The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Anniversary yang kacau


__ADS_3

Aurora


Ia mematung berdiri sambil menangis terharu, saat satu persatu mereka yang ada di sana memeluknya. Terimakasih Tuhan, hanya itu yang bisa ia ucapkan saat ini. Keluarga nya benar-benar menyayanginya sepenuh langit dan bumi, ah tidak, bahkan lebih dari itu.


"Mam..mamammm..mm." Fara bergumam di pelukannya, bayinya sungguh lucu, dengan mulut bercampur liur menciumi seluruh permukaan wajahnya antusias.


Rupanya mama sudah menyiapkan syukuran kecil-kecilan di apartemen mereka. Mengundang seorang ustadz dari pondok pesantren untuk berdoa bersama. Sekalian doa kepindahan mereka kesana.


"Ini bik Galuh, dibawa mbah kung dari Sidoarjo." Mama memperkenalkan seorang wanita paruh baya padanya ketika acara syukuran telah berakhir.


"Nanti bik Galuh ikut tinggal disini sama kamu, buat bantu-bantu, nah yang itu mbak Weri." Mama kembali menunjuk seorang perempuan yang lebih muda dari bik Galuh yang tengah berdiri di dekat kitchen island.


"Dia babysister profesional, udah di pekerjakan papa buat ngasuh Fara, dia juga akan tinggal disini, satu kamar sama bik Galuh."


Dan ia mengangguk, tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya, setidaknya ia tidak kesepian nanti saat Fatih bekerja, ada bik Galuh, mbak Weri dan tentu saja ada Fara bersamanya.


Satu persatu keluarganya berpamitan pulang ketika hari sudah beranjak malam. Byan dan mommy pulang lebih dulu, kemudian mbak Ara dan suami. Yang terakhir tentu saja mama dan papa serta mama Sonia dan papa Dimas.


"Istirahat ya, besok mama kesini lagi." Ucap mama memeluknya erat dan untuk kesekian kalinya ia mengangguk.


.


.


.


Satu Minggu kemudian, Fatih mengajaknya ke Bandung, hanya berdua. Ia kaget waktu Fatih menyiapkan segala sesuatu untuk keberangkatan mereka.


"Kenapa ke Bandung?"


"Kamu lupa? besok anniversary kita sayang." Fatih mencubit pelan puncak hidungnya.


"Ya Tuhan, maaf bang. Aku lupa, sudah satu tahun aja ya." Ringisnya salah tingkah.


Sementara ia masih melongo, Fatih justru mondar-mandir dihadapannya, memasukkan beberapa barang ke dalam koper mereka. Tujuh bulan terbiasa menyiapkan keperluannya, Fatih sudah hafal semua barang-barang dan pakaian yang biasa ia kenakan.


She think that her love for Fatih ia never enough. Ini bukan pertama kalinya ia merasa seperti ini. Sering ia berfikir kalau apa yang ia berikan kepada Fatih tidak cukup untuk pria itu. Ia tidak bisa mengimbangi perjuangan Fatih dalam hubungan ini.


Dan sejujurnya, itu membuatnya merasa kecil dihadapan Fatih. Ia mencintai Fatih, tapi rasanya, Fatih mencintainya lebih besar dibanding cinta yang ia berikan untuk pria ini. Ia takut tidak bisa memenuhi ekspektasi seorang Fatih.


Sejak dulu ia sudah mengakui kalau Fatih punya wajah tampan yang membuat siapa pun merasa terhipnotis. Ia menjuluki Fatih sebagai feromon berjalan, karena kemanapun pria itu melangkah, selalu ada mata perempuan yang mengikuti, mungkin dengan sedikit harapan bisa menjadi pasangan kelak.

__ADS_1


Sedangkan ia, ketika bercermin, segala kepercayaan dirinya seolah menguap entah kemana. Rasanya ia tidak pantas bersanding dengan seorang Fatih. Fatih dengan segala kesempurnaan yang dimiliki, sementara ia hanya seonggok tulang kering yang di balut kulit, hampir tidak ada daging yang tersisa ditubuhnya saat ini.


Yah, kanker tersebut sudah merenggut semua rambut dan tubuh indah yang dulu pernah ia miliki. Jika didiagnosa oleh dokter spesialis jiwa, mungkin ia saat ini terdiagnosis sebagai orang yang mengalami gangguan citra tubuh akut.


Ia persis seperti robot saat Fatih menuntunnya untuk bersiap, sebab pagi ini jika tak ada halangan mereka akan bertolak ke Bandung, itu rencana Fatih, bukan rencananya, ia hanya mengikuti. Saking hanya mengikuti, ia pun tidak sadar dengan perjalanan mereka yang tiba-tiba sudah sampai di salah satu hotel di Bandung itu.


Setelah beristirahat, malamnya ia menggunakan gaun yang sudah disiapkan Fatih untuk nya. Gaun berwarna putih gading dengan lengan panjang dan bagian bawah menutup lututnya. Sementara Fatih sejak sore tidak terlihat, dan hanya mengarahkan nya untuk mengikuti petugas hotel yang nanti akan menjemput.


Petugas hotel membawanya melintasi restoran dan menuju area outdoor. Saat menengadah, ia mendapati langit Bandung yang cerah dan bertabur bintang. Setelah sekian lama mendekap di ruang perawatan, rasanya takjub bisa melihat bintang.


Usai memandangi bintang, ia kembali mengedarkan pandangan di area itu. Di salah satu meja yang ditata romantis dengan pencahayaan remang dari lilin, ia melihat Fatih disana. Tampak sangat mempesona dan memukau dalam balutan jas hitam dan pantaloon bewarna senada.


Fatih tersenyum dan meraih tangannya pelan, sementara ia tak sanggup menyembunyikan pipinya yang memerah entah sejak kapan.


"Abang nyiapin semua ini?" Ia terperangah melihat persiapan Fatih yang sangat all out itu.


"For you hunny." Bisik Fatih tepat di belakang telinganya.


Ia tertawa kecil, karena hanya itu cara yang bisa dilakukan untuk menyembunyikan debar dihatinya yang makin menggila.


Mereka menikmati dinner romantis sambil saling melempar pandang. Yah, sejak menikah, ini bisa dibilang dinner romantis pertama mereka di hari jadi kesatu tahun.


Kalau saja tubuhnya tidak menggigil, sekalipun Fatih sudah menyampirkan jas ke tubuhnya, mungkin ia masih betah disini. Namun, semakin malam, rasa dingin makin menggigit. Jadi, ia mengangguk saat Fatih bertanya ingin ke kamar atau belum. Ia membiarkan Fatih membimbingnya keluar dari restoran.


Tubuhnya menegang saat mendengar seseorang memanggil Fatih. Tanpa bisa dicegah, darahnya seperti mendidih, terlebih saat seorang perempuan dalam gaun merah dengan belahan tinggi hingga paha terlihat jelas ketika wanita itu melangkah menghampiri mereka.


"Apa kabar Capt, gak pernah lihat Capt.Fatih sejak pindah ke flight domestik." Suara wanita itu mendesah seperti meminta perhatian. Dari percakapan itu bisa ia tangkap bahwa wanita ini adalah seorang pramugari.


Tidak bisa ia pungkiri bahwa profesi Fatih tidak bisa lepas dari gadis-gadis cantik yang selalu mengelilingi pria itu. Dan Fatih bisa saja memilih salah satu diantara mereka di antara jeda penerbangan bukan.


Wanita itu sudah tertinggal jauh dibelakang, setelah basa-basi bersama Fatih yang terasa memuakkan baginya. Tapi efek yang ditimbulkan masih terasa karena sekarang, ia kembali terhempas ke jurang tak berdasar, setelah sepanjang malam berusaha mengais kepercayaan diri bahwa ia memang pantas bersama dengan Fatih.


Sekarang ia meradang sendiri hingga mempertanyakan, apa yang sebenarnya dilihat Fatih dari dirinya, sementara ada banyak perempuan lain yang siap menjadi kekasih pria itu?


"Sayang, kamu kenapa? aku gak mau gangguan kecil tadi merusak malam kita." Bisik Fatih, saat mereka sudah berada di lift.


Dan ia hanya menggeleng pelan, berusaha keras memakai topeng di balik kecemburuan nya yang tak beralasan serta rasa harga diri rendah yang kian menggunung menyelimuti dan menggerogoti hatinya saat ini.


Saat mereka sudah kembali ke kamarpun, ia masih bersikap dingin, kendati Fatih berusaha untuk mencumbuinya.


"Apa, sih, masalahnya?" Akhirnya ucapan itu mencuri keluar dari bibir Fatih.

__ADS_1


Masalahnya ada padanya. Ia dan semua rasa tidak percaya diri yang membuatnya masih mempertanyakan, apa yang dilihat Fatih dari dirinya?


"What do you see in me?" Tanyanya parau.


Fatih membuka mulut, tapi kemudian mengatupkapnya lagi. Entah apa yang akan diucapkan Fatih dan membuat pria itu berubah pikiran di detik terakhir.


"Apa yang kamu lihat di diriku sampai kamu mau aku menjadi istrimu?" Sementara perempuan di sekelilingmu memiliki segalanya, tubuh indah, wajah cantik, segala-galanya."


Fatih mendengus," bullshit, apa-apaan. Kita sudah melewati semuanya berdua Rora." semburnya. "Kalau menurutmu fisik itu segalanya, you already have it."


Sontak tawaku tersembur saat mendengar penuturan Fatih.


"You must be kidding me."


"No, I'm not." Bantah Fatih tegas. Fatih mendekat, membuatnya refleks melangkah mundur.


Fatih terus maju, membuatnya mundur hingga punggungnya menyentuh dinding yang dingin dan menyadari tak ada lagi tempat untuk melarikan diri.


Fatih meraih tangannya dan mengarahkan tangan itu untuk merasakan sesuatu yang terasa menegang dan keras di balik celana yang pria itu kenakan.


"Can you feel it?" Bisik Fatih.


Ia meneguk ludah, sementara tatapan Fatih begitu berapi-api saat menatapnya. Emosi yang terpancar disana sangat sukar untuk dijelaskan.


Tangan nya makin tak berdaya saat Fatih makin menekan ke area itu. Darahnya berdesir saat merasakan kejan tanan Fatih yang menegang.


"Kamu bisa ngerasain betapa kerasnya aku sekarang? dan yang bikin aku jadi kayak gini itu kamu, Rora. Bukan perempuan lain."


Di depan Fatih, ia hanya bisa tergugu. Mematung dengan mulut terbuka, tanpa ada sepatah katapun yang bisa ia keluarkan.


Fatih memejamkan mata, dengan kening berkerut dan beribu emosi terpancar di wajah pria itu. Saat Fatih membuka mata, ia hanya bisa menangkap satu makna di balik tatapan Fatih.


Dan satu makna itu cukup membuatnya ingin menangis.


Ada kecewa di wajah Fatih, dan ia yang menyebabkan kekecewaan itu.


Happy reading


to be Continue


detik-detik episode terakhir ya readers tersayang

__ADS_1


Selamat hari Jumat berkah....


__ADS_2