The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Dejavu


__ADS_3

Audrey


Ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang menjauh dari area cafe, meninggalkan Bayu yang masih terdiam disana, hatinya berdenyut. Walau Bayu jelas tidak ada dalam prioritas hatinya lagi, namun nama laki-laki itu memiliki ruang tersendiri disana, the first love never die.


Air matanya mengalir entah untuk apa, cepat-cepat ia menyusutnya dengan punggung tangan ketika telah sampai di Rooftop. Bergegas menaiki undakan anak tangga yang terasa makin tinggi dari biasanya itu.


"Dari mana saja?" Suara bass milik kak Galih benar-benar mengagetkannya tepat disaat ia ingin membuka pintu.


Pria itu duduk di gazebo, mengapa ia tak menyadarinya.


"Aku, a-ku baru pulang kuliah."


"Baru pulang kuliah?" Kernyitkan dahi kak Galih menatapnya tajam.


"Mampir sebentar ke toko komputer, ngambil laptop diinstal." Lanjutnya cepat, lebih terdengar seperti cicitan.


Sempat ia lihat laki-laki itu menghela nafas pelan, perlukah menceritakan tentang pertemuannya dengan Bayu, ah rasaya tak perlu, tapi ia salah...


"Ada yang kamu sembunyikan?"


"Tidak ada, tidak."


"Itu matamu seperti habis nangis."


"Hah, oh ini, hanya kelilipan tadi."


Kak Galih mengangguk, namun masih menatapnya lekat.


"Kenapa berbohong?" Ucap laki-laki itu datar.


Degg...


"Kakak tau kamu bertemu seseorang sebelum pulang kesini, siapa dia? Apa dia mantanmu? dia Bayu yang sering kamu sebut-sebut dulu? iya kan?"


Ia hanya diam, sempat terfikir tadi untuk tidak perlu menceritakan semuanya sebab memang tak penting, tapi sepertinya kak Galih sedikit salah paham.


"Maaf kak, aku pikir tidak terlalu penting diceritakan."


Kak Galih diam tak menjawab, hanya mendesah pelan, sambil menatapnya dalam, membuatnya makin merasa bersalah.


"Kamu tau Drey, hampir 80 persen lebih pasangan yang gagal adalah mereka yang tak bisa menjaga kepercayaan satu sama lain. Kepercayaan dan keterbukaan merupakan pondasi dari sebuah hubungan, tidak akan kuat sebuah hubungan jika rasa percaya dan saling terbuka tidak ada diantara keduanya."


Glekk,,, nafasnya tercekat...


Dari mana kak Galih tau, ya Tuhan.


"Maafkan aku kak, iya, tadi aku bertemu Bayu, dia, dia..."


"Kami minum di cafe tepat disamping toko komputer itu, ada sesuatu yang ingin dibicarakannya."


Lagi, kak Galih hanya diam dengan tatapan yang tak bisa dimengerti oleh nya.


"Bayu ingin kembali, aku menolaknya, ku katakan bahwa aku sudah mencintai orang lain, aku mencintai kakak dan akan menikah dengan kakak."

__ADS_1


Please kak, bicara...


Jangan diam seperti ini...


Matanya mulai berair mendapati kak Galih diam seribu bahasa.


"Maafkan aku ya, ya."


Ayo kak bicara, katakan apa saja...


Dan pertahanannya runtuh sudah, ia menangis memegang tangan sang kekasih, berharap ada kata yang keluar dari mulut pria itu. Ia jauh lebih senang melihat kak Galih yang marah, cemburu atau apalah ketimbang hanya mendiamkan nya seperti ini.


Namun detik berikutnya kak Galih meraihnya, memasukkan nya erat kedalam pelukan hangat lelaki itu. Ia pun membenamkan wajahnya pada dada bidang kepunyaan kak Galih sambil terus terisak.


"Jangan seperti ini lagi, berjanjilah untuk tidak pernah berbohong pada kakak, apapun itu, oke."


Ia mengangguk cepat, "Aku janji."


"Aku mencintaimu kak."


"Aku tau." Ucap kak Galih makin memeluknya, membelai pucuk kepalanya lembut dan menciuminya.


Entah berapa lama mereka seperti itu, hingga saling melepaskan diri. Kemudian kak Galih berpamitan pulang tanpa masuk ke rumah lagi.


.


.


.


Pukul 04.00 dini hari


"Hallo Assalamualaikum." Ia akhirnya memutuskan untuk menghubungi kak Dimas.


"Waalaikumsalam, ada apa Drey nelpon jam segini." Suara berat kak Dimas terdengar diujung telpon.


"Kak, bisa minta tolong. Nomor kak Galih gak aktif dari sore kemarin, dia ada di apartemen tidak ya?"


"Nanti coba kakak cek, kenapa? kalian ribut?"


"Tidak tidak, aku cuma khawatir, tidak biasanya nomor nya gak aktif selama ini."


"Baiklah, kakak cek ke apartemen nya, nanti kakak hubungi lagi."


Selang beberapa menit, ponselnya berdering, kak Dimas calling.


"Drey, Galih gak pulang ke apartemen deh kayaknya, apartemen nya kosong, atau mungkin tidur di Rumah Sakit, kebiasaan kan anak itu kalau lagi rame pasien, malas pulang dia."


"Oh, ya udah, makasih kak."


Hari telah pagi, tetap kak Galih tak bisa dihubungi, ditunggu sampai siang dan menjelang sore juga tetap tidak aktif membuatnya ingin menangis.


Kak Galih masih marahkah? bukannya ia sudah jujur, dan laki-laki itu tidak mempermasalahkannya, tapi ini apa? nomornya tidak bisa dihubungi terhitung dua puluh empat jam sejak kak Galih memeluknya kemarin sore.

__ADS_1


Dan ia kembali merepotkan kak Dimas, meminta bantuan laki-laki itu mencari kak Galih, informasi terakhir di dapat bahwa kak Galih mengambil cuti, ia tak ada di manapun, di Rumah Sakit, di klinik, dirumah orang tuanya, nihil.


"Kalian kenapa sih Drey?" Kak Dimas menyandarkan bahunya ke dinding Gazebo.


"Aku ketemu Bayu kak."


"Bayu? siapa? mantan kamu itu?"


Ia mengangguk pelan.


"Aku pikir masalah sudah beres, waktu aku jujur semuanya ke kak Galih, Bayu ngajak balikan."


"Ckkk, terus? kamu mau?" Jelas kak Dimas melayangkan tatapan tak suka padanya.


"Tidak, aku menolaknya, aku udah bilang, sudah katakan semuanya, kak Galih tidak apa-apa, kami baikan seperti biasa."


Hening, ia dan kak Dimas sama-sama terdiam.


"Galih punya trauma tentang menjalin hubungan. Dia pernah sangat mencintai seseorang, bisa dihitung laki-laki itu jatuh cinta, tidak tidak, dia hanya dua kali jatuh cinta."


"Pertama dengan Donna, adik angkatnya dulu dan kedua dengan kamu Drey. Dia hampir ingin melamar Donna waktu itu, segalanya sudah dipersiapkan, tepat didetik terakhir, Donna memutuskan untuk kembali pada mantannya."


"Dan sekarang, seperti dejavu, ia harus mendengar lagi kekasihnya bertemu dengan mantan yang ngajak balikan, mungkin Galih butuh waktu sendiri."


"Tapi aku udah bilang, aku menolak Bayu kak, kak Galih satu-satunya orang yang aku mau."


"Ada yang kamu sembunyikan?"


"Tidak ada, tidak."


"Itu matamu seperti habis nangis."


"Hah, oh ini, hanya kelilipan tadi."


Apa karena kak Galih melihat ia habis menangis, jadi laki-laki itu pikir ia masih menginginkan Bayu? tidak, tidak. Kakak salah kak, aku sama sekali tidak berniat kembali pada Bayu.


"Huaauaaaaa hiks hiks hiks." Pecah sudah tangisan nya, yang membuat kak Dimas kebakaran jenggot, panik tingkat dewa.


"Drey, ya Tuhan. Audrey please jangan nangis seperti ini." Kak Dimas mendekatinya, mencoba menenangkan dengan menggenggam tangannya.


"Huaaaaa aku sudah katakan hiks hiks, kenapa dia tidak percaya padaku hiks hiks."


"Sudah sudah, kita tunggu saja oke." Tepuk-tepuk kak Dimas pada punggung mungilnya.


"Mau ice cream atau cotton candy?" Tawar kak Dimas polos, yang membuatnya berhenti menangis dan mengeryitkan dahi dalam ke arah laki-laki itu.


"Ara kalau nangis dibujuk ice cream sama cotton candy langsung diam." Kak Dimas tersenyum salah tingkah.


Ya Tuhan, dia disamakan dengan gadis usia empat tahun, cckkk.


To be Continue...


Happy reading yaaa

__ADS_1


__ADS_2