
Audrey
Dia mengekori langkah dokter Galih visite menuju bangsal 11, dimana pasien dengan kasusnya berada disana pagi itu.
"Ini pasien mu kan?" sekilas dokter Galih melirik kearahnya dan diikuti anggukan bersemangat darinya.
"Iya dok pasien Solusio Placenta."
Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau keseluruhan plasenta dari implantasi normalnya (korpus uteri) setelah kehamilan 20 minggu dan sebelum janin lahir. Berdasarkan data di RS JMC pada tahun 2020 tercatat ibu yang mengalami solusio plasenta yaitu sebanyak 2 orang dari 99 kasus perdarahan.
"Apa hasil pengkajian mu?"
Dengan gesit dia mengambil kertas hasil pengkajian dan membacakan nya dihadapan dokter Galih.
"Hasil pengkajian data subjektif, Ny. P mengeluh nyeri perut pada bagian atas disertai mulas yang terus menerus semakin kuat, keluar gumpalan darah berwana kehitaman sejak pukul 04.30 WIB, belum keluar air-air dan ingin meneran. pada hasil pemeriksaan terdapat tegang pada perut ketika dipalpasi, DJJ 120 x/menit irreguler, teraba dingin pada bagian ekstremitas, terdapat pengeluaran gumpalan darah berwarna kehitaman kurang lebih 200 cc."
"Good girl, jadi analisa yang ditegakkan apa?" Dokter Galih menatap nya intens hingga tak elak membuat lulutnya gemetar hebat.
"Analisa yang ditegakkan adalah Ny. P G3P2A0 usia kehamilan 37 minggu 5 hari inpartu kala I fase aktif dengan Solusio Plasenta dan fetal distres dok."
Hufffhhh dia menghela nafas pelan saat mengucapkan kalimat terakhir, diliriknya sebentar dokter Galih yang menyunggingkan senyum padanya.
"Catat instruksi saya, lakukan pemasangan oksigen 3 liter, pemasangan infus RL 500 cc 20 tpm, pengambilan darah lengkap, lakukan CTG, injek ceftriaxone 5 cc melalui iv."
Mendadak Dia pusing mencatat instruksi dari dokter tampan itu.
"Maaf dok bisa diulang?" Ucapnya gugup.
"Nanti saya tulis ulang di status pasien." Dokter Galih beralih menuju pasien.
__ADS_1
Setelah mereka keluar dari bangsal, Audrey terus mengikuti sang dokter.
"Kenapa ngikutin saya?" Kernyitkan dahi heran melihat gadis itu mengekori nya.
" Eh iya, maaf dok." Audrey menyeringai salah tingkah.
"Tugas kamu oservasi kesejahteraan ibu dan janin serta observasi kemajuan persalinan di ruangan."
"Siap dok, permisi." Dengan langkah tergesa bercampur malu dia berbalik dan menuju ruangan pasien.
.
.
.
Pagi ini dia sungguh bersemangat sekali, senyum manis tak pernah lepas sedetikpun dari bibirnya, you know the reason? yang pertama karena laporan kasusnya berjalan lancar tanpa hambatan dan yang kedua adalah dia dapat ucapan semangat dari dokter Galih.
"Hahaaa, serius pas dokter Galih mau ke poli, kami sempat papasan gitu di koridor, terus dia bilang Semangat ya." Audrey berapi-api.
"Ke semua orang dia juga bilang gitu Kalee, kemarin aku dengar dia bilang Semangat ya ke OB rumah sakit." Loony mencibir.
"Hah apa iya?"
"Iya, dokter Galih kan Ji Cang Wook nya RS JMC yang terkenal ramah kesemua orang Drey, jadi jangan GeEr dulu ya non." Anggun menimpal.
Sontak senyum Audrey menguap menyisakan kerucutan bibirnya yang bisa dikuncir.
"Lagian juga, udah punya Bayu masih kegatelan." Suara Anggun lagi.
__ADS_1
"Hahaaaa... bahasanya ooyy, gak kuaat, daleem!"
"Gatel? Garuk!"
Enak aja
I'm DEFINITELY NOT that gatel !
Audrey menyingkir dari Konferensi Meja Bundar dadakan itu, meninggalkan Loony dan Anggun yang masih cekikikan mentertawakannya. Yup, konyol memang.
Namun saat pulang ke kosan, senyum dan semangat nya di Rumah Sakit tadi benar- benar hilang tak berbekas, baru saja ibu menelpon memberi kabar, sesuatu yang paling tidak ingin dia dengar.
"Maaf Drey, ibu tidak bisa ngirim bulan ini, gimana?"
"Gimana apanya buk, Audrey gak bisa hidup kalau gak ada kiriman."
"Terus gimana? Ibu sudah mikir, baiknya kamu berhenti kuliah aja ya, jujur ibu udah gak bisa ngebiayain lagi Drey."
Dia mendesah pelan, dadanya tiba-tiba terasa sesak, sudut matanya telah basah. Berhenti kuliah lantaran terbentur biaya adalah momok menakutkan yang dari dulu terus menghantuinya, dan sekarang kejadian.
Telpon terputus sepihak darinya, dia menangis sendiri di kamar berukuran 2x3 meter itu, menjadi orang miskin ternyata tidak enak sama sekali, dia harus menelan pil pahit mengubur cita-cita nya untuk menjadi pekerja profesional.
Tidak, tidak. Tiba-tiba dia terduduk, dia tidak boleh berhenti, ini tinggal dua semester lagi, setelah magang di Rumah Sakit, mereka magang di Rumah Sakit Jiwa, setelah itu mulai menyusun karya tulis, ujian skripsi, selesai.
Tapi untuk sampai kesana, berapa duit yang harus disiapkan, belum lagi biaya makan sehari, biaya bikin tugas, ongkos bolak-balik, Aaarrghhhhhh kepalanya terasa ingin pecah.
Jika dia memilih berhenti, dia hanya akan punya ijazah SMA, memang terlihat gampang, dia tidak perlu memikirkan biaya ini itu, cukup mencari kerja untuk lowongan tamatan SMA, Bayu juga masih menginginkan nya walau dia tidak sarjana, tapi tidak dengan keluarga laki-laki itu dia rasa.
Dia menghembuskan nafas keras, menggelengkan kepala, tidak, bagaimana pun caranya, dia harus tetap kuliah, harus, dia tak ingin berhenti ditengah jalan, bagaimana pun caranya.
__ADS_1
To be continue...
Happy reading...