
Sonia
Ini adalah telpon ke sepuluh dari kak Dimas yang mengabari bahwa pria itu akan keluar dari Rumah Sakit, terhitung dari malam tadi menelpon hanya untuk mengingatkan jangan sampai lupa menemaninya.
"Son, kakak pulang hari ini, jangan lupa datang ya, kalau bisa sekarang sih."
"Iya kak, ini lagi siap-siap."
"Yap, terimakasih, maaf merepotkan calon istriku."
Dan ia terpaksa harus mencibir kendati tak kan terlihat oleh pria itu, semakin hari kak Dimas semakin berani mencandainya. Telpon terputus, ia memasukkan ponsel kedalam tas selempang kecil lalu berpamitan pada amak.
Tak butuh waktu lama, ia pun sudah berada di area Rumah Sakit, kaki jenjangnya yang terbungkus rok plisket langsung melangkah menuju ruangan kak Dimas. Ia membuka pintu perlahan dan.
Degg...
Tak menyangka isi didalamnya ramai, laki-laki semua, ada sekitar lima orang, ia menunduk tak berani mendongak, situasi ini sungguh membuatnya ingin berbalik dan menghilang dari sana, tapi tidak mungkin, semua mata sudah menyadari keberadaannya.
"Sonia." Ucap kak Dimas sumringah.
"Ini teman-teman kakak dari Polsek." Lanjut pria itu dan ia hanya tersenyum kikuk.
"Sonia Adellia Putri." Sebuah suara muncul dari lima orang pria yang ada di sana, yang berdiri dekat bed kak Dimas, yang sontak saja akhirnya membuatnya mendongak menatap kelima pria itu.
Nyeess...
Elan..!
Elan juga menatapnya sambil menyunggingkan senyum. Who is Elan?, oh ya, ia pernah bercerita bukan, kalau dulu waktu di SMA, ada teman sekelas yang nembak terus diterima dan mereka sempat pacaran enam bulan, dan ini dia, Elan adalah cowok itu, cowok yang menyatakan cinta bertahun-tahun lalu kemudian mereka putus. Elan teman sekelasnya.
Ia menelan saliva dan cepat-cepat menunduk, gugup apalagi. Ya Tuhan, ia ingin menghilang dari ruangan ini segera. Bagaimana bisa Elan ada disini juga.
Kak Dimas menatapnya dan Elan bergantian.
__ADS_1
"Udah kenal sama calon bini abang Lan?"
"Iy bang, teman satu kelas pas SMA dulu." Elan sempat meliriknya sekilas.
"Ohh." Kak Dimas magut-magut.
'Calon bini', help me God...
Kembali ia hanya duduk salah tingkah di pojok ruangan, beruntung situasi itu tak berlangsung lama sebab kedatangan mama kak Dimas dan juga Ara kesana membuat cair suasana.
Sesekali dapat ia dengar obrolan para pria tersebut ditengah candaannya bersama Aran, mereka membicarakan penangkapan tersangka, apa tadi, mematikan puntung rokok di telapak tangan orang yang mereka tangkap.
Tubuhnya meremang, seketika ingatannya kembali pada abah. Abah dulu di sel hampir satu minggu sebelum dikembalikan sebab terbukti tak bersalah, namun kondisi Abah sangat memprihatikan ketika pulang. Mungkin orang-orang macam merekalah yang menyiksa abah, apa mungkin kak Dimas juga seperti itu.
"Dokter nya sudah visite belum?" Mama mendekati kak Dimas, hingga memecah pikirannya yang mulai melantur kemana-mana.
"Sudah, tinggal lepas infus sama ngambil obat pulang." Suara kak Dimas.
Ia berdiri, "Mana resep obatnya kak, biar aku yang ambil ke apotik."
Ia meraih lembaran kertas bewarna putih itu dan berjalan kearah pintu, tatapannya sekilas bersibobrok dengan Elan yang ternyata juga sedang memandangnya, cepat-cepat ia menunduk dan keluar ruangan.
Oh Tuhan, ada apa dengannya, sampai-sampai lupa dimana apotik, ia sudah terlewat jauh, seharusnya belok kiri pas ujung koridor tadi. Ia pun kembali berbalik arah, tepat di persimpangan koridor, netranya menangkap sosok Elan.
"Aku nyusulin kamu, ini ada yang tinggal." Elan memberikan secarik kertas resep padanya.
"Oh..."
Mereka jalan bersisian menuju apotik, sesuatu yang lama sekali, dulu mereka sering seperti ini waktu pulang sekolah.
"Jadi sudah lama kenal sama bang Dimas?"
"Hah, tidak.." Ia gelagapan.
__ADS_1
"Katanya tidak suka polisi, hmm."
Oh iya, ia lupa cerita kalau lepas dari SMA, Elan yang waktu itu baru menyelesaikan pendidikan pernah mendekatinya lagi, namun ia tolak mentah-mentah lantaran Elan yang memilih profesi polisi, lagi pun ia tak berminat pacar- pacaran, jadi kisah Elan Sonia end sampai disitu.
"Ohh, bang Dimas seorang Kanit Reskrim ya, jauh sama aku yang cuma Briptu."
"Elaan!!" Ia menghentikan langkahnya.
"Apa? benar kan? benci sama polisi cuma alasan saja. Aku mengerti, wanita mana yang bisa menolak pesona bang Dimas."
Ia mendesah frustasi, bagaimana menjelaskannya pada Elan, ia pun tidak tau bagaimana bisa akhirnya ia memilih kak Dimas. Bilang kalau ia cinta hahaaa, lucu sekali.
Ia berjalan cepat meninggalkan Elan dibelakang. Mereka tak saling bicara lagi hingga kembali ke ruangan kak Dimas.
.
.
.
Dimas
Ia bukannya tak tau Elan yang mencuri-curi pandang ke arah Sonia sejak kedatangan gadis itu ke ruangan. Tapi ia pikir, mungkin Elan adalah deretan secret admire nya Sonia, biasa kan anak SMA suka bikin istilah penggemar rahasia, atau bisa jadi juga masuk kategori cowok yang pernah ditolak oleh Sonia. Heehe poor of you Elan, gua yang dapetin Sonia. Maaf ya...
Namun ia mulai sedikit terusik kala Sonia menampakkan gejala yang tak biasa, gadis itu nampak sekali tidak nyaman, dan beberapa kali kepergok Elan dan Sonia saling bertatapan seolah ada hubungan tak kasat mata antara mereka berdua.
Ditambah lagi ketika kertas resep yang dibawa Sonia tertinggal selembar, dengan sigap Elan menawarkan diri untuk menyusul gadis itu. Kalau sudah begini, masih bisakah ia tenang-tenang saja? Sepertinya tidak.
Ia mulai gelisah, Elan dan Sonia berdua di luar sana, apa yang mereka bicarakan,,oouch shiit. Tidak- tidak, Elan bawahannya yang setia, mana mungkin laki-laki itu berani menikung nya bukan, tenang Dimas. Pikiran mu terlalu liar.
Netranya dengan cepat mengarah ke pintu masuk dilihatnya sosok Sonia muncul dengan Elan dibelakang, ekspresi mereka berdua kusut, seperti pasangan yang habis berantem, membuatnya bertambah curiga. Elan mesti ditatar dulu nih...
To be Continue
__ADS_1
Happy reading ya guys...