The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Muhammad Al Fatih Prayoga


__ADS_3

Dimas


Entah berapa lama ia bersujud, merendahkan diri pada sang pencipta, mulutnya tak berhenti mengucap dzikir, memohon pertolongan Allah, hanya itu yang bisa ia lakukan.


"Dim, Dimas!!" Suara papa memanggil.


Ia sempat menyusut air matanya sebelum akhirnya menoleh.


"Mereka membutuhkan mu." Ucap papa lembut.


Ia mengikuti papa menyusuri lorong, melewati ruang tunggu, menuju meja petugas. Mereka masuk ke lift, yang sudah penuh, lalu naik menuju bangsal operasi.


Galih dan dokter Coltrain sudah menunggu mereka. Galih langsung merangkulnya, memeluk sambil berucap," Kamu punya bayi laki-laki bro!"


"Bagaimana dengan Sonia?" Tanyanya dengan gigi terkatup.


"Dia masih bertahan." Kata Galih.


"Mungkin bahkan dia yang membantu kami, Sonia berhasil melaluinya tanpa tekanan, namun jantung nya harus segera dioperasi."


"Sonia sudah memberikan izin pada kami untuk operasi." Ucap dokter Coltrain. "Tapi aku juga membutuhkan izin anda."


"Tentu saja, bisakah aku menemuinya?"


"Hanya sebentar." Kata dokter Coltrain. "Galih akan mengantarmu."


"Lakukan yang terbaik." Pintanya kepada si dokter bedah. Matanya mengungkapkan lebih daripada kata-katanya.


Dokter Coltrain memegang bahunya dengan mantap." Aku tidak biasa kehilangan pasien." sambil tersenyum penuh arti padanya.


"Sonia akan melalui semua ini, percayalah."


Ia mengangguk. Lalu mengikuti Galih melalui bangsal itu menuju ruangan tempat Sonia.


.


.


.


Sonia


Ia merasa sangat mengantuk saat ini, tapi saat melihat wajah kak Dimas, ia seolah seperti mimpi. Matanya langsung bercahaya.


"Sonia," Kata kak Dimas tercekik, membungkuk untuk mengecup kelopak matanya.


"Ya Tuhan... Sonia!" mengapa kamu tidak pernah cerita ke kakak, sayang?"


Ia hanya menggeleng pelan, ia pun tidak menyangka jika kondisinya bisa separah ini, ia hanya merasa selama ini, sering gugup dengan jantung berdebar, terkadang sedikit nyeri adalah hal biasa.


Ia dapat melihat kak Dimas benar-benar luluh. Pria malang, yang harus menjalani penderitaan besar dalam dua kehamilan. Tapi ia tidak ingin mati, ia akan berjuang.


Apa yang dirasakan kak Dimas, dan ditunjukkannya, jauh lebih dalam daripada rasa iba semata. Ia pedih melihat suaminya tampak hancur.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kak, semua akan baik-baik saja. Aku janji." Tapi ia bimbang, karena ia akan melangkah memasuki dunia yang tidak dikenal. Ia mulai mengantuk.


"Rawat baik-baik bayi kita, seandainya..."


"Jangan." geram kak Dimas pedih.


"Muhammad Al Fatih," bisiknya mengantuk. "Aku ingin menamainya itu. Dan nama belakangnya Prayoga, seperti kakak. Setuju?"


"Kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu inginkan," Ujar kak Dimas kaku.


"Hanya saja jangan... tinggalkan aku, Sonia. Jangan tinggalkan kakak sendirian di dunia ini." Suara kak Dimas parau, sarat emosi.


Jemarinya menelusuri bibir sang suami. Ia sungguh- sungguh mencintai pria ini. Lebih daripada yang kak Dimas sadari.


"Kakak membuatku jauh lebih bahagia daripada yang pernah kurasakan," Bisiknya. "Aku mencintaimu."


"Sonia..!"


Ia menarik nafas cepat, tampaknya ia harus bersusah payah untuk tarikan nafas berikutnya.


Air mata menyengat matanya. "Sayangku," bisiknya sementara kedua matanya terpejam. Obat biusnya mulai bekerja.


.


.


.


Dimas


Tapi ia seakan membeku disamping Sonia, ketakutan, ngeri bahwa inilah terakhir kalinya ia bisa melihat sang istri dalam keadaan hidup.


"Jangan tinggalkan kakak," bisiknya di telinga Sonia. "Kakak tidak bisa hidup tanpa mu."


"Ayo." Galih menyeretnya keluar dari ruangan.


Sonia sudah tertidur, ia memandang Sonia sekali lagi, menatap kedua mata kelabu Sonia yang terpejam.


Tolong Tuhan, jangan biarkan kedua mata itu terpejam selamanya! apapun yang telah kulakukan hukum aku, tapi jangan ambil dia! Tolong jangan lakukan itu!


"Dia sudah menempuh separuh perjuangan." Suara Galih serak seolah menangkap kepanikannya.


"Jangan menyerah dulu. Ayo kita kebawah dan minum kopi."


.


.


.


Galih


Ia mengajak Dimas ke lantai bawah dan membawakan kopi hitam untuk pria itu.

__ADS_1


"Aku pastilah raja lalim dikehidupanku sebelumnya." Gumam Dimas. "Sehingga harus dihukum melalui neraka ini dua kali dalam satu kali masa kehidupan."


Ia mengerti maksud Dimas. Ia masih ingat Dimas kehilangan istri pertamanya ketika wanita itu melahirkan Ara.


"Jantung Sonia mungkin bermasalah," Katanya. "Tapi semangatnya lebih kuat daripada semua manusia yang pernah kukenal. Sonia berhasil melewati cobaan yang tak bisa dilewati sebagian besar wanita. Dia tangguh, jangan menyerah dulu."


"Aku tidak akan melakukan itu." Jawab Dimas berat.


"Apa kamu ingin melihat anak laki-laki mu?"


"Tidak sekarang," Dimas melirih. "Tidak sampai... kita mendapat kabar."


"Baiklah."


"Sudah ada amak, mamamu dan Audrey disana tadi." Lanjutnya menatap iba pada Dimas.


Cukup lama mereka terdiam. Ia memandang Dimas. Pria itu menyesap kopi. Dimas tampak sangat lelah.


"Ayolah," Katanya. "Bayi mungil itu sangat mirip dirimu, adzan kan dulu."


.


.


.


Dimas


Ia tidak yakin apakah dirinya pantas bergembira mendapatkan anak lelaki sementara Sonia sedang berjuang antara hidup dan mati.


Tapi ia tahu ia akan jadi gila kalau tetap duduk di sini dan memikirkan semua itu. Paling tidak, bayi itu akan mengalihkan perhatiannya.


Ia menunduk memandang anaknya dengan kagum bercampur takut. Ia menghitung jari-jari tangan dan kaki mungil itu, membelai kepala sang bayi kemudian mengadzani nya.


Ia dapat melihat sosok Sonia dalam bentuk mata bayi itu, juga dirinya sendiri di dagu bayi itu.


Muhammad Al Fatih Prayoga...


Pandangannya mulai kabur ketika memikirkan hari, minggu, bulan, serta tahun-tahun dihadapannya. Kumohon Tuhan, pikirnya, jangan biarkan aku membesarkan anak ini seorang diri.


Empat jam kemudian...


Dokter Coltrain keluar mencarinya. Lelaki berambut kuning keemasan itu tampak sangat lelah.


"Sonia masih bertahan." Ucap dokter Coltrain padanya. "Kita akan mengetahui hasilnya dalam delapan jam."


Si dokter menarik nafas panjang. Pria itu memandangnya dan bicara dengan lembut, "Dalam delapan jam, Sonia akan bangun ---- atau tidak."


To be continue...


happy reading


Go menuju detik-detik episode terakhir...

__ADS_1


🤗🤗🤗🤗


__ADS_2