The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Kelelahan


__ADS_3

Aurora


Memasuki kandungan bulan keenam, ia sudah bisa merasakan gerakan janinnya didalam sana. Terkadang ia tersenyum sendiri, meraba perutnya yang tampak menonjol. Yeah, she's enjoy with her pregnant. Namun tak jarang juga, ia merasakan kelelahan setiap saat serta kram di bagian kaki. Seperti malam ini, kakinya kram lagi.


Ia meringis menahan sakit sendirian, sambil mencoba mengelus betisnya di atas kasur. Hari sudah beranjak malam namun bukannya menghilang justru sakitnya makin menjadi. Ia mencoba menelpon Fatih, tapi tak ada sahutan. Akhirnya ia memilih meringkuk, tidak lagi diatas kasur, tapi di lantai yang ditutupi karpet bulu.


Kreeekkk....


Samar-samar ia mendengar suara pintu kamar yang dibuka.


"Astaghfirullah, Roraaa... Kenapa tidur dilantai nak." Mama Sonia berjalan tergopoh mendekatinya.


"Ma..?!"


"Ayo naik, jangan dilantai nanti masuk angin." Mama Sonia memapahnya hingga berbaring lagi ke atas kasur.


"Kaki Rora kram ma..." Rengeknya pelan.


"Tunggu disini." Mama Sonia keluar kamar, tak lama ia kembali lagi dengan membawa minyak but but yang sudah dihangatkan.


Perlahan kakinya terasa hangat dengan baluran minyak serta pijatan pelan dari mama Sonia diatas kakinya.


"Melihat kamu seperti ini, mama jadi ingat waktu dulu pas hamilnya Fatih. Mama juga sendirian waktu hamil, papa sedang ada diklat pejabat selama enam bulan. Pulangnya sekali-kali." Ujar mama Sonia.


"Resiko punya suami yang jam terbangnya tinggi, ya seperti itu, harus kuat ditinggal-tinggal. Terkadang sakit, maunya ada yang ngelus tapi suami entah ada dimana, kamu musti sabar ya."


Ia menanggapi mama Sonia dengan senyuman, "Abang dulu pernah tanya ke aku, sanggup tidak mendampinginya, menerima profesinya yang penuh resiko, yang mengharuskannya untuk tidak berada dirumah selama berminggu-minggu bahkan sampai satu bulan penuh. Aku waktu itu cuma diam. Yah, aku bingung harus jawab apa. Dinikahi abang aja, aku udah sangat bersyukur sekali." Tawanya kering.


"Maafkan aku ma. Seharusnya anak mama bisa mendapatkan gadis baik-baik, bukan gadis sepertiku." Tunduknya dalam sambil meremas ujung bantal yang dipegangnya.


"Huss... bicara apa. Jodoh, rezeki, maut sudah tercatat di Lauhful Mahfuz, kamu jodohnya ya sama Fatih, udah takdirnya seperti itu. Dengar, setiap orang pasti punya kesalahan, terlepas dari besar tidaknya kesalahan tersebut, tapi yang beruntung adalah dia yang mengakui kesalahannya kemudian bertaubat, beristighfar pada Allah." Tangan mama Sonia beralih menggenggam telapak tangannya erat dan hangat.


"Allah lebih menyukai seorang pendosa yang beristighfar lantaran mengingat dosanya daripada ahli ibadah yang merasa lebih baik dari yang lain hingga merendahkan sesamanya."


"Mamaa... hiks... hiks." Ia tak kuasa membendung air matanya, ditumpahkannya lah segala beban, rasa sesak yang menghimpit didada lewat bahu mungil mama Sonia, seorang wanita yang telah melahirkan suaminya itu.


"Allah akan tersenyum setiap melihat hambaNya beristighfar."©

__ADS_1


"Jadi perbanyaklah beristighfar, meminta ampun kepada Allah. Dia maha pengampun, sebanyak apa dosa kita, tetap Allah akan mengampuni, bahkan jika itu sebanyak buih di lautan sekalipun." Mama Sonia mengelus punggungnya pelan, membuatnya makin dalam menangis.


"Sudah malam, ayo tidur. Masih sakit kakinya?"


Ia menggeleng pelan, kemudian berbaring dengan mama Sonia ikut berbaring di sampingnya.


.


.


.


Seolah ada marching band yang tengah menabuh drum dikepalanya pagi itu. Rasanya begitu berat dan berputar-putar. Biasanya ia sama sekali tidak mual sejak tiga bulan terakhir. Tapi pagi ini perutnya seperti diaduk-aduk, dan ia mual hebat. Sebenarnya bukan pagi ini saja ia seperti ini, sudah hampir satu minggu, tapi pagi inilah yang terparah.


Dilihat dari dua selimut di atas kasur, dengan satunya sudah terlipat rapi, bisa ia simpulkan bahwa mama Sonia menemaninya tidur dikamar ini malam tadi. Tapi ia tidak perlu memikirkan itu sekarang. Sebab ia ingin muntah.


"Hoeekk...Hoeekk..." Cepat-cepat ia berlari ke kamar mandi.


Ya Tuhan, kenapa kepalanya berat sekali dan tubuhnya tak bertenaga seperti baru saja digilas truk bermuatan kelapa sawit.


"Ya Allah Rora, kamu sakit?"


Ia menggeleng pelan, "Cuma kelelahan ma."


"Istirahat dulu ya, mama ambilkan obat." Dan ia menutup mata saat mama Sonia menghilang dibalik pintu, kemudian kembali lagi dengan membawa roti gandum, air putih dan obat.


Sepeninggal mama Sonia, ia tidak benar-benar beristirahat, ia justru sibuk berselancar berkirim pesan dengan rekan ahli ginekologi sewaktu di Hokkaido dulu. Yah, sebagai seorang dokter, ia bukannya tidak peka dengan gejala-gejala aneh yang sering timbul memasuki hamilnya yang ke enam bulan ini, yang menurutnya bukan saja timbul dari efek kehamilan.


Dokter Haibarra, sang ahli ginekologi menyarankan nya untuk mengirim sampel darah ke bagian onkologi, what? bagaimana caranya. Jika masih di Hokkaido dulu, ini terdengar mudah baginya. Tapi ini di Jakarta, ia tidak banyak kenal dokter disini selain teman-teman papa. Dan itu mustahil, ia tidak ingin melibatkan papa, tidak sama sekali.


Kepalanya makin berdenyut memikirkan berbagai kemungkinan, yah. Setidaknya ia punya Fatih. Ia akan meminta bantuan sang suami untuk menghantarkan nya ke Rumah Sakit selepas Fatih pulang nanti, dan sekarang ia hanya perlu beristirahat.


.


.


.

__ADS_1


Sonia


Hari sudah hampir menjelang siang saat ia mengecek kondisi Rora untuk yang kesekian kalinya. Gadis itu masih tertidur lelap dan ia tidak tega membangunkan, pun saat terdengar bunyi ponsel.


Ponsel Rora berdering diatas nakas, namun gadis itu sama sekali tak terganggu. Dan ia mencoba meraih ponsel yang masih bergetar tersebut.


Byan calling...


Ia ragu untuk mengangkat, sampai panggilan berakhir dan ponsel berhenti bergetar. Ia mengembalikan ponsel ke tempat semula, namun tak lama ponsel berdering lagi, masih dengan orang yang sama. Mungkin penting, maka ia mengangkat telpon tersebut.


"Hallo Assalamualaikum."


"Waalikumsalam, Ra, bisa ketemu?" Suara seorang pria bernama kontak Byan terdengar diujung telpon, membuat jantungnya mencelos seketika.


"Maaf, ini bukan Rora, ini mamanya. Mama mertuanya. Ada keperluan apa ya?"


Tiba-tiba suasana menjadi hening, bisa ia tebak siapapun pria yang saat ini berada dibalik sambungan telpon, yang tengah menelpon istri anaknya itu sedang terkejut.


"Ma-af tante...Saya Byan temannya Rora. Roranya ada tan?"


"Rora sedang tidak enak badan, dia sakit. Jika ada perlu bisa diberitahu, nanti saya sampaikan ke Rora."


"Oh...Ti-dak, tidak ada tan. Maaf sudah mengganggu, Assalamualaikum."


"Waalikumsalam."


Tut... Tut...


Panggilan terputus, dan ia mengembalikan lagi ponsel Rora ke atas nakas, sambil otaknya sibuk menerka-nerka ada hubungan apa pria tadi dengan Rora. Setahunya kemarin, ayah bayi yang dikandung Rora sudah meninggal, jadi pria mana lagi ini, ya Tuhan Rora...


***To be continue


Happy reading ya....


Ket:


© Kutipan ceramah ustadz Hannan Attaki***.

__ADS_1


__ADS_2