu kering ketika jarak itu jadi kian sempit. Ia meneguk ludah, dengan perut yang tiba-tiba terasa melilit saat nafas hangat Fatih menyapu wajahnya.


Alih-alih menuju bibirnya, Fatih malah menyusuri lehernya. Pria itu memberikan kecupan disepanjang lehernya. Rasanya menggelikan, sekaligus menggelitik. Terlebih desahan nafas Fatih ketika pria itu membisikkan namanya, membuatnya bergidik.


Ada kilat asing di mata Fatih ketika menatap nya. Kilat yang membuat mata Fatih terlihat membara." I want you, Rora. May I...?"


Ia tergagap, mendadak kehilangan orientasi waktu sambil menatap Fatih. Ada bagian kecil diotaknya yang menyuruhnya untuk menggeleng, tapi ia malah memberikan anggukan dihadapan pria itu.


Kini, Fatih hanya menyunggingkan senyum penuh arti. Lalu mulai mengecup bibirnya pelan, dan langsung melepaskannya disaat ia sudah bersiap untuk membalas.


Fatih mengangkat tubuh menjauhinya. Disaat berbaring disofa dan tidak lagi merasakan kehadiran Fatih didekatnya, ia merasa kosong.


Ia masih mematung menatap Fatih dengan penuh pertanyaan, ketika Fatih menyurukkan kedua lengan ke balik punggungnya. Dengan enteng, Fatih mengangkat tubuhnya. Ia terpekik pelan ketika berada dalam gendongan Fatih. Sama seperti tadi, Fatih tidak terlihat kesulitan saat membopongnya.


"M-au, ke mana?"


"Ranjang." Sahut pria itu santai sambil terus mengulum senyum.

__ADS_1


"Abaaang." Teriaknya. Mendadak ia merasa panik, tapi ia tidak tahu apa yang membuatnya panik?


"Aku ingin malam ini jadi salah satu momen yang tidak pernah bisa aku lupakan." Bisik Fatih lembut sambil membaringkannya di atas kasur.


.


.


.


Fatih


"Thanks Ra, You're beautiful." Bisiknya parau.


"Thanks udah memberikan aku sesuatu yang tidak akan aku lupakan di seumur hidupku."


Kapan ada wanita yang berada sedekat ini dengannya?


Tidak pernah, Rora yang pertama.


Ia bahkan bisa merasakan hembusan nafas Rora diwajahnya, karena jarak yang teramat pendek itu. Nafas Rora terasa hangat, sekaligus menenangkan. Sementara tubuh gadis itu masih bergetar akibat percintaan yang baru saja ia lakukan bersama Rora.


Saat membalas tatapan Rora yang tertuju padanya, sekali lagi ia bertanya. Kapan ada wanita yang menatapnya seintens ini? Tatapan Rora terasa lembut, sekaligus membara. Tatapan itu membuainya, sekaligus membakarnya.


Perlahan, ia menarikan jarinya di wajah Rora. Ia bisa merasakan betapa lembut kulit wajah gadis itu. Jarinya menyusuri alis Rora, kemudian menyusuri hidung dan berhenti di bibir.


"I like your lips." Bisiknya.


Rora bersemu merah sambil melengkungkan senyum. Berada disini bersama Rora, ia merasa nyaman.


Ia tidak tahu sejak kapan ia mulai mencintai gadis ini, yang ia tahu cintanya begitu besar pada Rora. Tak perlu syarat apapun untuk mencintai Rora, sebab sejak awal cintanya memang tak bersyarat.


Mencintamu tanpa syarat...


To be continue

__ADS_1


Happy reading


part khusus Fatih-Rora ya readers tersayang...


__ADS_2