The RoofTop Girl

The RoofTop Girl
Bayi Audrey


__ADS_3

Tiga bulan kemudian...


Audrey


Bulan Maret tiba dengan udara hangat yang tidak biasa, dan bayi Audrey dijadwalkan lahir dalam waktu dekat. Satu-satunya yang ia pikirkan saat ini adalah kelahiran bayinya.


Kak Galih, sang suami sekaligus dokter pribadinya telah memberi tanggal perkiraan lahir, ia akan lahiran normal mengingat kondisi bayi sehat, posisi yang bagus dengan presentasi kepala dibawah dan telah memasuki panggul.


Tepat pagi itu, ketika ia sedang memasak sarapan, ketubannya pecah, mengalir membasahi kaki hingga lantai.


Ia berdiri ditengah genangan air, menahan jeritan ketakutan, "Kak, kakak ketubanku pecah!!!"


Kak Galih yang saat itu tengah mengancingkan kemejanya berlari ke arah dapur.


"Jangan kuatir," Kak Galih tersenyum menenangkan membimbingnya duduk di kursi dapur dan mengambil dua handuk.


"Bayinya akan lahir, itu saja. Kita akan turun ke klinik. Jangan cemas, oke?"


"Oke," Ucapnya langsung tenang.


Pria itu meletakkan satu handuk di lantai dan membersihkan kakinya dengan handuk yang satunya.


"Siapkan ruang VK dibawah, istri saya mau lahiran." Suara kak Galih memberi instruksi pada pegawai kliniknya via telpon.


Pria itu membopongnya sambil tersenyum lebar sekali. " Ayo kita lahirkan anak kita," bisik kak Galih mengerling jahil.


Ia mengalungkan lengan dan menyurukkan wajah dileher suami, " Aku sangat bahagia kak!"


"Aku juga. Kamu sudah mulai kontraksi?" Tanya pria itu ketika tubuhnya mengejang dan mengerang saat digendong menuruni tangga.


"Ya!"


"Tarik nafas, sayang. Tarik nafas seperti waktu kita latihan kemarin, oke?" Kak Galih mencontohkan iramanya dan ia mengikuti, meskipun rasa sakitnya makin menjadi-jadi dan kontraksinya bertambah kuat setiap kali ia menarik nafas.


Kak Galih membopongnya ke brankar yang sudah disiapkan oleh bidan klinik dan mereka membawanya ke ruang persalinan serta membantunya bersiap-siap, sementara kak Galih memakai jubah dan masker.


"Bagus sayang, bukaannya sudah hampir penuh," Seru kak Galih saat pria itu sudah duduk di kursi pemeriksaan untuk memulai proses persalinan.


"Kepala bayi kita sudah hampir keluar. Dorong, sayang, ya bagus, dorong, prosesnya akan cepat!"


Kak Galih sendiri yang menyambut bayi merah mereka, bayi itu perempuan langsung ditangani nya dengan sangat profesional. Ia tak kuasa menahan tangis haru, akhirnya ia menjadi seorang ibu.


"Bayi kita perempuan sayang, cantik seperti dirimu." Bisik pria itu padanya.


"Terimakasih," Ia mencium kak Galih penuh cinta.


"Terimakasih," sahut kak Galih. "Karena mencintaiku. Karena memberiku si kecil yang berharga ini. Untuk segalanya." Mata pria itu berpendar. "Aku tak pernah berani berharap bisa sebahagia ini."


"Aku juga," sahutnya, tersenyum disela-sela tangisnya.


"Kakak ke Rooftop mengambil barang-barang mu."


"Oke," Ia tersenyum, sambil menyusui anak mereka. "Cepatlah kembali."


"Baik," Kata kak Galih. Pria itu memandangi putri mereka berlama-lama. " Kita akan menamainya apa? Bagaimana kalau Aurora?"


"Bagus juga." Ia mengangguk setuju.


"Untuk sementara Aurora dulu, nanti nama belakangnya kita pikirkan lagi." Kak Galih mencium kepalanya lembut.

__ADS_1


Tak lama pria itu benar-benar menghilang di balik pintu. Mengambil barang-barang yang sudah ia siapkan jauh hari, dan ia simpan di kamar.


Kembali ia pandangi sang buah hati, wajah mungil itu perpaduan antara dirinya dan kak Galih, tapi hidung dan mulutnya mirip suami, hidungnya mancung dengan bibir tipis namun bervolume.


"Terimakasih Tuhan, ini terlalu banyak, aku mendapatkan terlalu banyak..." Air matanya kembali tumpah. Tak menyangka hidupnya akan sebahagia ini.


Tepat tengah hari, uni Sonia dan kak Dimas datang, uni sudah memasakkan sup ikan yang masih hangat untuknya. Wanita itu dengan telaten menyuapinya makan setelah itu gantian menggendong bayinya.


Sementara kak Dimas dan kak Galih mengobrol diluar ruangan.


"Cantiknya..." Uni menatap lekat bayi mungil itu, bisa ia lihat ada tatapan mendamba disana.


"Uni, gimana? sudah ada kabar baik?" Ia memberanikan untuk bertanya.


"Udah telat dua minggu, tapi belum berani testpack."


"Udah jadi itu kalau dah telat. Siklus haid normal kan?"


Uni Sonia mengangguk pelan.


"Ya udah, apalagi. Testpack gih, biar cepat tau."


"Besok pagi aja." Gadis itu berujar. "Ibu dari Sidoarjo sudah dikabari?"


"Sudah, lagi dalam perjalanan kesini." Sahutnya senang.


"Mertua kamu?"


"Ayah saja, Medusa tidak ikut."


"Medusa, siapa?" Kernyitkan dahi heran uni Sonia padanya.


"Uni tau? mertua ku, ibunya kak Galih mirip sekali dengan Medusa, wanita berambut ular."


"Astaghfirullah, Audrey!!!" Uni Sonia membelalakkan mata membuat ia makin tertawa.


"Untung hanya aku yang punya mertua seperti itu, kalau uni yang dapat, bisa dipastikan akan seperti drama di channel ikan terbang, judulnya menantu yang teraniaya hahaaaaa."


"Ya Tuhan, Audrey... berapa banyak syaraf kamu yang putus setelah lahiran? kok jadi aneh gini?"


"Tanya ke kak Galih kalau itu." Kembali ia cekikikan.


.


.


.


Sonia


Sesuai saran Audrey, pagi-pagi sekali keesokannya, ia sudah menampung air seni yang pertama, menunggu air itu menyerap ke benda kecil yang ia letakkan disebuah cawan. Jantungnya berdetak tak karuan, seperti menunggu pengumuman hasil ujian.


Tak sampai satu menit, hasil sudah didapat, ada garis dua disana, membuat hatinya meletup-letup gembira, "Ya Tuhan, aku hamil. Aku tidak percaya..."


Cepat-cepat ia membangunkan kak Dimas yang masih bergulung di bawah selimut, persis beruang di musim dingin.


"Kak..."


"Hmmm..."

__ADS_1


"Bangun kak.."


"Sebentar lagi..."


"Bangun!!! ada sesuatu yang ingin kutunjukkan."


"Apa...?" Masih dengan mata terpejam.


"Aku hamil.."


"Baguslah..." Masih mode tidur. Namun detik berikutnya langsung terduduk, mata on siaga satu.


"APAAA?? HAMILL?"


Ia mengangguk antusias sambil mengangkat hasil testpack ke udara. " Aku akan jadi mommy seperti Audrey."


Namun kak Dimas diam mematung tanpa ekspresi.


"Kenapa? kakak tidak senang aku hamil?" Naikkan alisnya heran melihat pada sang suami.


"Bukan, bukan begitu. Hanya saja kakak takut." Kak Dimas memeluknya erat, erat sekali.


"Kakak teringat kejadian mama Ara dulu, terlalu mendadak, membuatku trauma akan kelahiran bayi."


"Pikiranmu terlalu jauh kak. Jodoh, rezeki, maut sudah ditetapkan, tak bisa ditentang."


"Aku tau, tapi tetap saja, aku cemas."


"Ahhh, kakak merusak mood ku." Bibirnya mengerucut.


"Tidak, tidak. Maafkan. Mari kita berjuang sama-sama, oke!!"


To be Continue..


Happy reading yaaa...


Terimakasih untuk like, komentar dan dukungannya, sehat selalu...


****************


**PROMO NOVEL BARUUU


Yukkk readers tersayang, mampir di novel baruku judulnya " Cinta Semusim."


Tentang apaan Thor? Seru gak?


Masih bergenre Domestic drama**,..


Tippy, sama sekali tak menyangka dalam perjalanan hidupnya, akan terjebak dalam sebuah cinta yang salah.


Tippy yang sejak dulu sangat tidak menyukai di duakan, ditigakan, diempatkan apalagi dibanyakkan membuatnya selalu berhati-hati, tak pernah sekalipun menyukai seseorang yang sudah dimiliki oleh orang lain.


Namun disebabkan jenuh oleh rumah tangganya, malah membuat Tippy terjebak dalam sebuah skandal perselingkuhan.


Mampukah Tippy mempertahankan keutuhan rumah tangganya bersama Harris???...


Yukkk mampir...


Tinggalkan jejak dengan like, komentar yaaah

__ADS_1


Terimakasih...


__ADS_2